
Pulang menggondol harapan I, anak-anak Paskibra Drajasena Mumtas justru membawa pelajaran berharga: disiplin, kebersamaan, dan jiwa pantang menyerah.
Tagar.co – Ada yang berbeda di wajah-wajah belia anggota Tim Paskibra Drajasena SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) pada Sabtu malam, 27 September 2025.
Mata mereka sayu karena kurang tidur, tubuh pun letih setelah perjalanan panjang menuju SMP Negeri 21 Malang. Namun siapa sangka, dari kelelahan itu justru lahir semangat yang membara.
Mereka datang bukan untuk sekadar hadir, melainkan untuk berjuang di ajang Lomba Peraturan Baris Berbaris (LPBB) Singhasari Chapter III SD/MI sederajat tingkat Jawa Timur.
Baca juga: Langkah Kecil yang Menggema: Drajasena Mumtas Juara 1 Utama LPBB Se-Jatim
Selama dua pekan penuh, tanpa jeda, anak-anak ini berlatih keras. Panas terik, rasa bosan, bahkan tenggorokan yang serak tak mampu menghentikan aba-aba lantang sang Komandan Peleton, Namira Rizqia Azzahra. Di sisi lain, para pelatih—Muhammad Arief dan R.M. Rifky Erlangga Hadi Wijaya—membimbing dengan sabar.
Bagi mereka, latihan bukan sekadar soal fisik, tetapi juga menanamkan disiplin, kebersamaan, dan rasa percaya diri.
Tiba di lokasi lomba pukul 22.30, bukannya beristirahat, tim justru memilih gladi bersih hingga tengah malam. Mereka ingin memastikan setiap hentakan kaki terdengar serentak, setiap gerakan selaras sempurna. Tidur hanya sekejap, tapi semangat mereka tak pernah padam.

Dukungan Guru dan Orang Tua
Di balik perjuangan itu ada para guru dan pendamping yang selalu setia menemani. Tak kalah penting, para orang tua hadir duduk di teras sekolah, menatap penuh harap sambil berdoa lirih. Meski lelah, mereka percaya bahwa anak-anak sedang ditempa untuk menjadi pribadi tangguh, bukan sekadar peserta lomba.
Perjuangan tersebut berbuah harapan I. Rasa bangga bercampur kecewa menyelimuti suasana. Ada air mata yang menetes, tetapi para pelatih segera merangkul mereka. “Ini bukan akhir, ini baru jeda. Masih ada banyak kesempatan untuk berprestasi lagi,” ucap Muhammad Arief, menenangkan anak-anak asuhnya.
Kepala sekolah, M. Khoirul Anam, M.Pd.I, juga menegaskan rasa syukur atas capaian ini.
“Prestasi ini adalah hasil kerja keras dan semangat juang kalian. Jangan pernah menyerah, masih banyak medan laga yang menanti. Ingat, koma bukan titik akhir,” pesannya penuh makna.

Pelajaran yang Lebih Besar
Di tengah lelah, anak-anak justru pulang dengan pengalaman berharga: arti kerja keras, solidaritas, dan keteguhan hati. Mereka mungkin belum menggenggam piala tertinggi, tetapi sudah menorehkan sesuatu yang jauh lebih besar—jiwa pantang menyerah.
Tim Paskibra Drajasena Mumtas membuktikan, kemenangan sejati bukan hanya soal medali, melainkan tentang keberanian untuk bangkit, melangkah lagi, dan terus berjuang demi prestasi berikutnya.
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












