
Pendampingan Pengawas SD/MI Ria Pusvita Sari di MI Muhammadiyah 2 Campurejo membuka wawasan guru tentang SOLO Taxonomy dan pentingnya Core Values yang hidup dalam budaya belajar, sikap guru, hingga karakter siswa.
Tagar.co – MI Muhammadiyah 2 (MI Mutwo) Campurejo, Panceng, mendapat pendampingan khusus dari Ria Pusvita Sari, M.Pd,; Pengawas SD/MI Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik, Senin (8/9/2025).
Suasana belajar bersama itu menghadirkan nuansa berbeda: guru tak sekadar mendengar teori, tetapi ikut mengalami praktik pembelajaran mendalam.
Baca juga: Rabu Malam Penuh Cahaya di MI Mutwo: Tilawah Al-Qur’an Jadi Ekstrakurikuler Baru
Dalam sesi tersebut, Ustazah Vita—panggilan akrabnya—memperkenalkan konsep SOLO Taxonomy (Structure of Observed Learning Outcomes).
Kepala SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik itu menjelaskan bahwa pendekatan ini membantu guru memahami tingkatan kedalaman pemahaman siswa.
Ada lima level yang perlu diperhatikan: Prestructural (siswa belum memahami materi), unistructural (baru memahami satu aspek), multistructural (memahami beberapa aspek terpisah), relational (mampu menghubungkan beberapa aspek menjadi kesatuan), hingga extended abstract (mampu memperluas pemahaman ke konsep yang lebih abstrak).
“Dengan memahami tingkatan ini, guru bisa merancang pembelajaran yang tidak hanya berhenti di permukaan, tetapi benar-benar menuntun siswa mencapai pemahaman mendalam,” ujarnya di hadapan para guru.
Untuk memperkuat pemahaman, ia mengajak guru berlatih dengan media sederhana: kertas origami. Dari sekadar mengikuti instruksi, guru kemudian diarahkan hingga mampu mengembangkan kreativitas dan mengaitkannya dengan konsep baru.
Praktik itu membuat para peserta merasakan langsung bagaimana pembelajaran bertahap bisa mengantarkan siswa menuju pemahaman mendalam.
Nilai Inti Madrasah
Lebih jauh, Ustazah Vita menekankan pentingnya menjadikan SOLO Taxonomy sebagai pijakan dalam menyusun core values atau nilai inti madrasah. Nilai ini, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hidup dalam budaya belajar, sikap guru, karakter siswa, hingga keterlibatan wali murid.
“Core values itu ibarat roh madrasah. Kalau kita ingin pembelajaran mendalam, maka nilai-nilai inti harus kuat, sehingga anak-anak tidak hanya pandai menjawab soal, tetapi juga memiliki akhlak, kreativitas, dan kemandirian,” tegasnya.
Meski begitu, ia juga menyinggung tantangan yang harus dihadapi: menyatukan visi guru, menumbuhkan budaya refleksi, menyesuaikan nilai inti dengan kondisi pedesaan, serta melibatkan wali murid dalam ekosistem pendidikan.
“Core values itu tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus selaras dengan visi dan misi madrasah. Dengan begitu, nilai-nilai inti akan menjadi pedoman nyata bagi guru, siswa, dan wali murid dalam setiap langkah pendidikan,” tambahnya.
Saya sebagai Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, mengapresiasi pendampingan ini. “Pendampingan ini benar-benar membuka wawasan baru. Dengan pembelajaran mendalam berbasis SOLO Taxonomy, kami optimis dapat merumuskan Core Values madrasah yang mencerminkan ibadah, ilmu, akhlak, kreativitas, dan kebersamaan,” tuturnya.
Melalui langkah ini, MI Muhammadiyah 2 Campurejo bertekad menjadi madrasah yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk generasi berakhlak mulia dengan pemahaman mendalam yang bermanfaat bagi masyarakat. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












