Telaah

Ketika Hati Ikut Berhaji, Catatan Ustaz Dayak

49
×

Ketika Hati Ikut Berhaji, Catatan Ustaz Dayak

Sebarkan artikel ini
Haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi perjalanan spiritual penuh makna. Dari persiapan fisik, spiritual, hingga materi, semua menyatu demi meraih haji yang mabrur.
Ketika Hati Ikut Berhaji (Ilustrasi AI)

Haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi perjalanan spiritual penuh makna. Dari persiapan fisik, spiritual, hingga materi, semua menyatu demi meraih haji yang mabrur.

Oleh Muhammad Damanhuri alias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia dan Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat. Bersama Mualaf, Kita Mampu!

Tagar.co – Rabu, 30 April 2025, pagi itu saya berdiri di antara deretan kursi peserta manasik haji, sambil sesekali memperhatikan wajah-wajah yang duduk penuh harap. Saya sedang bertugas sebagai panitia manasik haji dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pontianak Tenggara.

Di tengah-tengah keramaian itu, saya tidak sekadar menjalankan peran teknis. Ada sesuatu yang lebih dalam yang saya rasakan: keinginan untuk turut menyemarakkan semangat para jemaah, menyambut musim haji dengan gembira.

Baca juga: Musim Haji Dimulai: Jemaah Dunia Mulai Berdatangan ke Tanah Suci

Berbagai karakter jemaah menghiasi ruangan hari itu. Ada yang khusyuk menyimak materi yang disampaikan, ada pula yang justru sibuk mengobrol dengan teman di sebelahnya. Seperti biasa, dinamika semacam ini menjadi bagian dari keseharian kami sebagai panitia.

Baca Juga:  Saat Pemimpin Zalim Berkuasa, Bagaimana Sikap Seorang Mukmin?

Namun, kami tidak ingin hal itu mengurangi kenyamanan mereka. Kami berusaha agar suasana tetap hangat dan bersahabat, agar semua merasa dihargai dan diperhatikan, seolah-olah mereka sedang menuju perjalanan terpenting dalam hidup.

Dari peristiwa kecil itu, saya terdorong untuk menulis. Menuliskan rasa, menuliskan semangat, dan menuliskan apa arti sebenarnya dari musim haji yang sebentar lagi akan tiba.

Persiapan Matang

Bagi umat Islam, musim haji adalah momen yang sangat dinanti. Setiap tahun, jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah yang menjadi rukun Islam kelima.

Mereka datang membawa harapan, doa, dan pengharapan ampunan dari Allah Swt. Di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina, mereka menjalankan rangkaian ibadah yang sarat makna—ritual yang tidak hanya melelahkan fisik, tetapi juga menggugah batin.

Haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan spiritual yang dalam. Dalam ibadah ini, kita belajar tentang pembersihan diri, mengakui kelemahan dan memohon ampunan. Kita juga belajar tentang pengorbanan, saat harus menundukkan ego dan keinginan pribadi demi ketaatan.

Baca Juga:  Ratusan Mualaf Padati Penutupan Pesantren Ramadan di Kalbar

Di sana, kita menyaksikan persatuan, ketika ribuan manusia yang berbeda warna kulit, bahasa, dan budaya berdiri sejajar di hadapan Allah. Dan yang terpenting, kita belajar ketaatan—sebuah pengabdian total kepada perintah Tuhan.

Namun, semua itu tentu memerlukan persiapan. Menyambut musim haji tak bisa dilakukan secara spontan. Ada persiapan fisik: menjaga kesehatan, melatih kebugaran.

Ada persiapan spiritual: memperbanyak ibadah, memperbaiki niat, memperkuat iman. Ada pula persiapan materi, agar segala kebutuhan selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah dapat terpenuhi dengan layak.

Saya percaya, dengan pemahaman dan persiapan yang sungguh-sungguh, setiap jemaah akan mampu menjalani ibadah haji dengan khusyuk, dan kembali ke Tanah Air membawa hati yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Semoga semua jemaah kita tahun ini dikaruniai haji yang mabrur, dan semoga catatan kecil ini menjadi pengingat bahwa ibadah agung ini layak disambut bukan hanya dengan koper dan paspor, tetapi juga dengan hati yang siap untuk berubah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni