Feature

Pasar Terapung Lok Baintan: Antara Barter, Pantun, dan Tradisi yang Mengakar

161
×

Pasar Terapung Lok Baintan: Antara Barter, Pantun, dan Tradisi yang Mengakar

Sebarkan artikel ini
Pasar Apung
Pasar Terapung Lok Baintan adalah pasar terapung tradisional yang berlokasi di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar (tagar.co/Ichwan Arif)

Aktivitas perdagangan dimulai pukul 06.00 pagi. Pedagangnya didominasi perempuan dengan memakai tutup kepala (tunggui). Mereka menjual berbagai dagangan, seperti sayur-mayur, buah-buahan, kue-kue tradisional, hingga suvenir

Tagar.coPasar Terapung Lok Baintan adalah pasar terapung tradisional yang berlokasi di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan bagian penting dari budaya perdagangan di Kalimantan Selatan.

Provinsi Kalimantan Selatan sendiri memiliki sungai-sungai indah yang menghubungkan antarwilayah. Sungai-sungai ini berdampak besar pada kehidupan penduduknya, terutama dengan munculnya pasar tradisional di atas sungai yang dikenal sebagai pasar terapung.

Kota Banjarmasin terletak di delta Sungai Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura, dikelilingi oleh sungai-sungai besar dan cabangnya yang mengalir dari utara dan timur laut ke barat daya dan selatan.

Pasar Terapung Lok Baintan 

Pasar Terapung Lok Baintan atau Pasar Terapung Sungai Martapura adalah sebuah pasar terapung tradisional yang berlokasi di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), Kecamatan Sungai Tabuk Banjar.

Secara umum, Pasar Terapung Lok Baintan tak beda dengan Pasar Terapung di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas perahu atau dalam bahasa Banjar disebut jukung yang menjual beragam dagangan, seperti hasil produksi pertanian/perkebunan dan berlangsung tidak terlalu lama, paling lama sekitar tiga hingga empat jam. Pasar terapung ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Banjar.

Baca Juga:  Dari Jalan Sehat hingga Bekam Gratis, Dakwah Sosial PRM Tritunggal Menguatkan Umat

Di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura, terlihat konvoi perahu menuju lokasi pasar terapung. Perahu ini milik pedagang dan petani dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan, di mana mereka akan memasarkan hasil kebun mereka di sana.

Untuk menuju pasar terapung Lok Baintan dari pusat kota bisa ditempuh dengan dua cara. Cara pertama menyusuri Sungai Martapura dengan menggunakan kelotok, sejenis sampan bermesin.

Dengan perahu kelotok, perjalanan dari pusat kota bisa membutuhkan waktu 1 jam. Cara kedua dengan menggunakan kendaraan darat seperti mobil yang membutuhkan waktu lebih panjang yakni satu jam lebih untuk mencapai pasar terapung, mengingat medan perjalanan yang cenderung berat dan berliku-liku.

Berpantun untuk Menjual

Aktivitas perdagangan dimulai pukul 06.00 pagi sampai dengan pukul 09.30 WITA. Pedagangnya didominasi perempuan dengan memakai tutup kepala (tunggui). Mereka menjual berbagai dagangan, seperti sayur-mayur, buah-buahan, kue-kue tradisional, dan lain-lain. Di pasar terapung ini masih berlaku sistem barter, dan uang bukan merupakan alat transaksi utama di pasar terapung ini.

Baca Juga:  Siapkan Lomba Edukatif dan Kreatif, IPM Spemdalas Gelar Colorful Ramadan

Umumnya, dagangan yang akan dibarter adalah hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan. Besaran dan keberimbangan jumlah hasil barter tergantung kesepakatan antarkedua belah pihak. Jika sepakat, maka masing-masing akan mendapatkan barang sesuai keinginan dan selanjutnya digunakan untuk keperluan pribadi di rumah.

Lebih menarik pula, selain menggunakan sistem barter, pasar ini pula akan semakin ‘meriah’ ketika ada wisatawan yang mengunjungi mereka. Ketika perahu kelotok datang, maka perahu-perahu kecil akan mendekat untuk menjajakan makanan dan minuman ke wisatawan. Bahkan, suvenir pun dijajakan oleh mereka.

Para penjual akan menjajakkan makanan dan minuman ke penumpang perahu kelotok. Uniknya lagi, untuk menjajakan barang ke pembeli, penjual juga menggunakan pantun untuk menarik simpati pembeli. (#)

Jurnalis Ichwan Arif.