
Anak-anak Kelas B Dolphin TK Aisyiyah 41 Menganti Gresik belajar literasi tanpa buku. Tapi lewat permainan seru yang melatih konsentrasi, kerja sama, hingga kreativitas, dipandu guru dengan pendekatan menyenangkan.
Tagar.co – Belajar literasi tidak harus dengan buku. Itulah yang dilakukan di kelas B Dolphin TK Aisyiyah alias Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 41 Menganti, Gresik, Selasa (20/5/2025). Dalam Program Selasa Literasi (Serasi), guru mengajak anak-anak bermain sambil mengenal huruf dan kata melalui metode yang menyenangkan dan interaktif.
Program ini menjadi salah satu inovasi pembelajaran di TK Aisyiyah 41 Menganti untuk mengenalkan literasi secara menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan dunia anak-anak. Nadhirotul Mawaddah atau yang akrab disapa Bunda Iir, guru kelas B Dolphin, memadukan konsep belajar dan bermain agar anak-anak tetap fokus dan antusias.
“Masih ingat kita belajar tentang apa minggu ini?” tanya Bunda Iir membuka sesi.
“Udara…!” jawab anak-anak serempak.
Tanpa perlu menunggu, mereka segera membentuk dua barisan seperti yang diminta: laki-laki di kanan dan perempuan di kiri. Di atas karpet, mereka siap menjalani permainan pertama. Masing-masing barisan mendapat satu gulungan kertas bertuliskan instruksi.
“Yang paling belakang harus bisa menuliskan di papan tulis kira-kira apa jawabannya ya,” ujar Bunda Iir.
Permainan berlangsung seru. Kalimat “Sebutkan nama benda yang mudah tertiup angin” mengalir dari satu anak ke anak lainnya. Tim perempuan dengan Hafizah Mecca Arvi di depan, dan tim laki-laki dipimpin Fatih Razka Salahuddin Wiratama, beradu cepat.
Ketika Shakila Rifaya Azzahra dan Al Khawarizmi Yanrespati, anak paling belakang di masing-masing barisan, maju menuliskan jawabannya, tim perempuan menulis “daun dan kertas”, sementara tim laki-laki hanya menulis “daun”. Tim perempuan pun bersorak kegirangan karena menjadi pemenang.

Mengenal Konsep “Lebar dan Sempit”
Permainan berlanjut. Kali ini anak-anak diajak memahami konsep “lebar” dan “sempit” melalui permainan adu konsentrasi. Barisan perempuan berdiri diam dengan tangan lurus ke depan, sementara barisan laki-laki membuka tangan mengikuti instruksi Bunda Iir.
“Kalau Bunda bilang lebar, tangan kalian renggang. Kalau sempit, rapat. Tapi jangan sampai menyentuh tangan teman. Kalau Bunda bilang tepuk, baru kalian tepuk tangan tim lawan,” jelas Bunda Iir.
Gelak tawa pecah saat permainan dimulai. Anak-anak berusaha menghindari atau menepuk tangan lawan dengan sigap. Tim perempuan kembali unggul dalam putaran pertama.
Saat peran dibalik, beberapa anak laki-laki seperti Al Khawarizmi, Ubay Zaquan Nugroho, dan Fauzan Adhima Pratista tertangkap. Sebagai konsekuensi, mereka diminta melantunkan Surah Al-Kautsar bersama-sama. Mereka pun membacanya dengan lantang dan percaya diri.

Menyortir Benda Berdasarkan Kemudahan Tertiup Angin
Setelah bermain, anak-anak kembali diajak belajar menyortir kata. Mereka memilih benda-benda yang mudah tertiup angin dari daftar kata yang disediakan: kertas, batu, daun, piring, bola, gunting, pensil, dan sebagainya.
“Yang tidak mudah tertiup angin beri tanda silang, yang lainnya digunting dan ditempel di buku gambar,” instruksi Bunda Iir.
Anak-anak yang belum bisa membaca dibimbing secara perlahan. Bunda Iir membacakan satu per satu kata sambil bertanya dan mendiskusikan bersama.

Mewarnai Balon Udara dengan Tiupan Sedotan
Sebagai penutup kegiatan hari itu, anak-anak diajak menghias gambar balon udara. Namun bukan dengan pensil warna, melainkan meniupkan cat cair menggunakan sedotan. Tiga warna telah disiapkan, dan anak-anak bebas memilih sesuai selera.
“Bunda Iir, lihat punyaku, bagus kan?” seru Alifia Kayla Nayara bangga menunjukkan hasil karyanya.
“Bagus sekali Kayla, good job sayang,” kata Bunda Iir sambil mengacungkan dua jempol.
Kegiatan belajar di kelas B Dolphin hari itu ditutup dengan senyum bahagia. Dengan pendekatan kreatif dan interaktif, literasi dikenalkan sejak dini dalam suasana yang menggembirakan. Harapannya, anak-anak tumbuh menjadi generasi pembelajar yang antusias dan mencintai ilmu. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












