Cerpen

Mesin Uang yang Tak Pernah Hidup

33
×

Mesin Uang yang Tak Pernah Hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Bima mengira hidup adalah tentang membuat uang terus berputar. Tapi ketika pesan dari adiknya datang terlambat, ia baru sadar: yang seharusnya bekerja bukanlah uangnya, melainkan hatinya yang lama tak hidup.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Bima dulu percaya bahwa rahasia hidup adalah membuat uang bekerja tanpa henti. Ia menabung, berinvestasi, dan membangun bisnis seperti merakit mesin raksasa yang terus berputar.

Tapi hidup punya cara sendiri untuk menertawakan kesombongan manusia. Karena pada akhirnya, Bima sadar: bukan uang yang perlu bekerja, melainkan hatinya yang perlu hidup kembali.

Bima menatap buku catatan tebal di hadapannya. Angka-angka, tanda panah, dan skema aliran uang memenuhi setiap halaman, seperti sungai bercabang yang tak pernah berhenti mengalir. Ia sering berkata pada dirinya sendiri, “Uang itu seperti air. Kalau berhenti mengalir, ia membusuk.”

Baca cerpen lainnya: Notifikasi dari Alam Sana

Di layar laptopnya, deretan grafik investasi bergerak naik-turun. Di sisi lain, notifikasi pesan masuk dari adiknya, Mira, dibiarkan tak terbaca. Sudah tiga hari ia menunda menjawab. Ia tahu isinya pasti sama: ajakan menjenguk Ibu di kampung. Tapi Bima selalu punya alasan: rapat investor, tender proyek, rencana ekspansi.

Ia tersenyum tipis sambil menghapus notifikasi itu. “Nanti, setelah semua ini beres,” katanya pelan.

Beberapa tahun terakhir, hidupnya memang seperti kompetisi maraton. Sejak berhasil menjual startup-nya, Bima berubah jadi sosok yang rakus waktu. Ia tidak lagi menghitung hari dengan kalender, melainkan dengan laporan keuangan.

Baca Juga:  Setia yang Tidak Pernah Sepi

Ia membangun jaringan bisnis, membeli aset, menaruh dana di beberapa proyek. Ia bangga menyebut dirinya “manajer arus uang”. Setiap rupiah baginya adalah prajurit yang harus bekerja di medan tempur ekonomi.

Namun di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang ia abaikan: dirinya sendiri.

Setiap malam, di balik layar komputer yang masih menyala, Bima sering menatap kosong ke arah jendela. Di luar sana, Jakarta larut dalam cahaya lampu dan klakson panjang.

Tapi di dalam dadanya, ada ruang kosong yang semakin lebar. Ia tak pernah benar-benar mengerti rasa itu—seolah mesin yang ia bangun berjalan sempurna, tapi tak menghasilkan apa-apa selain kebisingan.

Suatu pagi, kabar itu datang seperti hantaman keras. Pesan dari Mira: “Mas, Ibu kritis. Kalau bisa pulang sekarang.”

Bima menatap layar ponsel tanpa ekspresi. Tangannya bergetar pelan. Ia menatap jadwal meeting yang padat, tiket pesawat yang mahal, dan rapat dengan investor yang sudah menunggu.

Lalu, seperti kebiasaannya, ia memilih menunda. “Nanti sore aku pulang,” jawabnya singkat.

Namun, takdir tak menunggu. Dua jam kemudian, pesan baru muncul:
“Ibu sudah nggak ada, Mas.”

Waktu berhenti sejenak di hadapannya. Semua angka di layar terasa absurd. Semua rencana kehilangan makna. Ia mencoba membaca ulang pesan itu berkali-kali, berharap ada kesalahan ketik. Tapi tidak ada.

Baca Juga:  Doa untuk Memperindah Akhlak

Ibu sudah pergi. Tanpa sempat ia genggam tangan tuanya. Tanpa sempat mendengar suaranya lagi.

Di perjalanan menuju kampung, Bima menatap kosong keluar jendela mobil. Di kepalanya berputar ratusan kalimat yang dulu pernah ia abaikan—pesan-pesan singkat dari Ibu:

“Jangan lupa makan, Nak.”

“Kapan pulang?”

“Ibu doakan usahamu lancar.”

Ia baru sadar, di antara ribuan transaksi yang ia lakukan, doa Ibu adalah satu-satunya hal yang tak pernah berhenti mengalir padanya tanpa pamrih.

Ketika sampai di rumah, aroma bunga melati bercampur tanah basah menyambutnya. Ibu sudah terbaring tenang, wajahnya seolah tersenyum.

Di sisi jenazah, Mira menyerahkan sebuah buku kecil. “Ini catatan Ibu. Ibu titip untuk Mas.”

Bima membuka lembar pertama. Tulisan tangan Ibu rapi dan halus:
“Hidup bukan tentang seberapa cepat kamu mengumpulkan uang, Nak. Tapi seberapa tenang kamu menjalaninya.”

Ia menutup buku itu dengan tangan gemetar.

Dua bulan kemudian, proyek besar yang selama ini ia banggakan gagal total. Investor menarik dana, harga tanah anjlok, dan beberapa mitra hengkang. Bima kehilangan hampir separuh kekayaannya hanya dalam waktu singkat.

Tapi anehnya, ia tidak panik. Tidak seperti dulu. Ia justru duduk di teras rumah kampung, menatap sawah yang menghijau. Di tangannya, buku catatan Ibu terbuka pada halaman baru—kosong, hanya ada satu tulisan kecil di pojok:

Baca Juga:  Ramadan Datang, Sudahkah Batin Kita Siap?

“Hati yang tenang lebih kaya dari dompet yang penuh.”

Bima tersenyum. Ia menulis di bawahnya:
“Untuk pertama kali, aku ingin uangku diam.”

Sejak hari itu, Bima mengubah hidupnya. Ia menjual sebagian aset, menutup beberapa bisnis, dan membuka perpustakaan kecil di kampung.

Buku-buku finansial yang dulu ia baca kini bersanding dengan kitab, novel, dan buku doa. Anak-anak datang setiap sore. Mereka membaca, bermain, belajar menggambar.

Suatu sore, seorang bocah kecil menghampirinya.
“Om, uang Om banyak, ya?” tanyanya polos.

Bima tersenyum. “Sekarang tidak terlalu.”

“Terus, Om bahagia nggak?”

Bima menatap langit yang mulai jingga. “Sekarang, iya.”

Anak itu tertawa kecil. “Berarti uangnya di hati, ya, Om?”

Pertanyaan itu menampar sekaligus menyembuhkan. Ia hanya mengangguk, menatap jauh. Di dadanya, ada kehangatan yang lama ia lupakan.

Beberapa bulan kemudian, ketika ia menulis kembali di buku itu, seekor kupu-kupu hinggap di halaman. Angin sore berembus pelan, membawa aroma melati dari halaman belakang—aroma yang dulu selalu mengiringi doa Ibunya.

Ia tersenyum, lalu menulis pelan:

“Ternyata mesin uangku tak pernah hidup. Yang selama ini bekerja keras hanyalah tubuhku. Tapi kini, yang berputar bukan lagi uang, melainkan waktu yang penuh syukur.”

Bima menutup buku itu, menatap matahari terbenam, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar kaya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni