
Batu-batu kecil itu dilemparkan bukan untuk setan yang tampak, melainkan untuk nafsu yang diam-diam menguasai. Inilah kisah spiritual di Mina—tempat jiwa diuji, tubuh terseret, tapi semangat justru terbang tinggi.
Catatan dari Tanah Suci (Seri 9); Oleh Firman Arifin Dosen PENS, Jemaah Haji 2025 Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Setelah semalam di Muzdalifah dan berjalan kaki sejauh 6,3 kilometer menuju Mina, tibalah kami pada hari besar: 10 Zulhijah, hari ketika ritual melempar jumrah dilaksanakan.
Di bawah terik matahari yang menyengat dan di antara derap langkah 2,5 juta umat Islam dari seluruh dunia, kami melanjutkan perjalanan menuju medan tempur spiritual.
Rehat Sejenak di Tenda, Lalu Kembali Bergerak
Sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 pagi, kami tiba di tenda-tenda Mina dan sempat beristirahat. Namun itu bukan akhir perjalanan. Sorenya, langkah kami diarahkan menuju Jamarat.
Baca juga: Dari Muzdalifah Kita Belajar: Batu Dikumpulkan, Ego Ditanggalkan
Secara jarak hanya sekitar 2,5 hingga 3 kilometer, tetapi kenyataannya perjalanan pulang-pergi bisa mencapai lebih dari 6 kilometer karena rute yang memutar, arus jemaah yang padat, serta sistem pengamanan yang ketat.
Perjalanan yang Menyisakan Peluh, Tapi Menghadirkan Cahaya
Di sinilah kami menyaksikan kisah-kisah tak ternilai. Banyak yang mulai tertatih dan tampak sangat lelah, tetapi lebih mengejutkan lagi, saya melihat orang-orang yang berjalan dengan susah payah. Ada yang pincang, ada yang hanya memiliki satu kaki dan dibantu kaki palsu serta kruk. Allahu Akbar.
Ada pula yang didorong dengan kursi roda, berjalan dengan tongkat, dan ibu-ibu renta yang tubuhnya membungkuk, tetapi semangatnya tegak lurus menembus langit.
Padahal, secara syariat, mereka boleh diwakilkan (dibadalkan), namun mereka tetap memilih hadir. Sebab ini bukan sekadar menjalankan rukun, tetapi memenuhi panggilan jiwa.
Pertolongan Allah di Setiap Langkah
Mereka kuat bukan karena otot, melainkan karena pertolongan Allah yang nyata. Di tengah panas, tiba-tiba ada air yang dibagikan. Di saat tak mampu, petugas datang menyambut. Kala hampir tumbang, ada tangan asing yang terulur. Semua itu bukan kebetulan, melainkan tanda cinta Allah bagi hamba yang yakin dan bersungguh-sungguh.
Lempar Jumrah, Filter Spiritual
Dalam dunia teknik elektro dan teknologi informasi, setiap sistem pasti memiliki filter, untuk menyaring sinyal utama dari gangguan (noise). Begitu juga dengan jumrah sebagai filter spiritual.
Ia menyaring jiwa dari penyakit seperti ego tinggi (malware), dengki (spyware), kesombongan (trojan), malas ibadah (bug system), dan takabur (overclocking yang merusak).
Setiap batu yang dilempar sebenarnya bukan untuk melukai setan di luar, melainkan untuk mengusir “setan” yang bersarang di dalam diri.
Lempar Jumrah, Ikrar Penguatan Jiwa
Tujuh batu yang dilempar itu memang kecil, namun ia adalah ikon perubahan. Setiap lemparan menjadi deklarasi diri: “Aku siap berubah.” “Aku siap melawan.” “Aku tidak ingin kembali seperti dulu.”
Untuk Para Pejuang: Umi-Umi yang Luar Biasa
Saya pribadi tergetar melihat para umi-umi yang tetap melangkah di bawah panas yang luar biasa. Wajah mereka mungkin keriput, tetapi semangat mereka segar seperti embun subuh.
Mereka tidak menuntut kursi istimewa atau perlakuan khusus. Namun setiap langkah mereka adalah syair iman yang tak terucap.
Mereka datang bukan untuk pamer ibadah, melainkan untuk membuktikan bahwa cinta kepada Allah tidak mengenal batas usia atau kondisi tubuh.
Di Bawah Terik, Jiwa Justru Terangkat
Hari itu panas menyengat. Kaki terseret. Napas terengah. Namun jiwa justru melambung tinggi. Karena Allah sedang menyaksikan. Sebab ini bukan jalan biasa, ini adalah jalan kemenangan—melawan diri sendiri.
Jika sudah sampai di titik ini, jangan mundur. Teruskan, meski pelan. Sebab Allah tidak menilai kecepatanmu, melainkan keteguhan hatimu.
Inilah Mina, tempat di mana batu kecil bisa menjatuhkan musuh terbesar: nafsu diri. Dan setiap langkah adalah doa. Setiap peluh adalah cahaya.
“Batu-batu” kecil itu akan kita bawa pulang ke Indonesia, untuk mengusir setan yang sewaktu-waktu datang mengganggu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












