Feature

255 Guru Brondong Siap Hadirkan Cinta dalam Mengajar

41
×

255 Guru Brondong Siap Hadirkan Cinta dalam Mengajar

Sebarkan artikel ini
255 Guru di Brondong, Lamongan saat mengikuti Workshop Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (Tagar.co/Istimewa)
255 Guru di Brondong, Lamongan saat mengikuti Workshop Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (Tagar.co/Istimewa)

255 Guru di Brondong, Lamongan mengikuti Workshop Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta. Mereka siap menerapkan dan mewujudkan lingkungan pembelajaran yang aman, inklusif dan penuh kasih sayang.

Tagar.co – Sebanyak 255 guru sertifikasi mengikuti Workshop Implementasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Kepala Madrasah (K3M) Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur.

Acara berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Brondong, pada Rabu (6/8/2025). Hadir untuk membuka acara, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, H. Moh. Muhlisin Mufa, S.Ag, M.Pd.I.

Ada pula Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Lamongan, H. Banjir Sidomulyo, serta Dr. H. Sholehuddin, M.A yang hadir sebagai pemateri.

Mengawali prolog pemaparan materi, Sholehuddin menyampaikan tentang kurikulum cinta dan bagaimana mengintegrasikan kurikulum cinta dalam pembelajaran deep learning atau pembelajaran mendalam.

Menurutnya, perasaan cinta tidak akan muncul ketika seseorang menyimpan perasaan benci, dengki, tidak toleran, dan sebagainya. Maka Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Kemenag RI ini menekankan pada nilai-nilai cinta kasih, kepedulian, dan toleransi dalam proses pembelajaran.

Baca Juga:  Dari Semangat ke Pendampingan: Peran Guru dalam Kurikulum Berbasis Cinta

“Melalui KBC ini, diharapkan guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, inklusif dan mendukung perkembangan holistik siswa, serta mampu membentuk generasi yang berakhlak mulia, peduli dan cinta tanah air,” ucapnya.

Nilai Utama Panca Cinta

Selain itu, lanjutnya, dengan KBC ini, para siswa mampu menumbuh kembangkan lima nilai utama yang disebut dengan panca cinta, yakni:

1. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Cinta kepada diri dan sesama
3. Cinta kepada ilmu pengetahuan
4. Cinta kepada lingkungan
5. Cinta kepada Bangsa dan Negara

“Panca cinta tersebut menjadi dasar utama Kurikulum Berbasis Cinta. Harapannya dapat diintegrasikan oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar, baik di kelas maupun di luar kelas,” imbuhnya.

Sehingga Sholahuddin berharap para siswa memiliki kesadaran spiritualitas, memiliki kesadaran empati dan simpati antar sesama, semangat menuntut ilmu, peduli terhadap keberlangsungan kelestarian lingkungan, serta nasionalisme.

“Maka profesi guru menjadi penting untuk proses tumbuh kembangnya nilai-nilai panca cinta di atas,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan menghadirkan rasa cinta dalam proses mengajar, maka guru diharapkan mengajar dengan sepenuh hati, menyayangi siswa seperti anaknya sendiri.

Baca Juga:  Wujudkan Deep Learning, UMM Kembangkan Modul Ajar Berbasis STEM

“Dan berusaha mendidik dengan sebaik-baiknya, guna mewujudkan generasi masa depan yang cemerlang dan bermoral,” pungkasnya. (#)

Jurnalis Ma’in Penyunting Nely Izzatul