Feature

Berita Itu Pilih Kejadian Penting dan Menarik

72
×

Berita Itu Pilih Kejadian Penting dan Menarik

Sebarkan artikel ini
Berita itu mengandung unsur penting dan menarik. Apa saja tolok ukur suatu kejadian dianggap penting dan menarik? Apa saja aspek yang menentukan peristiwa itu penting dan menarik?
Berita itu adalah kejadian atau peristiwa yang penting dan menarik. Nurcholis MA Basyari saat zoom Journalism Fellowship on CSR 2025 Batch 2 (Tangkapan layar zoom GWPP – TBIG)

Berita itu mengandung unsur penting dan menarik. Apa saja tolok ukur suatu kejadian dianggap penting dan menarik? Apa saja aspek yang menentukan peristiwa itu penting dan menarik?

Tagar.co – Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) berkolaborasi dengan Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali memberikan pelatihan kepada wartawan untuk meningkatkan profesionalitas. Wartawan profesional itu memiliki keterampilan dan pengetahuan jurnalistik, serta menjunjung tinggi etika profesi, yakni Kode Etik Jurnalistik.

Kegiatan bertajuk Journalism Fellowship on CSR 2025 Batch 2 ini dimulai pada Senin (1/9/2025). Sebanyak 13 wartawan media siber se-Indonesia mengikuti sesi pertama melalui Zoom. Materinya adalah Proses Perencanaan, Pengumpulan Bahan, dan Produksi Berita/Konten.

Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari dalam paparannya menyampaikan, peristiwa, problematika dan kejadian di masyarakat sangat banyak. Mulai bangun tidur sampai dengan tidur lagi, sangat banyak peristiwa yang terjadi.

“Dulu alasan kita menyaring peristiwa yang layak menjadi bahan liputan berita itu karena keterbatasan. Media cetak awal-awal hanya 12 halaman, sekitar tahun 1970-1990. Kemudian lambat laun bertambah, menjadi 16, 24, 32 halaman. Jadi betul-betul disaring berdasarkan nilai berita. Mana yang layak muat karena keterbatasan space atau halaman koran,” ujarnya.

Baca Juga:  LKBN Antara di Tengah Badai Informasi

Tetapi sekarang, lanjutnya, spacenya tidak terbatas, terutama media online atau media siber. Kalau televisi lebih terbatas lagi. Berita di televisi rata-rata sekitar durasi 60 detik. Paling lama 3 menit untuk yang feature. Bahkan ada yang tidak sampai 1 menit, sekitar 30-45 detik. Akan lebih terbatas lagi jika bukan televisi berita.

Nilai Berita 

Oleh karena itu ada saringan, yaitu nilai berita. Yang pada dasarnya nilai berita itu hanya ada dua. Apa yang layak kita liput dan muat? Yang kita liput sesuai yang kita prediksi atau rencanakan, kemudian layak dimuat.

Dia menjelaskan, unsur nilai berita adalah penting dan menarik. Penting itu menyangkut hajat hidup orang banyak atau public interest. Akan lebih kuat lagi layak liputnya itu penting dan menarik. Kalau salah satu saja yang terpenuhi sudah bagus.

“Kalau peristiwa atau kejadian itu menyangkut hajat hidup orang banyak maka harus kita masukkan dalam prioritas untuk kita liput. Tentu nanti ada kriterianya juga. Menarik itu memuaskan keingintahuan orang atau pembaca, pengakses, penonton, atau pemirsa kita,” ungkapnya.

Baca Juga:  LKBN Antara di Tengah Badai Informasi

Apa bedanya penting dan menarik itu? Tolok ukurnya sederhana. Sesuatu itu penting, kalau pembaca kita rugi jika tidak membaca berita itu.

“Misal ramai-ramai jalan ditutup akibat dampak kerusuhan. Kalau seseorang tidak membaca, maka bisa jadi ketika sudah terlanjur melangkah tapi kemudian ternyata salah. Jalan itu sudah tidak bisa dilewati, padahal kemarin masih boleh,”

“Akibatnya, terutama di kota besar, itu muternya bisa lebih jauh lagi, atau terkena tilang. Konsekwensi lain menjadi terlambat, yang akhirnya banyak konsekuensi lain yang menyertainya. Baik sebagai masyarakat, pelajar, pelaku bisnis, maupun pengambil keputusan,” tambahnya.

Kalau menarik itu, sambungnya, jika pembaca melewatkan, tidak membaca maka tidak rugi. Tetapi kalau membaca atau mengakses maka menjadi untung. Untung karena mungkin merasa terhibur, atau mendapatkan pengetahuan baru yang sifatnya bukan esensial.

“Misal ditemukan cara baru menambal ember bocor di rumah. Mungkin bisa masuk kategori penting, tapi bagi beberapa orang dianggap menarik saja,” ujar alumnus S-2 Komunikasi Universitas Indonesia ini.

Delapan faktor penentu nilai berita (Tangkapan layar zoom GWPP -TBIG)

Faktor Penentu Nilai Berita 

Menurutnya, penting dan menarik itu, ada kriteria operasionalnya. Yang menentukan nilai berita tadi, layak liput kalau peristiwa atau kejadian itu mengandung delapan kriteria.

Baca Juga:  LKBN Antara di Tengah Badai Informasi

“Pertama dampak atau magnitudenya. Kedua adalah prominence atau ketokohannya. Seseorang yang tersedak ketika makan minum, jika orang biasa tak bernilai berita. Tetapi kalau yang mengalami kepala negara saat jamuan makan, maka itu layak menjadi berita,” jelasnya.

Ketiga, berkaitan dengan konflik. Keempat proximity atau kedekatan. Baik kedekatan jarak, kedekatan psikologis, maupun kedekatan emosional. Palestina itu jauh dari negara kita. Tapi ada kedekatan emosional yang kemudian membuat jadi perhatian banyak publik, sehingga layak jadi berita.

“Kelima adalah timeliness atau kebaruan dan aktualitasnya. Keenam aspek currency atau kekinian. Kemudian ketujuh adalah keanehan atau keluarbiasaan. Terakhir hal-hal yang menyentuh kemanusiaan, human spirit atau human interest,” paparnya. (#)

Jurnalis Sugiran.