
Dengan mengirim empat guru terbaik ke Workshop Pembelajaran Mendalam Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim, SD Mumtas Surabaya tak hanya belajar, tapi juga memberi teladan dalam kesiapan menyambut perubahan.
Tagar.co – Di Blessing Hills Hotel and Resort Trawas, Mojokerto, yang dikelilingi kabut pegunungan, ratusan guru Muhammadiyah dari penjuru Jawa Timur berkumpul dalam satu semangat: memperbarui diri. Di antara mereka, empat guru dari SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) hadir membawa harapan.
Mereka adalah Muzayanah (wali kelas I, Fase A), M. Saifunnur (wali kelas IV, Fase B), Zainun Ni’mah, S.Ag. (wali kelas VI, Fase C), dan saya M. Khoirul Anam (kepala sekolah). Mereka datang bukan sekadar mengisi daftar hadir, melainkan untuk menjemput perubahan.
Baca juga: Menabur Deep Learning dari Lereng Trawas
Selama dua hari, 9–10 Juni 2025, Workshop Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diinisiasi Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur ini menjadi ruang belajar bersama. Sebuah perhelatan yang, menurut Prof. Dr. Khozin, M.Si., merupakan yang pertama di lingkungan Muhammadiyah — bahkan belum ada padanannya di Kementerian Dikdasmen RI.
“Belum ada satu pun kegiatan seperti ini, bahkan di Kementerian Dikdasmen RI,” tegasnya saat membuka acara. Ucapannya sontak disambut tepuk tangan meriah.
Semangat para guru begitu terasa. Tak sedikit yang rela menempuh perjalanan jauh demi bisa hadir. Bahkan, panitia harus menolak sejumlah pendaftar karena kuota terbatas. “Banyak yang harus kami tolak, uang pendaftaran juga kami kembalikan. Karena kuota peserta tidak sampai 400 orang,” ujar Prof. Khozin yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Malang.
Tapi bagi saya dan tim, terpilih mengikuti workshop ini adalah anugerah. Kami merasa bangga dan bersyukur bisa jadi bagian dari sejarah ini. Sebab Workshop ini memperkuat komitmen kami untuk menjadikan guru sebagai pembelajar sejati, yang istiqamah dalam memperbarui ilmu.

Belajar untuk Menyala
Tak ada kelas, tak ada murid, tapi para guru belajar. Di ruang-ruang berpendingin, para peserta menyimak materi dengan serius, berdiskusi dalam kelompok, dan menyusun proyek pembelajaran yang bisa langsung diterapkan. Suasananya bukan seperti seminar satu arah, melainkan laboratorium ide-ide segar.
Zainun Ni’mah, salah satu peserta dari Mumtas, tak bisa menyembunyikan semangatnya. “Ini pengalaman luar biasa. Saya merasa mendapat asupan semangat dan wawasan baru untuk mendesain pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa,” katanya sambil tersenyum.
Workshop ini tak berhenti di transfer ilmu. Ia dirancang sebagai pemantik perubahan. “Kita ingin guru Muhammadiyah menyerap lebih awal kebijakan kementerian, sehingga lebih siap dan unggul dalam implementasi,” ujar Prof. Khozin.
Ia berharap para peserta tidak berhenti pada euforia pelatihan, tapi melanjutkan proses hingga menghasilkan produk konkret dan menyebarkannya ke guru-guru lain di sekolah masing-masing.
Langkah Kecil, Visi Besar
Langkah Mumtas mengikuti workshop ini mungkin tampak sederhana: mengirim empat guru untuk belajar. Tapi di baliknya, tersimpan visi yang besar. Dalam dunia pendidikan yang terus berubah cepat — dari kurikulum, karakter peserta didik, hingga tantangan digital — sekolah harus terus bergerak. Dan Mumtas memilih bergerak lebih awal.
Tak hanya membangun gedung atau melengkapi alat ajar, tapi membangun manusia di balik kelas. Karena masa depan pendidikan tidak ditentukan teknologi semata, melainkan siapa yang menggunakannya dengan bijak.
Trawas, dengan kabut pagi dan sunyi bukitnya, mungkin telah menjadi saksi. Bahwa dari tempat tinggi inilah, semangat baru itu disulut — dan akan kembali ke sekolah-sekolah dengan nyala yang tak mudah padam. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












