Feature

Ditolak Beli Es Blewah karena Tak Bawa Gelas: Kisah Kantin Mimdiga dan Budaya Baru

59
×

Ditolak Beli Es Blewah karena Tak Bawa Gelas: Kisah Kantin Mimdiga dan Budaya Baru

Sebarkan artikel ini

54 siswa Mimdiga tampil ceria mengenakan topi dari daun hasil karya sendiri usai memeragakan Senam Anak Indonesia Hebat bersama guru dan juri di halaman madrasah. Ide topi daun dicetuskan Erifa Yuliani (Tagar.co/Mardliyatl Faizun)

Aturan kantin MI Muhammadiyah 3 Gosari Ujungpangkah Gresik sederhana: tanpa tumbler atau gelas, tak dilayani. Kebijakan ini bukan basa-basi, tapi hasil dari kritik LLSMS 2022 yang kini menjelma jadi budaya nyata di madrasah.

Tagar.co – Barisan siswa MI Muhammadiyah 3 Gosari (Mimdiga), Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur, tampak mengular rapi di depan kantin sekolah, Kamis, 24 Juli 2025. Dengan wajah ceria, mereka mengantre untuk membeli kudapan, tepat di jam istirahat pukul 10.00 WIB.

Para siswa laki-laki tampak mengenakan kemeja cokelat muda berpadu dengan celana kotak-kotak biru, sedangkan para siswi tampil anggun dalam balutan kerudung cokelat muda dan rok panjang senada bermotif kotak-kotak.

Di tangan mereka tergenggam tepak makan dan tumbler pribadi. Setelah sampai pada giliran, mereka memilih kudapan dan minuman, lalu membelinya serta memasukkannya langsung ke dalam wadah masing-masing—tanpa kantong plastik.

Pemandangan itu bukanlah pertunjukan dadakan menyambut Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) 2025 yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen PNF dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik. Sebaliknya, budaya antre, tanpa plastik, dan tertib jajan telah menjadi kebiasaan harian yang diterapkan lebih dari satu tahun terakhir.

“Jadi bukan hanya untuk menyambut atau dinilai juri,” ujar Erifa Yuliani, penanggung jawab kantin yang juga alumnus Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Antrean siswa di Kantin Mimdiga (Tagar.co/Mardliyatl Faizun)

Ucapan Erifa bukan sekadar klaim. Ketika saya mencoba masuk ke dalam antrean, para siswa justru menegur, “Antre dulu, Pak!” ujar mereka serempak, tegas namun sopan. Itu selaras dengan poster bertuliskan “Budayakan Antre” yang ada di dalam kantin—bukan sekadar slogan, tapi nilai hidup yang dihayati dan dijalankan para siswa sejak dini.

Tak berhenti di situ, saya pun mencoba membeli es blewah—minuman kesukaan saya—yang tersedia di kantin bersama es teh. Tapi lagi-lagi, komitmen mereka tak bisa ditawar.

Baca Juga:  Ketika Kepala MTs Mempertanyakan ‘Amalan’ di Balik Bantuan Smart TV

“Mohon maaf, Pak. Kalau tidak membawa gelas atau tumbler, tidak bisa dilayani,” kata Erifa sambil menjelaskan bahwa kantin ini dikelola oleh Ikatan Wali Murid (Ikwam) Mimdaga dan menerapkan aturan ketat untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan.

Erifa (kiri) yang dibantu Nanin Fauqotul Himmah (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Erifa, yang juga menjadi pembina ekstrakurikuler Hizbul Wathan dan Muhadarah Mimdiga, menjelaskan bahwa aturan ketat di kantin adalah bentuk perbaikan dari kondisi sebelumnya. Salah satu contohnya adalah soal saus.

“Saus ini sekarang kami buat sendiri,” katanya sambil menunjukkan botol saus hasil racikan sendiri, yang kini menggantikan produk pabrikan yang mengandung pengawet dan pewarna buatan.

“Itu dulu ’kan yang memberi saran Pak Fatoni,” ujarnya sembari tersenyum, merujuk pada kritik saya saat menjadi juri LLSMS 20 Oktober 2022 lalu.

Upaya perbaikan kantin tidak berhenti pada bahan baku. Aspek kehalalan produk juga diperhatikan secara serius. Di dinding kantin, tepat di bawah spanduk “Budayakan Antre”, terpajang tiga lembar sertifikat halal resmi dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dengan nomor ID35410023037780625, diterbitkan pada 21 Juni 2025 atas nama Siswati, Kepala MIM 3 Gosari. Sertifikat itu ditandatangani Ketua BPJPH Ahmad Haikal Hasan.

Setifikat Halal Kantin Mimdiga (Tagar.co/Mardliyatl Faizun)

Erifa Yuliani menjelaskan bahwa sertifikat itu mencakup daftar makanan olahan yang disiapkan langsung di tempat, seperti kentang goreng, mi pedas level, kebab mini, roti sobek, bakti ayam krispi, tahu pedas, dan bakwan omelet. Seluruhnya dipastikan menggunakan bahan yang aman dan halal.

Lebih dari itu, penggunaan celemek dan penutup kepala (digantikan dengan jilbab) oleh petugas kantin bukan sekadar untuk tampil bersih, melainkan bagian dari syarat penting untuk mendapatkan sertifikasi halal. Dan yang lebih penting, hal itu harus diterapkan dalam praktik harian, bukan hanya saat ada penilaian.

