
Guru-guru MI Muhammadiyah 6 Sekapuk, Ujungpangkah, Gresik, mengikuti pembinaan penyusunan SOLO Taksonomi bersama Ria Pusvita Sari, M.Pd., untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendorong siswa berpikir lebih mendalam serta solutif.
Tagar.co – Ruang pertemuan MI Muhammadiyah 6 (Mimsix) Sekapuk, Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur, Selasa (28/10/2025), terasa lebih hidup dari biasanya.
Para guru berkumpul untuk mengikuti pembinaan peningkatan kompetensi pendidikan bersama Pengawas dan Pendamping SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Gresik, Ria Pusvita Sari, M.Pd.
Baca juga: Masalah Pendidikan Kita Bukan pada Kompetensi Guru
Materi yang diangkat bukan hal biasa: SOLO Taksonomi (Structure of Observed Learning Outcomes), kerangka berpikir untuk memperdalam pemahaman siswa. Yaitu: prestructural, unistructural, multistructural, relational, dan extended abstract.
Dalam paparannya, Vita, sapaannya, menjelaskan bahwa pendidikan juga mengenal strategi pemasaran. “Dalam memasarkan pendidikan, ada tiga hal penting: produksi, promosi, dan pemasaran,” ujarnya membuka pembinaan.
Menurutnya, produksi dalam dunia pendidikan berarti meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Karena itu, salah satu upaya strategis yang harus dilakukan guru adalah menyusun SOLO Taksonomi sebagai tolok ukur ketika mengajar, sehingga pemahaman siswa dapat berkembang secara bertahap dan terarah.
Pada sesi inti, Vita menampilkan visual “Pengalaman Belajar” di layar. Melalui grafis itu, ia menunjukkan bahwa setiap anak mengalami perkembangan pemahaman yang berbeda-beda: ada yang belum menangkap inti pelajaran, ada yang baru mampu menyebutkan satu informasi, hingga ada yang mulai bisa mengaitkan banyak konsep menjadi satu pemahaman utuh.
“Ini yang kita sebut tingkatan pemahaman dalam SOLO Taksonomi,” jelasnya. Tingkatan tersebut dimulai dari prestructural, ketika siswa belum memahami konsep sama sekali, lalu meningkat ke unistructural, di mana mereka mampu menjawab satu informasi yang diajarkan.
Selanjutnya multistructural, ketika anak dapat menyebutkan lebih banyak informasi namun belum mampu menghubungkan antar-konsep.

Vita menekankan bahwa guru harus mendorong siswa mencapai tahap relational, ketika mereka bisa menjelaskan makna di balik pelajaran dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih tinggi lagi, tahap extended abstract, menuntut siswa mampu menganalisis fenomena dan menghasilkan solusi.
“Kita ingin anak-anak tidak berhenti di tahap menghafal. Mereka harus naik kelas dalam cara berpikir — mampu mengaitkan pengetahuan, melakukan analisis, bahkan memberi solusi atas persoalan di sekitarnya,” tegasnya.
Menurutnya, perubahan kualitas pembelajaran dimulai dari desain yang matang. Guru didorong menyusun SOLO Taksonomi sebelum masuk kelas, agar proses belajar lebih terarah, terencana, dan menghasilkan pertumbuhan cara berpikir yang nyata pada diri siswa.
Pembinaan ini menjadi komitmen Mimsix untuk terus menguatkan peran guru sebagai kunci peningkatan mutu pendidikan dan melahirkan peserta didik yang berpikir mendalam serta solutif. (#)
Jurnalis Indah Purnama Sari Penyunting Mohammad Nurfatoni












