
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah membawa manfaat besar bagi siswa, tapi menyisakan ruang sunyi di kantin Bu Sumarni. Ketika anak-anak berhenti jajan, penghasilan pun menurun drastis. Lazismu hadir menjembatani—agar kebaikan tak menyisakan korban.
Tagar.co – Setiap pagi, aroma nasi pecel dan soto hangat menyambut siapa pun yang melintasi kantin SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Di balik etalase kaca yang sederhana, Sri Sumarni (48) dengan telaten menata dagangannya: es teh, es jeruk, minuman kemasan, gorengan, hingga nasi bungkus siap santap.
Sejak 2014, Sumarni setia membuka kantin itu bersama sang suami, Mahfudz. Kala itu, suasana sekolah yang ramai membuat omzet hariannya bisa mencapai Rp500 ribu. Namun, semuanya berubah sejak sekolah menerapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga: TK Hampir Ambruk, Harapan Tumbuh Bersama Program Save Our School Lazismu
“Kadang saya bingung, dagangan gak habis. Tapi ya gak bisa nyalahin. Itu buat kebaikan anak-anak juga,” ujarnya lirih, Rabu (23/7/2025).
Program MBG memang bertujuan mulia: memastikan siswa mendapat asupan makan siang yang sehat dan bergizi. Namun, di sisi lain, program ini berdampak langsung terhadap penjual kecil seperti Sumarni. Ia mengaku penghasilannya turun drastis, apalagi ketika jadwal MBG berlangsung penuh.
“Kalau pas gak ada MBG, alhamdulillah masih bisa dapat tiga sampai lima ratus ribu. Tapi kalau ada, paling cuma seratus ribu,” tuturnya sembari merapikan botol es teh.
Anak-anak, lanjutnya, kini lebih jarang membeli makanan berat. “Paling beli minum, kayak es teh atau es jeruk,” tambahnya.
Yang membuat keadaan makin sulit, beberapa bulan terakhir Sumarni harus berhenti berjualan total. Suaminya, Mahfudz, terserang stroke dan butuh perawatan intensif. Beban hidup kian berat, sementara utang satu juta rupiah masih menggantung.
“Saya pengin tetap jualan. Gak enak kalau cuma berharap bantuan orang,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Dalam situasi inilah, Sumarni mencurahkan isi hatinya kepada Dra. Murdiyah, seorang amil Lazismu Sidoarjo yang kerap berinteraksi dengan warga sekolah. Cerita Sumarni pun menjadi pintu masuk Lazismu untuk hadir memberi solusi.
“Bu Sumarni adalah contoh pelaku UMKM yang tetap gigih meski dalam keterbatasan. Ia tidak meminta-minta, hanya ingin tetap mandiri. Inilah semangat yang ingin kami dukung,” jelas Murdiyah.
Melalui program Pemberdayaan UMKM, Lazismu Sidoarjo berencana menyalurkan bantuan permodalan agar Sumarni bisa kembali berjualan dengan menu yang lebih beragam dan sesuai kebutuhan siswa.
“Program MBG memang sangat baik untuk siswa, tapi kami juga sadar ada dampaknya bagi pelaku usaha kantin. Karena itu, kami berupaya hadir di ruang-ruang yang mungkin tak terlihat,” ungkap Murdiyah.
Sumarni pun menyambut uluran tangan itu dengan penuh harap. “Kalau jualan saya bisa jalan lagi, bisa nutup utang, saya sudah sangat bersyukur,” katanya tersenyum.
Ayo Dukung UMKM Sekolah Bertahan
Lazismu Sidoarjo mengajak masyarakat untuk turut serta mendukung program Pemberdayaan UMKM, agar semakin banyak pelaku usaha kecil seperti Bu Sumarni dapat bertahan dan bangkit kembali. Salurkan donasi Anda melalui: Bank Jatim Syariah No. Rekening: 6202215327 a.n. Lazismu Sidoarjo. Konfirmasi ke +62 821-4004-1912 (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