Meski mungil—berukuran 2 x 1,5 meter dan beromset Rp300 ribu sehari—kantin MI Muhammadiyah 3 Gosari menghadirkan wajah ideal kantin sekolah: bersih, sehat, tertib, bebas plastik, dan tentu saja, halal.

Baca Juga:  Hariyanto Beber Resep Dispendik Gresik Jadi Dinas Terbaik: Dari Mimpi, Kolaborasi, hingga Nawakarsa

Sayangnya masih dijual beberapa snack pabrikan. “Itu untuk dijual pada ibu-ibu yang menunggu anaknya sekolah di TK Aisyiyah,” dalih Erifa.

Dari kananaL Ketua dan Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gosari: Imam Wahyudi Agus dan Agus Muhammad Hasbi, Siswanti, saya, dan Naf’an Abu Mansur (kanan) di ruang kantor kepala madrasah. Suguhannya teh dalam gelas.  (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Efek LLSMS 2022

Kepala Mimdiga Siswati mengatakan, profil kantin di atas adalah salah satu dari perubahan-perubahan yang dia lakukan bersama para pemangku kepentingan setelah madrasah ini mendapat berbagai masukan dalam LLSMS 2022.

Saat itu, sampah berserakan di lingkungan madrasah, terutama di halaman belakang yang merupakan lahan bersama antara MI Muhammadiyah 2, SMP Muhammadiyah 17, dan Pondok Pesantren At-Taqwa.

Namun kini, halaman itu sudah bersih. Tak ada lagi sampah yang dibuang secara sembarangan. Tak hanya itu, madrasah ini juga sudah memiliki sistem pemilahan sampah. Tampak di halaman depan ada keranjang dari besi yang berisi botol-botol bekas minuman kemasan.

“Botol-botol plastik itu bagian dari program sedekah sampah,” kata Siswati yang baru sekitar setahun menjabat sebagai kepala madrasah. Uang hasil penjualan sampah itu—sekitar Rp57 ribu—disedekahkan ke program Filantropis Cilik.

Dia menjelaskan, hasil penjualan itu memang sedikit karena di madrasahnya penggunaan plastik sudah diminimalisasi, sebagaimana diterapkan di kantin. Selain itu, anak-anak tidak diperkenankan menggunakan kemasan plastik sekali pakai untuk membungkus makanan atau minuman dari rumah.

Naf’an Abu Mansu (kiri) dan saya berinteraksi dengan siswa di ruang kelas (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Kami pun berkesempatan mengecek pernyataan itu. Bersama Naf’an Abu Mansur dan Mardliyatun Faizun, juri lainnya, kami masuk ke kelas-kelas. Ternyata betul, pernyataan Siswati bukan omong kosong, sebab di meja para siswa tampak tepak makanan dan tumbler.

Di ruang-ruang kelas yang bersih, rapi, dan berwarna oleh aneka hiasan serta slogan, juga terdapat tempat sampah. “Kalau membuang sampah di mana, anak-anak?” tanya Ustaz Naf’an saat masuk ke kelas 1. Serentak para siswa menunjuk tempat sampah yang berada di pojok kelas. Selain di dalam kelas, di serambi kelas juga terdapat dua jenis tempat sampah: organik dan anorganik.

Baca Juga:  PDM Gresik Targetkan Mutu Sekolah Muhammadiyah Merata seperti Sistem Franchise

Sayangnya, pengelolaan sampah organik, terutama dari daun-daun tanaman, belum ideal karena masih dibakar bersama sampah dari SMP dan pondok. “Ke depan harus diolah jadi kompos, njih Bu,” saran saya.

Perubahan juga dilakukan dalam menghijaukan lingkungan sekolah. Di halaman depan, empat pohon ketapang sudah tumbuh besar hingga bisa menaungi mobil yang terparkir di situ. Sementara dua pohon serupa baru ditanam di sisi timur.

Pot-pot kecil juga berjejer di serambi kelas, selain ‘pot’ besar permanen di sekeliling halaman. Ada pula berbagai tanaman toga di halaman belakang yang berdekatan dengan ruang terbuka untuk pertemuan. Meski begitu, kami belum puas karena proporsi tanamannya kami anggap belum cukup.

“Bisa diperbanyak lagi pot-potnya dengan menggunakan sampah galon,” usul Ustaz Naf’an, selain menambah tanaman keras untuk lebih memperindang halaman depan dan belakang.

Tim juri LLSMS memberi masukan agar halaman belakang ditanami pohon lagi. Kegiatan ini dipantau juga oleh Ketua dan Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gosari: Imam Wahyudi Agus dan Agus Muhammad Hasbi (kanan) (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Siswati merasa senang dengan beberapa saran yang kami sampaikan. “Terima kasih atas saran-sarannya, insyaallah akan kami laksanakan,” ujarnya. Dia mengaku bahwa saran-saran pada LLSMS 2022 mampu melecut madrasahnya untuk melakukan perubahan seperti yang terlihat saat ini.

“Oh, saya mohon maaf jika saran-saran saya waktu itu merepotkan Ibu dan para guru di sini,” ujar saya sebagai bentuk unggah-ungguh orang Timur.

Pertemuan yang gayeng berlangsung baik di tempat duduk maupun sambil berjalan menelusuri seluruh sudut madrasah itu, berakhir di meja makan. Berbagai menu khas pantura seperti kepiting menjadi santapan lezat siang itu. Dan yang menggembirakan, es blewah yang gagal saya pesan di kantin ternyata juga disiapkan di situ, langsung satu ceret. He-he-he! (#)

Mohammad Nurfatoni