Feature

Dari Masjid Gede ke Rumah Sang Penghulu: Relawan Kediri Bertemu Cucu K.H. Sangidu

46
×

Dari Masjid Gede ke Rumah Sang Penghulu: Relawan Kediri Bertemu Cucu K.H. Sangidu

Sebarkan artikel ini
Peserta Baitul Arqam PDM Kota Kediri tapak tilas bersama Budi Setiawan (berdiri, kelima dari kanan) (Tagar.co/Istimewa)

Usai Subuh dari Masjid Gede, rombongan Baitul Arqam Kediri menyusuri jejak K.H. Ahmad Dahlan di Kauman. Tak disangka, di rumah tua penuh sejarah itu, mereka berjumpa cucu pemilik kartu anggota Muhammadiyah pertama.

Tagar.co — Udara pagi yang sejuk dan damai selepas Subuh Ahad 6 Juli 2025 menyambut langkah kami, rombongan peserta Baitul Arqam PDM Kota Kediri, yang baru saja menunaikan salat di Masjid Gede Kauman Yogyakarta.

Hari itu, kami dijadwalkan menyusuri jejak pendiri Muhammadiyah dalam agenda “Tapak Tilas K.H. Ahmad Dahlan”, sebuah perjalanan sejarah yang tak hanya menyentuh raga, tapi juga batin.

Tak jauh dari masjid tempat kami salat, tapak tilas dimulai. Kami berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit dan berliku di kawasan Kauman. Setiap sudut terasa penuh makna. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Makam Nyai Wadilah, istri K.H. Ahmad Dahlan, yang terletak persis di depan Masjid Gede. Doa-doa pun terlantun, mengenang jasa besar seorang perempuan pendamping perjuangan dakwah.

Baca juga: Tubuh Bugar, Dakwah Kuat: Peran RSMAD di Baitul Arqam PDM Kediri di Yogyakarta

Baca Juga:  73 GTK Ikuti Baitul Arqam PCM Balen, Perkuat Kompetensi dan Pemahaman Tarjih

Perjalanan berlanjut ke Monumen Syuhada Perang Sabil, sebuah pengingat atas pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang lahir dari semangat keislaman. Kami menyusuri lorong waktu yang seakan membawa kami kembali ke masa awal berdirinya Perserikatan.

Puncaknya, kami tiba di sebuah rumah tua yang begitu sederhana tapi sarat nilai sejarah. Di tempat inilah, menurut penuturan pemandu kami, dokumen pendirian Muhammadiyah pertama kali ditandatangani.

“Dulu ini kediaman Penghulu Keraton Yogyakarta ke-13, K.H. Muhammad Sangidu atau Kanjeng Raden Penghulu Haji Muhammad Kamaluddiningrat,” ujar sang pemandu. Ia menjelaskan bahwa sebagai seorang khatib di Keraton Yogyakarta, K.H. Muhammad Sangidu memiliki langgar (musala kecil) di samping rumahnya—ciri khas rumah seorang penghulu.

Di tengah keseriusan kami mendengarkan penjelasan, tiba-tiba muncul seorang lelaki sepuh dari dalam rumah tersebut. Penampilannya sederhana, namun langsung membetot perhatian. Ia bukan orang asing bagi kami—relawan Muhammadiyah.

“Assalamualaikum,” sapa Pak Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah, sembari menyalami beliau.

Sontak kami semua menyambut salam itu dengan haru. Ternyata, sosok yang muncul itu adalah Pak Budi Setiawan, cucu dari K.H. Muhammad Sangidu, pemilik kartu anggota Muhammadiyah pertama. Pertemuan tak terduga ini menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam. Seolah sejarah tak hanya kami baca, tapi benar-benar kami jumpai.

Baca Juga:  Edutainment Baitul Arqam Baratajaya: Belajar Akidah lewat Cerita, Film, dan Diskusi Interaktif
Delegasi Kota Kediri bersama Budi Setyawan (tengah) dalam kegiatan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Kenangan kami pun terlempar ke sepekan sebelumnyam tepatnya 26-29 Juni 2025. Saat itu, kami yang tergabung dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) baru saja mengikuti Jambore Nasional Ke-3 Relawan Muhammadiyah 2025 di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Di sana, Pak Budi tak hanya dikenal sebagai Ketua Lembaga Resiliensi Bencana PP Muhammadiyah, tapi juga sosok pengayom dan panutan.

Di bumi perkemahan Wonderland, setiap Subuh ia selalu memberikan kultum yang menyentuh hati—mengajak kami meneladani semangat kemanusiaan K.H. Ahmad Dahlan. Meskipun telah sepuh, aktivitasnya tak pernah surut. Dakwah dan kerja kemanusiaan tetap menjadi nafas hidupnya.

Perjalanan tapak tilas ini bukan sekadar menapak jejak kaki para pendiri. Lebih dari itu, kami merasa menyentuh langsung denyut nadi sejarah yang terus hidup melalui para penerusnya. Dari Masjid Gede hingga rumah KH Sangidu, dari makam hingga monumen, kami menemukan kembali semangat Muhammadiyah: berjuang dalam diam, berdakwah dalam amal nyata. (#)

Jurnalis Misbahul Munir Penyunting Mohammad Nurfatoni