Feature

Masalah Pendidikan Kita Bukan pada Kompetensi Guru

24
×

Masalah Pendidikan Kita Bukan pada Kompetensi Guru

Sebarkan artikel ini
Ria Pusvita Sari dalam Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Kepemimpinan Pembelajaan STEM di GDM Sabtu 19 Juli 2025

Menurut guru bersertifikasi internasional STEM, Ria Pusvita Sari, akar persoalan pendidikan terletak bukan pada kemampuan guru, melainkan hilangnya daya untuk bersuara, merancang, dan memimpin perubahan dari ruang kelas.

Tagar.co – Sabtu pagi, 19 Juli 2025, aula Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik terasa hangat penuh semangat, meski waktu menujukkn pukul 13:15 WIB. Tiga kursi hijau tosca berjejer rapi. Bendera-bendera—dari merah putih hingga Muhammadiyah dan ortom—berdiri tegak di belakang panggung, seolah mengingatkan bahwa pendidikan bukan urusan sendiri, tapi bagian dari gerakan bersama.

Para kepala sekolah dan guru datang dari berbagai penjuru Kabupaten Gresik menjadi peserta Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Kepemimpinan Pembelajaan STEM. Ada yang datang berdua, ada yang membawa rombongan kecil dari sekolahnya. Mereka tidak datang untuk ujian atau akreditasi. Mereka datang untuk sesuatu yang lebih hakiki: mencari kembali makna kepemimpinan dalam profesi guru.

Baca juga: Guru Hebat, Kepala Unggul: Kunci Meningkatnya Kepercayaan pada Sekolah Muhammadiyah Gresik

Di acara yan diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik dengan dukungan penuh Pimpinan Daerah Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Gresik, ini seorang perempuan berbaju batik biru khas FGM berdiri tanpa podium. Ia bicara bukan seperti dosen, tapi seperti teman seperjalanan. Namanya Ria Pusvita Sari, M.Pd atau yang biasa dipanggil Bu Vita.

Baca Juga:  19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

Ia tidak membuka sesi dengan kutipan ahli atau grafik. Ia mulai dengan satu kalimat yang membuat ruangan sunyi: “Guru tidak bisa jadi single fighter lagi.”

Kalimat itu tak terdengar seperti kritik. Tapi seperti pelukan bagi mereka yang pernah merasa sendirian di kelas, mencoba metode baru tanpa tim, dan kembali ke titik nol karena tak ada yang mengawal.

STEM: Bukan Alat, tapi Jalan untuk Memimpin

Bagi Vita, STEM Learning Leadership bukan program pelatihan. Tapi kerangka berpikir yang memberi napas baru bagi guru untuk mengambil peran sebagai pemimpin pembelajaran.

Ia menjelaskan STEM bukan sebagai akronim kaku—Science, Technology, Engineering, Mathematics—tetapi sebagai cara guru untuk melihat dunia murid secara lebih konkret. Untuk mengajak siswa bertanya, menyusun solusi, dan melihat pembelajaran sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar kurikulum.

“STEM bukan alat mahal. Bukan laboratorium canggih. Tapi tentang keberanian bertanya: masalah apa yang terjadi di sekitar siswa, dan bagaimana menjadikannya sumber belajar,” kata Bu Vita.

Dalam pengalaman mendampingi guru-guru di Lamongan, dia melihat sendiri bagaimana dalam sehari, para guru bisa menyusun delapan rencana pembelajaran STEM mulai dari TK hingga SMP. Bukan karena mereka genius, tapi karena mereka diberi ruang.

Baca Juga:  Rajin Ibadah Bisa Gugur Jika Lima Hal Ini Tak Dijaga

“Kalau ada dua guru saja yang mau belajar bareng, itu sudah tim. Dari situ kepemimpinan bisa lahir,” ujarnya.

Pemimpin yang Tak Menunggu Instruksi

Kepala SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik 2019-2025 itu lalu bertanya retoris sambil menampilkan slide yang sederhana, tapi memukul tepat ke jantung persoalan pendidikan kita: “Masalah pendidikan kita”

“Masalah terbesar pendidikan bukan hanya rendahnya kompetensi guru. Tapi karena guru merasa tidak berdaya, tidak berani bersuara, dan tidak yakin punya ruang untuk belajar,” urai dia setelah berdialog dengan peserta.

“Mereka bukan tidak mampu. Tapi terlalu sering disuruh. Terlalu sering dianggap pelaksana, bukan perancang.”

Kepemimpinan pembelajaran, menurut Vita, bukan tentang siapa yang paling cerdas atau paling senior. Tapi siapa yang berani memulai. Berani mengajak. Berani merancang pembelajaran yang belum tentu sempurna—tapi bermakna.

Guru Muhammadiyah, Pemimpin yang Tumbuh Bersama

Di sesi selanjutnta,  Vita menyebut sosok yang ia maksud sebagai pemimpin pembelajaran sejati: guru Muhammadiyah.

“Guru Muhammadiyah adalah mereka yang membuka ruang belajar baru meski tidak ada perintah. Yang rela berbagi praktik baik meski tanpa insentif. Yang mencoba hal baru di kelas walau belum tentu berhasil,” ucapnya.

Baca Juga:  Seminar Internasional Olympicad 2026 Buka Jalan Kerja Sama Pendidikan Dunia

Itulah pemimpin: bukan karena jabatan, tapi karena tindakan. Bukan karena instruksi, tapi karena kesadaran.

Jalan Sunyi Menuju Sertifikat dari Amerika

Di awal sesi, Vita menyisipkan kisah yang membuat para peserta terdiam. Bukan karena dramatis, tapi karena nyata.

Lima bulan lamanya ia mengikuti program sertifikasi internasional STEM dari STEM.org Accredited Educational Experience, Amerika Serikat.

Ia mengikuti sesi in-on, daring dan luring. Dua kali ke Bandung, dua kali ke Surabaya, dan sisanya menyelesaikan modul dan tugas dari rumah. Ujian akhirnya membuat siapa pun meringis: delapan studi kasus pembelajaran harus diselesaikan dalam 60 menit. Ujian dimulai pukul 21.00 WIB—karena di Amerika masih pagi.

“Saya harus menjawab seolah-olah guru IPA SMP, padahal saya guru SD. Tapi harus tetap jawab,” kata pemilik nomor sertifikat STEM bernomor 35539762011 itu.

Dari 12 peserta, hanya 3 yang lulus. Semuanya guru. Bukan akademisi, bukan birokrat, bukan konsultan.

Dan Bu Vita tahu mengapa. Karena hanya guru yang benar-benar tahu bagaimana rasanya berdiri di depan kelas, membaca tatapan bingung siswa, lalu memutar otak mencari pendekatan yang paling bermakna. (*)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni