
SD Muhammadiyah 20 Surabaya, yang kini dikenal sebagai SD Kreatif, pernah menghadapi tantangan murid yang kian menurun. Transformasi yang berani membuat sekolah ini bangkit dan menjadi inspirasi bagi MI Mutwo Campurejo dalam kunjungan belajar mereka.
Tagar.co – Dengan penuh semangat rombongan MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik atau yang akrab disebut MI Mutwo, berangkat menuju Surabaya, Kamis (11/9/2025).
Usai kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathan (HW), empat guru—Moh. Zamroni, Evi Syafi’ah, dan Uswatun Hasanah, dan saya kepala madrasah—bergegas menumpang mobil MPV putih yang sudah disiapkan.
Baca juga: Ria Pusvita Sari Dampingi Guru MI Mutwo Susun Core Values Madrasah
Tujuan kamiadalah SD Muhammadiyah 20 Surabaya, lebih populer dengan sebutan SD Kreatif. Sekolah di Jalan. Tembok Dukuh Butulan No. 7, Kecamatan Bubutan, Surabaya, ini dikenal dengan konsep pendidikan berbasis kreativitas, memadukan akademik, keterampilan hidup, dan wawasan global.
Sekolah dengan Identitas Kreatif
Di bawah naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bubutan, SD Kreatif ini menghadirkan pembelajaran yang berbeda. Siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga dilatih berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkreasi.
Pendekatan ini diwujudkan melalui edutainment, pembelajaran multikultural, hingga program bahasa Jepang sejak kelas 4 dan 5. Sekolah juga rutin menggelar Cross Culture Jepang untuk memperkuat wawasan lintas budaya.
Prestasi sekolah ini pun menonjol. Tim Dokter Kecil SD Muhammadiyah 20 Surabaya pernah meraih juara 2 tingkat kota, sementara ekstrakurikuler jurnalistik ciliknya aktif menjuarai lomba video kreatif dan liputan berita.
Sekolah ini bahkan menjadi salah satu perwakilan swasta dalam program Sekolah Penggerak yang ditampilkan di Balai Kota Surabaya.
Kunjungan rombongan MI Mutwo ini bertujuan menimba pengalaman manajemen sekolah dan menggali inspirasi inovasi pendidikan yang bisa diadaptasi di Campurejo.

Menyusuri Jalan Sempit Menuju Sekolah
Pukul 12.00 WIB, kami tiba di lokasi. Rasa kaget muncul karena sekolah ini terletak di dalam perkampungan, dengan akses jalan yang hanya cukup untuk satu mobil kecil. Namun, sesampainya di halaman sekolah, sambutan hangat Kepala Sekolah Muhammad Ain, M.Pd.I., membuat lelah perjalanan seakan sirna.
Dia mengajak rombongan masuk ke ruang kepala sekolah, memulai perbincangan hangat yang penuh makna.
“Sangat senang dengan kehadiran bapak dan ibu guru dari MI Mutwo. Semoga ada hal positif yang bisa diambil untuk diterapkan di sana,” ujar Ain. Ia juga menegaskan keterbukaannya untuk berbagi dan bersinergi di lain kesempatan.
Transformasi Menjadi Sekolah Kreatif
Ain kemudian bercerita bahwa SD Muhammadiyah 20 Surabaya berdiri sejak 1973. Awalnya sekolah ini berjalan dengan pola pendidikan konvensional. Namun, seiring waktu, kualitas pembelajaran menurun dan jumlah murid merosot.
“Tahun 2003 menjadi titik balik. Kami sepakat melakukan transformasi besar. Lahirlah identitas baru: Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya,” kenang Ain.
Transformasi itu mengubah paradigma. Anak tidak lagi menjadi pendengar pasif, tetapi pusat pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi ruang bagi ide-ide siswa.
Prinsip inklusivitas pun ditegakkan: setiap anak berhak belajar, tanpa diskriminasi. Sekolah Kreatif menerima semua murid, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. “Kami percaya setiap anak adalah anugerah berharga. Mereka hadir dengan potensi unik yang harus dirawat dan dikembangkan,” tegas Ain.
Dengan filosofi itu, SD Muhammadiyah 20 Surabaya menjelma menjadi sekolah ramah anak, inklusif, dan menyenangkan. Sebuah lingkungan belajar yang memberi kesempatan sama bagi setiap siswa untuk tumbuh, berkembang, dan bahagia. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












