Opini

Masa Depan Kampus di Era AI: Menyesuaikan atau Tertinggal?

40
×

Masa Depan Kampus di Era AI: Menyesuaikan atau Tertinggal?

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

AI tak menunggu. Dunia pendidikan tinggi harus berubah—bukan sekadar digitalisasi, tapi reformasi total dari cara mengajar hingga tujuan mendidik.

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur,  Mantan Rektor Unitomo Surabaya

Tagar.co – Ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering saya renungkan: “Apa jadinya perguruan tinggi kita 10 tahun mendatang, saat kecerdasan buatan (AI) sudah lebih pintar dari sebagian besar mahasiswa—dan dosennya?”

Pertanyaan itu, jika ditanyakan saat ini, sebenarnya sudah terlambat. Sebab perkembangan kecerdasan buatan begitu cepat dan canggih hingga mengancam eksistensi kecerdasan manusia pada umumnya.

Baca juga: Manusia, AI, dan Jalan Sunyi Menjadi Khalifah

Pertanyaan dan pernyataan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan kita agar bangun dari tidur panjang. Dunia sudah berubah—sangat cepat. Sayangnya, kampus kita, seperti biasa, belum tentu ikut berubah. Atau bahkan sangat sulit untuk berubah.

AI Tidak Menunggu Kita

Kita tahu sekarang mahasiswa bisa menulis makalah dalam hitungan menit—tinggal tanya ke AI. Bahkan mereka bisa membuat skripsi, proposal, dan bahan presentasi dengan bantuan robot pintar.

Baca Juga:  Idulfitri di Hari Jumat: Antara Kewajiban, Keringanan, dan Kedewasaan Beragama

Sebagian dosen marah. Sebagian lagi pura-pura tidak tahu. Tapi segelintir dosen justru berpikir: Mengapa tidak kita manfaatkan?

Saya memilih kelompok yang terakhir itu. Mengizinkan dan mengajak berkolaborasi dengan kecerdasan buatan untuk mempercepat lompatan kecerdasan manusia melampaui eranya.

Kampus Harus Segera Memutuskan

Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, kampus akan punya dua pilihan:

  1. Ikut berubah dan menjadi pusat inovasi, atau
  2. Tetap seperti sekarang dan pelan-pelan ditinggal zaman.

Kampus yang hanya mengandalkan kuliah tatap muka dan kurikulum kaku akan sulit bersaing dengan platform pembelajaran daring yang interaktif, murah, dan berskala global.

Kampus masa depan tidak lagi dibatasi pagar dan gedung. Seseorang bisa saja terdaftar di kampus A dalam negeri, namun dalam waktu yang sama mengikuti kelas di kampus luar negeri.

Sebagai pengelola pendidikan tinggi dan juga para dosen, kita harus segera menyusun ulang:

  1. Apa yang kita ajarkan.
  2. Bagaimana cara kita mengajar.
  3. Untuk siapa kita mendidik.

Revolusi Tidak Butuh Izin

Kurikulum lama tidak bisa menjawab tantangan dunia kerja baru. Banyak mata kuliah hanya mengulang isi buku teks, tanpa bekal menghadapi realitas digital.

Baca Juga:  Semakin Tak Ada Alasan Mengakui Israel sebagai Negara Merdeka

Sudah lama dunia kerja dan industri meneriakkan kritik: kompetensi yang dibutuhkan industri tidak sesuai dengan yang diajarkan kampus.

Sementara itu, AI tidak butuh gelar. Tapi mahasiswa kita masih diajar untuk mengejar IPK dan gelar. Ironi.

Kita mungkin perlu mengubah pertanyaan: dari “Lulusan ini dapat gelar apa?” menjadi “Lulusan ini bisa berkontribusi apa?”

Roadmap: Jangan Asal Digitalisasi

Yang saya maksud bukan sekadar mengganti papan tulis dengan layar LCD atau absensi kertas dengan fingerprint. Itu hanya kosmetik. Bukan transformasi.

Transformasi pendidikan berarti:

  1. Dosen belajar teknologi, bukan hanya mahasiswa.
  2. Kampus membuat pusat riset AI sendiri.
  3. Kurikulum dirancang ulang, bukan sekadar direvisi.
  4. Mahasiswa belajar dari proyek nyata, bukan hanya ujian pilihan ganda.

Dan yang paling penting:

Kampus harus bicara tentang etika AI. Jika bukan kita, siapa lagi yang berbicara soal moral di dunia yang makin dikendalikan algoritma?

Masa Depan Butuh Lulusan yang Adaptif dan Etis

Mesin bisa menghafal dan menganalisis, tetapi tidak bisa memiliki empati. Tidak bisa memberi nasihat moral. Karena itu adalah tugas manusia—dan itu seharusnya menjadi misi utama pendidikan.

Baca Juga:  MBG dan Ujian Negara: Dari Dapur Rakyat hingga Mahkamah Konstitusi

Kita butuh lulusan yang:

  1. Bisa berpikir kritis.
  2. Memiliki kreativitas yang tidak bisa ditiru robot.
  3. Tahu kapan menggunakan AI dan kapan menggunakan hati.

Penutup: Jangan Terlambat Lagi

Kampus kita pernah terlambat menghadapi internet. Terlambat menghadapi industri 4.0. Kini AI datang lebih cepat. Kita tidak boleh lagi lambat.

Jika kampus tidak berubah, bisa jadi yang memberi kuliah adalah robot, dan mahasiswa hanya ingin gelar.

Tapi jika kampus bisa berubah, Indonesia berpotensi memainkan peran penting di dunia baru yang dikendalikan data, dipandu etika, dan digerakkan oleh kecerdasan—baik buatan maupun manusiawi. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni