
Di balik kemenangan Aceh, aroma pengkhianatan mulai tercium. Hantom Manoe curiga, Gajah Mada menanti momen, dan seorang dalam benteng siap membuka gerbang untuk musuh.
Hantom Manoe (Seri 18): Musuh dalam Selimut; Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Malam turun di Benua Tamiang dengan gelisah. Meski pasukan Aceh baru saja memenangkan pertempuran sengit dengan siasat cerdik, suasana di dalam benteng tetap mencekam. Hantom Manoe berdiri di atas dinding benteng, memandangi medan perang yang masih dipenuhi mayat dan api yang belum sepenuhnya padam.
“Apa kau mencium bau pengkhianatan?” suara Teuku Gantar Alam memecah keheningan.
Hantom Manoe menoleh, ekspresinya serius. “Kemenangan ini terlalu mudah. Gajah Mada bukan orang yang mundur tanpa perlawanan berarti.”
Baca Seri 1-17 Hantom Manoe
Teuku Gantar Alam mengangguk. “Mata-mata kita melaporkan adanya gerakan aneh di luar benteng. Pasukan Majapahit tidak sepenuhnya mundur. Mereka hanya berpindah posisi… seperti menunggu sesuatu.”
Hantom Manoe mengepalkan tangannya. “Mereka menunggu seseorang membuka pintu dari dalam.”
Racun dalam Keluarga Sendiri
Di dalam istana, Raja Muda Sedia duduk di ruang pertemuan bersama beberapa bangsawan kepercayaannya. Peta strategi terbentang di meja kayu, sementara lilin-lilin berkelip menerangi wajah mereka yang dipenuhi kekhawatiran.
“Kita memang menang hari ini,” kata Raja Muda Sedia, “tapi aku merasa belum aman. Gajah Mada bukan hanya seorang panglima perang, dia seorang ahli strategi. Jika dia tidak bisa menaklukkan kita dengan senjata, dia akan mencari cara lain.”
Seorang pria tua berjubah biru, Teuku Malikul Adil, menghela napas panjang. “Yang Mulia, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan tawaran damai yang mereka kirim sebelumnya.”
Teuku Cindaku, yang duduk di sudut ruangan, langsung mendengus. “Damai? Tidak ada damai dengan Majapahit! Itu hanya jebakan!”
“Tapi berapa lama kita bisa bertahan?” Teuku Malikul Adil membalas dengan suara tenang. “Benteng ini memang kuat, tapi tanpa pasokan dari luar, kita akan kehabisan bahan makanan dan obat-obatan. Jika perang berlarut-larut, rakyat yang akan menderita.”
Raja Muda Sedia menatapnya tajam. “Apa yang kau sarankan?”
Teuku Malikul Adil menundukkan kepala. “Aku hanya menyarankan agar kita tidak menutup semua kemungkinan. Jika ada cara untuk menghindari kehancuran total, kita harus mempertimbangkannya.”
Hantom Manoe dan Teuku Gantar Alam baru saja memasuki ruangan saat mendengar kata-kata itu.
“Membicarakan perdamaian dengan Majapahit sama saja menyerahkan kepala kita sebelum bertarung,” kata Hantom Manoe dingin. “Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Teuku Malikul Adil menatapnya dengan senyum tipis. “Kau seorang prajurit, Hantom Manoe. Kau berpikir dengan pedang, bukan dengan kepala.”
Hantom Manoe mendekat, matanya menyipit penuh curiga. “Dan kau seorang penasihat, tapi kata-katamu terdengar seperti suara musuh.”
Ruangan mendadak sunyi. Teuku Malikul Adil tidak menunjukkan ketakutan, tapi raja mengangkat tangan, meminta ketenangan.
“Kita tidak akan bertindak gegabah,” kata Raja Muda Sedia. “Tapi kita juga tidak boleh mengabaikan kemungkinan pengkhianatan. Teuku Gantar Alam, perketat pengawasan di dalam benteng. Aku ingin tahu siapa saja yang berhubungan dengan Majapahit.”
Teuku Gantar Alam mengangguk. “Aku akan segera bertindak.”
Saat pertemuan selesai dan semua orang meninggalkan ruangan, Hantom Manoe masih berdiri di ambang pintu, menatap punggung Teuku Malikul Adil yang berjalan pergi.
“Aku tak pernah percaya pada orang yang terlalu ingin berdamai dengan musuh,” gumamnya.
Malam yang Dipenuhi Bayangan
Di luar benteng, di dalam tenda utama Majapahit, Gajah Mada duduk dengan tenang sambil mengamati sebuah peta kecil. Rakryan Nala Rengga berdiri di sampingnya, menunggu perintah.
“Apakah orang kita sudah bersiap?” tanya Gajah Mada.
Rakryan Nala Rengga tersenyum tipis. “Sudah. Kita punya seseorang di dalam yang bersedia membuka gerbang saat waktunya tiba.”
Gajah Mada mengangguk perlahan. “Bagus. Begitu pintu terbuka, kita akan menghabisi mereka dalam satu malam.”
Malam di Benua Tamiang semakin larut. Di atas dinding benteng, Hantom Manoe memandangi bintang-bintang, mencoba membaca tanda-tanda pertempuran yang akan datang.
Tanpa ia sadari, di dalam benteng sendiri, seorang pengkhianat sudah bersiap memainkan peranannya. (#)
Bersambung pada seri ke-19: Gerbang yang Terbuka di Tengah Malam
Penyunting Mohammad Nurfatoni


