Feature

Titik Temu CSR dan Media Adalah Kepentingan Publik, Ini Misi Liputannya

48
×

Titik Temu CSR dan Media Adalah Kepentingan Publik, Ini Misi Liputannya

Sebarkan artikel ini
Titik temu CSR dan media adalah kepentingan publik. Maka sudah saatnya media memberi perhatian lebih kepada liputan inisiatif-inisiatif CSR. Apa saja misi liputan CSR?
Frans Surdiarsis (kanan) memaparkan materi Agenda Seting Kepentingan Publik dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat: Peran Media dan CSR. Titik temu CSR dan media adalah kepentingan publik (Tangkapan layar zoom GWPP -TBIG)

Titik temu CSR dan media adalah kepentingan publik. Maka sudah saatnya media memberi perhatian lebih kepada liputan inisiatif-inisiatif CSR. Apa saja misi liputan CSR?

Tagar.co – Journalism Felloship on CSR (JFC) 2025 Batch 2 kelas daring 4 menghadirkan praktisi media sekaligus Dosen Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Frans Surdiarsis. Topik materinya adalah Agenda Seting Kepentingan Publik dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat: Peran Media dan CSR.

JFC 2025 Batch 2 ini terselenggara atas kolaborasi Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dengan PT. Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Menurut Frans Surdiarsis, CSR telah menjadi salah satu pilar penting dalam aktivitas perusahaan modern. Namun media masih memperlakukan CSR sebagai urusan perusahaan, bukan urusan masyarakat.

“Pemahaman terhadap CSR, termasuk di kalangan wartawan, masih salah kaprah. Menganggap CSR sebagai bentuk kebaikan perusahaan kepada masyarakat. Ada kebutuhan untuk melaporkan CSR dalam cara yang lebih meaningful, dengan menempatkannya dalam konteks persoalan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Public Interest

Dia menegaskan, penting untuk menemukan titik temu antara CSR dan media. Keduanya bekerja di atas platform yang sama yaitu masyarakat atau society. Dan titik pijaknya sama yaitu public interest atau kepentingan publik.

Baca Juga:  600 KK Penyintas Banjir Sumatra Terima Bantuan TBIG

“Lalu apa yang perlu dilakukan?
Misinya adalah membawa CSR ke tengah atau mainstreaming. Media perlu memberi perhatian lebih kepada liputan inisiatif-inisiatif CSR. Selama ini berita CSR hanya di kolom ekonomi, dianggap hanya aktivitas perusahaan. Padahal jangkauannya mestinya lebih luas. Membawa CSR sebagai isu liputan yang penting,” ungkap mantan Kepala Litbang The Jakarta Post ini.

Strateginya, lanjutnya, adalah membopong dengan jurnalisme berkualitas. Apapun platformnya, jurnalisme berkualitas itu sesuatu yang tidak bisa ditawar. Jurnalisme berkualitas merupakan pondasi penting bagi alasan ideologis mengapa pers dibutuhkan.

Misi Peliputan CSR

Frans memaparkan, misi peliputan CSR, pertama, mengungkap duduk soal. Tugas utama liputan media tentang CSR adalah mengungkap arti penting setiap inisiatif CSR dalam konteks persoalan dan kebutuhan masyarakat terkait isu-isu sosial, budaya dan ekonomi.

“Misalnya, mengapa inisiatif rumah batik di Pekalongan itu penting. Maka kita lihat dalam konteks apa yang menjadi kebutuhan di Pekalongan. Kebutuhan situasi ekonomi, budaya, sosial dan yang lainnya,” papar mantan jurnalis dan editor Harian Duta Masyarakat ini.

Baca Juga:  Idulfitri di Bali, Ini 11 Lokasi Salat Id Muhammadiyah Bali 20 Maret 2026

“Bagaimana inisiatif mobile clinic itu penting dalam konteks pengentasan stunting. Jadi ketika kita menulis tentang CSR, harus berusaha untuk menangkap arti penting dari setiap inisiatif CSR, dalam konteks persoalan yang dihadapi masyarakat,” tambahnya.

Kedua, sambungnya, misinya adalah mendorong apresiasi inisiatif CSR dan inspirasi. Liputan memiliki misi mendorong apresiasi terhadap inisiatif CSR. Dan bagaimana inisiatif serupa dapat dikerjakan lebih luas oleh pihak lain atau scaling up.

“Jadi kita melakukan perubahan di satu tempat, dan kemudian perubahan yang sama bisa didorong untuk terjadi di tempat lainnya. Jadi pertanyaannya bukan mengapa TBIG melakukan inisiatif ini dan bukan itu. Tapi bagaimana TBIG melakukan sesuatu secara konsisten dan sungguh-sungguh, serta apa kira-kira perubahan yang dihasilkan,” jelasnya.

“Apresiasi ini merupakan infrastruktur mental yang diperlukan agar kerja-kerja kebaikan bisa tumbuh dan berkembang. Pastikan ada elemen atau jiwa ini dalam peliputan CSR,” imbuh Pak Frans – sapaan akrabnya.

Kerja Perubahan

Ketiga, misinya adalah menangkap perubahan. Dari inisiatif CSR itu sudah menghasilkan perubahan apa. Perubahan itu bisa dilihat dalam skala atau spektrum yang sangat luas.

Baca Juga:  Banjir Bandang Situbondo, 116 Rumah Guru dan Siswa Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Terdampak

“Perubahan skala mikro misalnya tingkat individu, level organisasi, level perusahaan. Juga perubahan skala makro di tingkat masyarakat. Jadi bisa kita simpulkan bahwa CSR sebagai kerja perubahan. Dengan demikian peliputan CSR adalah bagian dari kerja besar perubahan, karena itu media perlu menyampaikan konteks,” pesannya.

Dia menambahkan, liputan media terhadap CSR memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran publik, membangun reputasi perusahaan, dan mendorong praktik CSR makin baik.

“Isu CSR yang cenderung mendapatkan perhatian media, pertama, kepedulian dan keterlibatan perusahaan dalam mendukung Komunitas lokal melalui sejumlah inisiatif. Kedua, keterlibatan warga atau komunitas lokal. Dan ketiga, berbagai inisiatif yang dikerjakan warga sendiri,” jelas Tim Ahli Indeks Keterbukaan Informasi Publik Komisi Informasi 2021-2015 ini. (#)

Jurnalis Sugiran.