
Umar bin Khattab memanggul gandum sendiri demi rakyatnya yang lapar. Sementara itu, sebagian pemimpin kita hari ini justru sibuk menambah kenyamanan pribadi, bukan memikul beban rakyat.
Oleh Dr. Afan Alfian, S.IP., M.I.Kom.; Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lamongan, Jawa Timur,
Tagar.co – Suatu malam, Umar bin Khattab Ra., khalifah kedua umat Islam, berkeliling kota untuk memastikan keadaan rakyatnya. Ia mendapati sebuah keluarga yang menyalakan api, seakan-akan sedang memasak makanan.
Namun ternyata, yang direbus hanyalah batu, sekadar untuk menenangkan anak-anak yang menangis kelaparan.
Baca artilel terkait: Di Tengah Krisis, Rakyat Merindukan Pemimpin seperti Umar bin Khattab
Terguncang oleh pemandangan itu, Umar segera kembali ke perbendaharaan negara. Ia mengambil sekarung gandum dan memanggulnya sendiri di punggungnya.
Seorang pengawal yang menemaninya berkata, “Wahai Amirulmukminin, biarkan aku yang membawanya untukmu.”
Umar menjawab tegas :“Apakah engkau sanggup memikul dosaku di akhirat nanti? Biarkan aku yang membawanya, karena aku yang akan ditanya oleh Allah tentang rakyat ini.”
Maka berjalanlah seorang khalifah besar, pemimpin separuh dunia Islam, memanggul karung gandum di malam yang sunyi demi memastikan rakyatnya tidak kelaparan.
Pesan Moral
Kisah itu kini seakan jadi cermin retak bagi kita. Di satu sisi, ada Umar bin Khattab yang rela memikul karung gandum karena takut ditanya Allah tentang tanggung jawabnya.
Di sisi lain, kita melihat sebagian pemimpin masa kini justru lebih sibuk mengurus kenyamanan diri dan keluarganya daripada sungguh-sungguh memikirkan kesulitan rakyat.
Umar memilih memikul beban rakyatnya, sementara sebagian pemimpin kini justru menambah beban di pundak rakyatnya. Kontras inilah yang membuat kepercayaan publik kian menipis.
Pesan moralnya jelas: jabatan bukanlah sarana menambah kenyamanan, melainkan amanah untuk memastikan rakyat hidup layak.
Seandainya nilai yang dihidupi Umar bin Khattab benar-benar diikuti, sebagian pemimpin dan wakil rakyat kita akan merasa malu menambah fasilitas saat rakyat belum sejahtera. Bahkan, ia akan berlomba menjadi teladan dalam hidup sederhana, transparansi, dan solidaritas.
Jika seorang khalifah agung saja sanggup memikul gandum di malam hari untuk rakyatnya, tidakkah para wakil rakyat kita hari ini malu masih sibuk memperjuangkan tunjangan dan kenyamanan pribadi serta keluarganya? (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












