Cerpen

Air Putih Pak Umar

67
×

Air Putih Pak Umar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di sebuah kampung kecil di bawah pohon mangga, Pak Umar menolong banyak orang hanya dengan air putih dan doa. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersembunyi pelajaran tentang iman, kejernihan hati, dan kasih Tuhan yang bekerja dengan cara paling sederhana.

Cerpen oleh Qosdus Sabil

Tagar.co – Di kampung itu, setiap kali ada orang sakit, langkah mereka hampir selalu menuju ke rumah yang sama: rumah tembok sederhana di sebelah surau tua, di bawah pohon mangga.

Rumah itu milik Pak Umar—seorang yang, meski berilmu agama luas, tak pernah disebut kiai. Orang hanya memanggilnya Pak Umar, sebab ia orang Muhammadiyah.

Ruang tamu rumahnya kecil, berlantai ubin semen, tapi tampak selalu terjaga kebersihannya. Di atas meja, selalu ada kendi tanah liat berisi air putih.

Orang-orang datang membawa berbagai keluhan: sakit lambung, lumpuh, kecanduan, sampai gangguan batin. Mereka duduk rapi di ruang tamu, menunggu giliran.

Baca cerpen lainnya: Mbah Kasminah dan Bantal Kayu Langgar Al-Muhsin

Pak Umar biasanya tak bicara banyak. Ia hanya menunduk, membaca sesuatu dengan suara hampir tak terdengar, lalu menuangkan air dari kendi ke dalam gelas teko bawaan tamunya.

Baca Juga:  Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

“Minum dengan yakin, dan bacalah basmalah,” katanya pelan.

Entah sejak kapan kabar itu mulai menyebar. Katanya, setelah minum air dari Pak Umar, seorang ibu yang sakit jiwa sembuh dan mulai mengaji lagi di surau.

Ada juga kernet truk yang berhenti memakai narkoba, lalu ia datang menemui Pak Umar, meminta dirinya agar dinikahkan dengan gadis pujaannya.

Tapi kisah yang paling sering diceritakan adalah tentang seorang ibu yang sedang menunaikan ibadah haji. Ia mengalami datang bulan setiba di Tanah Suci. Sudah berobat, sudah minum obat penunda haid, tapi darah tetap deras mengalir.

Ia hampir menyerah—sampai seorang temannya memberitahukan keberadaan Pak Umar yang juga sedang berhaji. Ibu tersebut lalu menemui Pak Umar di maktabnya, meminta sebotol air dan doa. Ia kemudian meminumnya di tengah panas yang membakar.

Sore harinya, darah haid berhenti. Ia begitu gembira karena berkesempatan menyelesaikan semua rukun haji tanpa halangan.

Sekembalinya dari rangkaian wukuf di Padang Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lontar jumrah di Mina, ia datang menemui kembali Pak Umar dengan air mata haru.

Baca Juga:  Sepatu Tipis Pak Guru Sartono

“Itu cuma air biasa, Bu,” ujar Pak Umar sambil tersenyum. “Yang bekerja itu keyakinan Ibu sendiri.”

Namun, tidak semua orang bisa menerima penjelasan sesederhana itu.

Suatu hari, seorang mahasiswa datang dari kota. Ia membawa alat laboratorium kecil, hendak meneliti air dari kendi Pak Umar.

“Boleh saya uji kandungannya, Pak?” tanyanya sopan.

Pak Umar mempersilakan.

Air diambil sedikit, dimasukkan ke tabung kaca, diuji dengan teliti.

Hasilnya: H₂O murni.

Tidak ada zat tambahan, tidak ada mineral istimewa, tidak ada kandungan medis apa pun.

Mahasiswa itu menatap Pak Umar dengan pandangan ragu.

Pak Umar hanya berkata, “Air itu seperti hati. Kalau jernih, ia memantulkan cahaya. Kalau keruh, ia hanya memantulkan bayangannya sendiri. Mungkin yang menyembuhkan itu bukan airnya, tapi kejernihan hati orang yang meminumnya.”

Sejak malam itu, mahasiswa tersebut berhenti mencari rumus untuk setiap keajaiban. Ia mulai belajar bahwa antara iman dan ilmu, kadang yang membedakan hanyalah kesediaan untuk percaya.

Waktu berlalu. Kampung itu tetap sederhana seperti dulu: jalan makadam yang berdebu, masjid kecil di dekat rel kereta, dan suara azan Magrib yang menggema sampai ke pinggir desa.

Baca Juga:  Celana Robek, Hati yang Dijaga

Sementara di rumah sebelah surau tua itu, kendi tanah liat Pak Umar tak pernah benar-benar kosong. Orang datang dari berbagai tempat, membawa botol kosong dan harapan penuh.

Ada yang sembuh, ada yang belum. Tapi setiap orang yang pulang membawa sesuatu: ketenangan yang sulit dijelaskan.

Suatu sore, seorang bocah bertanya pada ibunya, “Bu, kenapa air dari Pak Umar bisa menyembuhkan?”

Sang ibu tersenyum.

“Mungkin karena Pak Umar tidak pernah percaya bahwa dirinya bisa menyembuhkan siapa pun.”

Di beranda, Pak Umar sedang menjemur kasur, menatap langit jingga yang mulai runtuh di balik pohon mangga. Ia tahu, air itu hanyalah air.

Tapi ia juga tahu, di antara butiran bening itu, kasih sayang Tuhan sering dicurahkan kepada semua hamba—dengan cara yang sangat sederhana… (#)

Ciputat, pagi yang cerah, 18 Jumadilawal 1447/9 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni