
Garap jurnalisme multiplatform, hindari clickbait. Clickbait hanya mengejar klik. Judul yang diangkat ambigu dan menahan info penting. Isi tipis bahkan kadang menyimpang dari janji judul
Tagar.co – Pelatihan Journalisme Fellowship on CSR (JFC) 2025 Batch 2 kembali gelar kelas daring, Senin (15/9/2025). Kali ini Merdi Sofansyah, Media Development for AI, tvOne AI, Jakarta, menjadi pemateri.
Merdi Sofansyah yang telah menjadi wartawan sejak 1998 memberikan materi Pengelolaan Media Siber Berperspektif Multiplatform. Mengawali materinya, Merdi menyampaikan tentang kondisi industri media saat ini berdasarkan data McKinsey 2023.
“Pendapatan iklan media cetak global turun drastis dalam satu dekade, lebih dari 60 persen. Situasi ini menuntut media nasional untuk tidak sekadar jadi penyampai berita, tapi juga ikut membentuk fungsi sosial masyarakat,” ujar mantan Reporter dan Executive Producer SCTV ini.
Menurut Merdi, ada tiga tantangan utama media nasional. Yaitu kompetisi semakin ketat, audiens makin terfragmentasi, dan adanya perubahan perilaku konsumen.
“Sekarang orang lebih banyak nonton hp. Entah main game, baca berita atau sekadar scroll daripada membaca teks yang panjang,” ungkap alumnus Hubungan Internasional Universitas Airlangga ini.
Jurnalisme Berkualitas Vs. Clickbait
Merdi dalam paparannya, mengupas definisi sederhana antara jurnalisme berkualitas dan clickbait. Ciri yang terlihat jelas, menurutnya, jurnalisme berkualitas, berita yang tersaji berbasis pada bukti, menjawab 5W+1H, dan judul sesuai dengan isi.
Tidak berlebihan, ada konteks antara angka, waktu dan perbandingan.
“Sedangkan pada clickbait, hanya mengejar klik. Judul yang diangkat ambigu dan menahan info penting. Biasanya ada keterangan cek di sini. Selain itu isi tipis bahkan terkadang menyimpang dari janji judul,” ungkapnya.
“Meski begitu, kenyataan di lapangan clickbait lebih menggoda perhatian. Namun sebagai jurnalis yang berkualitas harus tetap mengedepankan aturan,” pesannya.
Poin Sederhana Judul
Ada beberapa poin sederhana dalam membuat judul berita. Pertama, sebut obyek, lokasi, metrik, dan rentang waktu.
“Kedua, hindari diksi viral atau heboh, kecuali disertai data dan dampak. Ketiga, jangan over-promise, pastikan isi menjawab judul. Keempat, gunakan angka nyata, hindari kata kosong,” jelasnya.
“Kelima, uji A/B atau A/B test. Judul A dan B yang sama-sama jujur kita publis ke publik. Mana yang lebih banyak view-nya. Kemudian cek legal, dan hindari hal yang sensitif (fitnah, privasi, sara) sebelum tayang,” tambahnya.
Dia menegaskan, yang tidak kalah penting dalam menyajikan sebuah berita atau konten adalah thumbnail dan caption harus ringkas.
“Jangan manipulatif, visual harus mewakili isi. Pada teks thumbnail hanya terbatas 6 kata dan hindari clickbait. Sedangkan caption, lanjutnya, menyebut angka atau lokasi, bukan rayuan kosong,” pesannya.
Di akhir pemaparannya, Merdi mengungkapkan, multiplatform itu sederhana jika alurnya jelas dan tim kompak. Jujur di judul, kuat di isi, dan rapi di kemasan.
“Karena dampak ke publik selalu lebih penting daripada sensasi. Klik boleh dikejar, tapi kepercayaan yang bikin media bertahan. Kerja rapi, judul jujur, data jelas, maka audiens akan kembali,” tuturnya. (#)
Jurnalis Sugiran












