
Di gang kecil itu, bukan sekadar ayat yang dibaca. Saad Ibrahim membawa jemaah menyusuri Galaksi, tubuh, dan hati—menunjukkan bahwa kebesaran Allah bisa dirasakan dalam diam dan sabar.
Tagar.co — Ahad pagi, 6 Juli 2025, gang kecil di belakang SMA Muhammadiyah 1 Taman, Sepanjang, Sidoarjo, berubah menjadi ruang majelis ilmu yang hangat.
Di atas tikar-tikar panjang yang digelar rapi, jemaah duduk tenang mengikuti Pengajian Fasta—akronim Fajar Subuh Ahad Pertama—agenda rutin yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang.
Baca juga: Langkah Gemilang Lulusan Vocatama: Prestasi, Apresiasi, dan Asa Masa Depan
Pagi itu, Dr. M. Saad Ibrahim, M.A., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadir sebagai penceramah dengan membawa tema “Menguatkan Keikhlasan dan Kesabaran untuk Menggapai Kemuliaan.” Ceramah disampaikan dengan penuh kelembutan, tapi sarat kedalaman makna.
“Siapa yang datang dan mengaji ayat-ayat Ilahi, insyaallah akan dipermudah menuju surga-Nya, diberikan ketenangan, diliputi rahmat Allah, dikunjungi para malaikat, bahkan dibanggakan oleh Allah di hadapan malaikat-Nya,” tuturnya mengawali tausiah.
Membaca Ayat dalam Diri dan Alam
Dia membacakan Surah Asy-Syu’ara 78–80 yang menegaskan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi petunjuk, pemberi rezeki, dan penyembuh:
“(Dialah) yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku. Dan (Dialah) yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.”
Pak Saad, sapaannya, menjelaskan bahwa manusia boleh berobat dan minum obat, namun jangan lupa bahwa penyembuh sejati adalah Allah. Tubuh manusia sendiri merupakan tanda (ayat) kebesaran-Nya. Roh tidak bisa bekerja tanpa tubuh, dan keduanya menjadi cerminan kekuasaan Ilahi.
“Manusia sudah diberi modal untuk menjadi mukmin: akal, kemampuan membaca, berpikir, dan bertadabur. Maka wajib baginya belajar dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup,” tambahnya.
Alam Semesta: Ayat yang Terbentang
Di bagian lain ceramahnya, Saad memaparkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam luar. Ia menyebutkan bahwa di alam semesta terdapat sekitar 300 miliar Galaksi, masing-masing dengan 300 miliar Tata Surya, dan salah satu di antaranya menaungi bumi tempat kita berpijak.
“Allah membagi rezeki tidak seragam. Tiap bumi punya keistimewaan. Maka manusia harus berikhtiar sebaik mungkin, namun tetap sadar bahwa dunia ini kecil dan sementara,” jelasnya.

Al-Qur’an sebagai Washilah Kesembuhan
Saad juga mengangkat makna kesembuhan dalam Al-Qur’an. Kata syifa’ disebutkan empat kali—di Surah Yunus 57, An-Nahl 69, Fushilat 44, dan Al-Isra 82. Tiga di antaranya berkaitan dengan kondisi psikis, dan satu dengan fisik.
“Jadikan Al-Qur’an sebagai wasilah kesembuhan. Bacalah ia dalam keseharian. Jangan hanya saat sakit,” pesannya.
Ia juga mengutip pandangan Ibnu Sina, bahwa “dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat.” Pikiran positif, bebas dari kecemasan, sangat memengaruhi kesehatan fisik.
“Kalau kita sedang menghadapi konflik dengan sesama, serahkan sepenuhnya kepada Allah. Karena hati manusia ada dalam genggaman-Nya. Doakan dengan ‘Ya Muqalibal Qulub…’ agar hati kita tetap istiqamah.”
Berkah Ilmu, Indahnya Berbagi
Kajian Fasta ditutup dengan doa bersama yang menambah khidmat suasana pagi.
Tidak hanya menyirami rohani, panitia juga menebar keberkahan sosial. Disiapkan doorprize, sayur-mayur segar, lauk, serta terapi kesehatan gratis hasil kerja sama dengan RS Siti Khadijah Sepanjang.
Lazismu turut membagikan paket sembako untuk yatim dan duafa, serta pakaian layak pakai. Semua itu menambah semarak suasana dan mempertegas semangat keikhlasan yang digaungkan dalam kajian. (#)
Jurnalis Said Reno Penyunting Mohammad Nurfatoni












