
Pendidikan inklusi bukan sekadar menerima anak berkebutuhan khusus, tetapi memastikan dukungan dan metode belajar yang tepat. Itulah semangat sosialisasi di SMP Muhammadiyah 6 Krian yang menggandeng SMK Pemuda Krian dalam mencetak generasi peduli dan setara.
Tagar.co — Aula SMP Muhammadiyah 6 Krian Sidoarjo, Jawa Timur, berubah menjadi ruang belajar bersama pada Sabtu (16/8/2025), saat sosialisasi pendidikan inklusi digelar. Ada 40 guru dan karyawan dari duas sekolah—SMK Pemuda dan SMP Muhamamdiyah 6—ynag hadir menyimak materi dengan penuh antusias.
Acara dibuka dengan sambutan Kepala SMP Muhammadiyah 6 Krian, Muhammad Taufiqurrohman, M.Pd., yang menegaskan pentingnya pemahaman pendidikan inklusi bagi pendidik.
Baca juga: Passing Bumi dan Corong Air: Hari Penuh Keceriaan di SMK Pemuda Krian
Pembicara utama, Drs. Muflich Hasyim, M.Pd., memaparkan konsep dasar, prinsip, hingga strategi penerapan inklusi. Menurutnya, pendidikan inklusi bukan sekadar menerima peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah umum, melainkan memastikan adanya dukungan, fasilitas, dan metode belajar yang sesuai.
“Tidak ada anak bodoh, yang ada hanyalah guru yang kurang mengenal anak didiknya,” tegas Muflich, menekankan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan unik.
Para guru tampak aktif berdiskusi mengenai asesmen kebutuhan siswa, pengelolaan kelas, dan penciptaan suasana belajar kondusif. Sekolah inklusi sendiri menilai perkembangan siswa berdasarkan potensi pribadi, sehingga tidak ada anak yang tidak naik kelas.
Untuk mendukung sistem ini, sekolah perlu melibatkan empat unsur penting: guru mata pelajaran terlatih inklusi, Guru Pembimbing Khusus (GPK), psikolog, dan terapis. Selain itu, keberadaan ruang sumber bagi anak berkebutuhan khusus juga menjadi kebutuhan wajib agar setiap anak dapat berkembang optimal.

Menariknya, untuk membangkitkan semangat para guru, Muflich mengajak peserta melakukan Tepuk Inklusi yang penuh makna:
-
Prok 3x ikhlas
-
Prok 3x tawakal
-
Prok 3x sabar
-
Prok 3x cerdas
-
Prok 3x aktif
-
Prok 3x kreatif
Suasana menjadi cair sekaligus menanamkan nilai positif: guru perlu ikhlas, sabar, dan kreatif dalam mendampingi semua siswa.
Tujuan utama pendidikan inklusi adalah menghadirkan pendidikan yang adil, setara, dan menghargai keanekaragaman. Dengan semangat kolaborasi, sekolah Muhammadiyah di Krian bertekad melahirkan generasi unggul yang memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. (#)
Jurnalis Fransy Herani Putri Penyunting Mohamamd Nurfatoni












