
Mengendarai truk TNI, mengenal pesawat tempur, hingga membungkus tempe sendiri—siswa Sekolah Kreatif Baratajaya belajar bahwa ilmu dan pengalaman bisa datang dari mana saja.
Tagar.co – Fajar belum sempurna menyingkap langit Madiun. Kabut tipis masih menggantung di kompleks Batalyon Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) 463 ketika suara lantunan doa subuh menggema, Rabu (5/11/2025).
Usai salat berjemaah yang dipimpin Ustaz Taufik Ibrahim, S.Sos.I., para siswa kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya peserta Outbound Learning bergegas kembali ke barak untuk bersiap menjalani petualangan hari kedua outbound mereka.
Pagi yang Penuh Semangat di Kopasgat 463
Agenda hari itu padat dan sarat pengalaman berharga. Setelah berkeliling kompleks Batalyon Kopasgat 463, anak-anak membersihkan diri dan menikmati sarapan sederhana namun penuh keceriaan.
Baca juga: Menapak Jejak Sejarah, Siswa Sekolah Kreatif Baratajaya Kunjungi Benteng Pendem
Tak lama kemudian, peluit tanda keberangkatan berbunyi. Hari itu mereka dijadwalkan mengunjungi Lanud Iswahyudi — pangkalan udara tempur strategis di wilayah timur Indonesia.
“Tujuan pertama kita hari ini adalah Lanud Iswahyudi. Di sana anak-anak akan belajar banyak tentang alutsista dan dunia kedirgantaraan Indonesia,” ujar Kopral Roni Setiawan, pelatih pendamping dari Kopasgat 463.
Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dan menjaga kebersihan selama kunjungan. “Ingat, jangan meninggalkan kotoran atau benda asing di landasan udara,” tambah Kopral Suranto dengan tegas.
Anak-anak menaiki truk TNI dengan wajah penuh semangat. Sepanjang perjalanan, lagu-lagu perjuangan terdengar bersahut-sahutan dari barisan siswa. Setibanya di Skyguard Legend Park Lanud Iswahyudi, mereka langsung terpukau. Di taman itu, berdiri megah deretan pesawat tempur yang pernah menjadi kebanggaan dirgantara Indonesia.
“Aku bangga bisa berkunjung ke Lanud Iswahyudi, bisa lihat pesawat perang dari dekat!” seru Mizwar Adofo Subrata, siswa kelas 5 Banu Musa, dengan mata berbinar.
Para pilot yang sedang bertugas pun menyempatkan diri menyapa dan berfoto bersama para siswa. Tawa dan decak kagum terdengar di setiap sudut taman — sebuah pengalaman belajar di luar kelas yang sulit dilupakan.

Belajar di Home Industri Tempe
Selepas dari Lanud Iswahyudi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Ngunjung, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. Di sana, mereka berkunjung ke home industri pembuatan tempe milik Ibu Endang Astuti.
Aroma kedelai yang direbus menyambut kedatangan para siswa, mengundang rasa penasaran akan proses di balik lauk sederhana yang akrab di meja makan mereka.
“Bahan utama tempe ini kedelai, kami memakai kedelai impor. Setelah direndam delapan jam, digiling, lalu diberi ragi sebelum dicetak menggunakan daun pisang dan koran,” terang Ibu Endang sambil memperlihatkan prosesnya.
Baca juga: Belajar dari Pabrik Brem Legendaris: Siswa Sekolah Kreatif Baratajaya Menyelami Tradisi
Industri rumahan yang dikelolanya merupakan usaha turun-temurun sejak masa Mak Dinah dan Mak Dirah — generasi pertama pembuat tempe di desa tersebut. Kini, usaha ini berkembang menjadi bagian dari binaan UMKM Desa Ngunjung.
Kunjungan ini makin bermakna karena siswa turut mencoba membuat dan membungkus tempe sendiri.
“Seru banget! Aku belum pernah bikin tempe langsung sebelumnya,” kata Nenggala Ali Regapatra, siswa yang akrab disapa Gala, sambil tersenyum lebar.
Sementara Zaimah dari kelas 5 Aldinawari menimpali, “Ini pengalaman baruku bikin tempe di pabriknya langsung. Seru banget!”

Penutup Hari yang Penuh Warna
Menjelang siang, rangkaian kegiatan hari kedua outbound Sekolah Kreatif Baratajaya berlanjut menuju pusat oleh-oleh khas TNI Angkatan Udara. Meski tubuh mulai lelah, semangat anak-anak tetap menyala.
Wajah mereka memancarkan kegembiraan—tanda bahwa hari itu bukan sekadar perjalanan, tetapi pelajaran hidup tentang kedisiplinan, kebanggaan, dan rasa syukur atas karya bangsa.
Outbound hari kedua pun ditutup dengan senyum yang masih tersisa dan kenangan yang akan lama melekat di hati mereka. (#)
Jurnalis Agus Mulyadi Penyunting Mohammad Nurfatoni












