
Universitas Muhammadiyah Malang hadir di Timor Tengah Selatan lewat program P3M, mengedukasi siswa dan orang tua tentang makanan bergizi sekaligus menyumbang alat belajar dan posyandu.
Tagar.co — Suasana ruang kelas SD Inpres Soe pagi itu tampak berbeda. Puluhan siswa duduk rapi di kursi hijau, mata berbinar menatap ke arah seorang dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berdiri di depan.
Dengan penuh semangat, ia mengangkat buku bertajuk “STEM: Rahasia Telur Ayam”. Anak-anak menyimak dengan penuh perhatian, sementara di belakang terpampang spanduk besar bertuliskan Sosialisasi Program Penanganan Stunting dan Pendampingan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Momen itu menjadi potret nyata bagaimana Kampus Putih hadir membawa ilmu sekaligus harapan di Nusa Tenggara Timur (NTT), 30 September hingga 2 Oktober 2025.
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus yang berdampak bagi masyarakat. Melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM menghadirkan tim pakar ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca juga: Riset Mahasiswa UMM: Mberot Bisa Jadi Wadah Pendidikan Karakter
Kehadiran mereka ditujukan untuk memberikan edukasi tentang pentingnya makanan bergizi bagi siswa-siswi dan guru SD Inpres Soe. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 4 Oktober 2025, ini dipimpin langsung oleh Prof. Baiduri, M.Si.
Sejak awal, kehadiran rombongan UMM disambut hangat masyarakat setempat. Tarian bonet khas NTT dan senam tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat menjadi suguhan yang memeriahkan suasana. Prof. Baiduri bersama tim bahkan ikut menari, senam, hingga mencicipi sirih pinang—sebagai tanda penerimaan dan kebersamaan dengan warga.

Dukungan Konkret: Makanan Bergizi dan Alat Belajar
Tidak datang dengan tangan kosong, tim UMM membagikan makanan bergizi seperti susu, telur, buah, dan sayur kepada para siswa. Selain itu, buku cerita dan alat peraga pembelajaran STEM turut dihibahkan untuk menumbuhkan semangat belajar. Bagi posyandu, UMM juga menyerahkan perlengkapan penting, termasuk timbangan digital.
“Pengabdian ini menindaklanjuti informasi dari kementerian bahwa NTT merupakan salah satu wilayah dengan angka stunting tertinggi, khususnya di Timor Tengah Selatan. Karena itu, para profesor dan pakar hadir untuk memberikan kontribusi nyata dalam penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem. Dengan begitu, jargon Kampus Berdampak benar-benar kami jalankan, termasuk di NTT,” terang Prof. Baiduri.
Turut mendampingi dalam rombongan tersebut antara lain Prof. Yus Mochamad Cholily, Prof. Roro Eko Susetyorini, Dra. Roimil Latifah, M.Si., Dr. Beti Istanti Suwandayani, Dr. Arina Restian, dan Dr. Kuncahyono.

Edukasi Gizi untuk Siswa dan Orang Tua
Selain membagikan makanan, para pakar juga mengajak siswa untuk mengenali pilihan sarapan sehat. “Jangan sampai mereka terbiasa sarapan hanya dengan mie instan atau makanan dengan gizi rendah,” tegas Baiduri.
Orang tua dan anggota posyandu diajak berdiskusi tentang cara mengatasi stunting, termasuk mengenal potensi pangan lokal. Misalnya, jagung yang selama ini menjadi makanan khas setempat dapat diolah dan dikembangkan sebagai alternatif makanan bergizi untuk pertumbuhan anak.
Tim UMM juga menekankan pentingnya 1000 hari pertama kehidupan sebagai periode emas untuk mencegah stunting.
“Program ini tentu tidak berhenti di sini. Akan ada keberlanjutan pada bulan-bulan berikutnya, termasuk di sekolah-sekolah lain di Timor Tengah Selatan,” tambah Baiduri.

Harapan dari Sekolah
Kepala SD Inpres Soe, Yermia Haekase, menyampaikan apresiasi mendalam. Ia menuturkan, antusiasme siswa terlihat jelas dalam setiap rangkaian kegiatan, mulai dari penyuluhan gizi, mendengarkan dongeng, hingga penggunaan alat peraga pembelajaran.
“Ada 542 sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang juga membutuhkan dukungan dan bantuan serupa. Karena itu, kami berharap UMM dapat memperluas jangkauan pengabdian ini, mungkin dengan menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen),” ungkap Yermia.
Kegiatan P3M ini memperlihatkan sinergi nyata antara dunia kampus dan masyarakat. Di tengah tantangan stunting dan kemiskinan ekstrem, langkah kecil para profesor UMM di NTT menghadirkan secercah harapan: generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya. (#)
Penyuntign Mohammad Nurfatoni












