Feature

Dongeng Kak Awa Meriahkan Festival Bulan Bahasa, Ada Lagu Spesial

40
×

Dongeng Kak Awa Meriahkan Festival Bulan Bahasa, Ada Lagu Spesial

Sebarkan artikel ini
Pendongeng Kak Awa meriahkan Festival Bulan Bahasa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik dengan kisah Siti Felositi dan Maryam. Anak-anak belajar pentingnya bahasa Indonesia sebagai pemersatu lewat lagu.
Kak Awa, sapaan akrab Fatwa Amalia dari Kampung Dongeng Gresik. (Tagar.co/Mar’atus Sholichah)

Pendongeng Kak Awa meriahkan Festival Bulan Bahasa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik dengan kisah Siti Felositi dan Maryam. Anak-anak belajar pentingnya bahasa Indonesia sebagai pemersatu lewat lagu.

Tagar.co — Sport Center Mugeb Primary School pada Jumat (24/10/25) tampak meriah. Suasana penuh keceriaan mewarnai seremoni pagi edisi spesial Festival Bulan Bahasa. Seluruh siswa kelas I hingga VI SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik itu mengikutinya.

Untuk perayaan istimewa ini, Mugeb Primary School mengundang seorang pendongeng, Kak Awa, sapaan akrab Fatwa Amalia dari Kampung Dongeng Gresik. Kak Awa membawakan kisah sarat makna yang langsung menarik perhatian.

Dengan gaya khasnya yang ekspresif dan lucu, Kak Awa sukses mencuri perhatian para siswa sejak awal penampilan. Ia membawakan sebuah cerita tentang kesalahpahaman akibat kendala bahasa. Kisah ini secara apik menggambarkan pentingnya menggunakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, dalam berkomunikasi.

Dalam dongengnya, Kak Awa menceritakan kisah Siti Felositi, seorang anak yang mengalami kejadian lucu sekaligus menegangkan karena perbedaan bahasa dengan tetangganya, Maryam, yang berasal dari Bandung.

Awalnya, Siti melihat anak perempuan di depan rumah tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Siti pun berusaha menyapa dengan mengucap salam dan menanyakan nama anak tersebut menggunakan bahasa Jawa.

“Assalamualaikum.. Sopo jenengmu?” ujar Kak Awa, menirukan Siti Felositi. Berulang kali Siti mengulang pertanyaannya, tetapi tidak kunjung mendapat jawaban. Siti Felositi pun kesal karena anak itu tetap diam.

Kak Awa lantas bertanya kepada para siswa, “Hukum menjawab salam apa ya teman-teman?” Para siswa kompak berteriak menjawab, wajib.

Malam harinya, lanjut Kak Awa, Siti Felositi mendengar suara perempuan tertawa seram dari arah rumah tua. “Ibu, suara apa itu? Menakutkan sekali,” tanya Siti Felositi kepada ibunya.

Kak Awa pun berpura-pura menjadi ibu dan menjawab, “Mana sih, ibu tidak mendengar apa-apa.”

Keesokan harinya, ibu memanggil Siti Felositi dan memberitahu dia, ada tetangga baru yang memberikan bubur ayam. Ternyata, tetangga baru yang memberikan bubur ayam itu adalah anak perempuan yang Siti Felositi temui kemarin. Siti pun menanyai anak tersebut mengapa ia tidak menjawabnya ketika bertemu.

Baca Juga: Jelajah Dunia Literasi: Beragam Petualangan Jurnalis Cilik Mugeb di OOTB

Pesan Persatuan dalam Kisah Siti dan Maryam

“Kenalkan, aku Maryam dari Bandung. Maaf, kemarin waktu kita bertemu itu aku tidak menjawabmu karena aku tidak mengerti bahasamu. Kalau semalam, aku latihan teater di rumah. Kebetulan peranku jadi hantu, jadi aku latihan tertawa seram,” ujar anak perempuan itu.

Ternyata, Maryam tidak memahami bahasa Jawa yang Siti gunakan. Akhirnya, mereka pun sepakat menggunakan bahasa Indonesia agar bisa saling mengerti dan berkomunikasi dengan baik.

Cerita yang sederhana namun sarat pesan ini membuat anak-anak sangat antusias. Tawa dan tepuk tangan sering terdengar di sela-sela dongeng. Kak Awa juga sangat komunikatif selama membacakan dongeng.

Di tengah penampilan, Kak Awa sering memancing interaksi dengan siswa, seperti menanyakan doa keluar rumah, hukum menjawab salam, jumlah rakaat salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, dan lainnya. Tidak hanya bercerita, Kak Awa juga memainkan ukulele sambil bernyanyi di sela-sela dongengnya, membuat suasana semakin seru dan hidup.

Menjelang akhir acara, Kak Awa menutup dongengnya dengan lagu berjudul Satu Bahasa tentang bahasa persatuan sebagai bagian dari isi Sumpah Pemuda yang ketiga. Siswa dan guru kompak bertepuk tangan sesuai irama lagunya.

Ia sekaligus memberikan penjelasan singkat tentang makna peristiwa tersebut. Yaitu bangsa Indonesia memiliki satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia.

Baca Juga: Rayakan Literasi, Empat Siswa Mugeb Meluncurkan Buku Bersama Niskala Kids Book Club

Begini lirik lagu ciptaan Fatwa Amalia:

28 Oktober itu tanggalnya 

Memperingati hari Sumpah Pemuda 

Kita bilang satu bangsa, satu bahasa

Satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke 

Bersatu dalam bahasa

Dari Sabang sampai Merauke 

Bersatu dalam bahasa, Indonesia 

Siswa antusias membaca buku dari Mobil Pintar Disperpussip Gresik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Mobil Pintar dan Bazar Amal

Kanaya Auxilla Shakeela Mecca, siswa kelas IV Camel, mengungkapkan antusiasmenya. “Seru banget! Kak Awa lucu dan ceritanya bikin aku jadi tahu kenapa bahasa Indonesia itu penting,” ujar Jurnalis Cilik Mugeb itu.

Ketua pelaksana Festival Bulan Bahasa 2025, Sayyidah Nuriyah, S.Psi, turut memberikan pandangannya. Ia menjelaskan, “Kegiatan Festival Bulan Bahasa ini memberikan pengalaman berharga bagi para siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik. Melalui dongeng yang menarik, anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga belajar tentang pentingnya bahasa persatuan dalam menjaga keharmonisan dan persaudaraan.”

Koordinator Literasi Mugeb Primary School ini berharap, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap bahasa pemersatu bangsa. Usai menyimak dongeng, anak-anak lanjut mengunjungi Mobil Pintar dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik yang sudah parkir di halaman sekolah.

Setelahnya, para siswa maupun guru terhibur dengan adanya bazar amal yang juga menyajikan live music. Para peserta ekstrakurikuler musik piawai memainkan drum, gitar, bass, dan keyboard. Suara siswa dan guru berpadu yang merdu pun mengalun di Mugeb Sport Center. Para siswa yang sudah membeli jajanan dan minuman di bazar duduk melingkar menyaksikan tampilan musik itu. (#)

Jurnalis Mar’atus Sholichah Penyunting Sayyidah Nuriyah