Opini

Saatnya Presiden Prabowo Melengkapi Kabinetnya dari ICMI

25
×

Saatnya Presiden Prabowo Melengkapi Kabinetnya dari ICMI

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Kapal besar bernama Indonesia Emas 2045 sudah disiapkan Presiden Prabowo. Namun, perjalanan jauh ini butuh kru lebih dari sekadar politisi: dibutuhkan cendekiawan Muslim dari ICMI.

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Kabinet itu seperti kapal besar. Nahkoda boleh hebat, layar boleh megah, tetapi kapal hanya akan selamat sampai tujuan kalau awaknya lengkap dan paham arah.

Presiden Prabowo sedang menyiapkan kapal itu. Tujuannya jelas: Indonesia Emas 2045. Lalu, siapa saja awak yang mesti ada di dalamnya? Selama ini, kursi-kursi banyak diisi oleh perwakilan partai.

Itu wajar. Politik adalah bahan bakar awal perjalanan. Namun, untuk berlayar jauh, bahan bakar saja tidak cukup. Dibutuhkan peta, kompas, bahkan navigator yang tahu betul jalur laut internasional.

Baca juga: ICMI di Era Prabowo: Mitra Strategis atau Hanya Penonton?

Di titik ini, cendekiawan Muslim dari ICMI punya tempat yang tepat. Mereka bukan sekadar kumpulan orang pintar di ruang seminar. Mereka adalah penjelajah pikiran yang pernah membuktikan diri bisa membawa bangsa ini melintasi masa-masa transisi.

Baca Juga:  Detik-Detik Turunnya Surah Al-Mulk di Langit Sunyi Makkah

ICMI sejak lahir membawa identitas unik: modern, religius, sekaligus nasionalis. Mereka bisa bicara di kampus, tetapi juga dipahami di pesantren. Mereka menulis di jurnal ilmiah, tetapi juga turun ke desa. Ada semacam jembatan yang mereka bangun: antara agama dan ilmu, antara politik dan moral, antara negara dan masyarakat sipil.

Bukankah itu yang sekarang dibutuhkan?

Kapal besar Prabowo butuh teknokrat yang jernih, bukan hanya politisi yang lihai. Butuh penyambung moral umat, bukan sekadar pengumpul suara. Butuh pikiran jangka panjang, bukan hanya kalkulasi lima tahunan.

Menempatkan tokoh ICMI di kabinet, pada akhirnya, bukan semata urusan representasi. Itu soal kelengkapan kru kapal. Supaya layar tidak hanya kuat menantang badai, tetapi juga tahu di mana pelabuhan akan disinggahi.

Dan sejarah mencatat, bangsa ini pernah selamat dari guncangan karena ada peran besar cendekiawan Muslim.

Apakah kali ini sejarah akan kembali memberi peran itu? Semuanya kembali pada keberanian sang nakhoda. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…