Opini

Menjadi Guru Besar Umat: Rebranding Cendekiawan di Era Digital

49
×

Menjadi Guru Besar Umat: Rebranding Cendekiawan di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. H. Achmad Zuhdi (kiri) dalam acara ICMI Jatim

Di tengah pengukuhan Prof. Dr. H. Achmad Zuhdi sebagai Guru Besar UINSA Surabaya, tulisan ini mengajak para cendekiawan muslim menata ulang peran: membina umat, bukan sekadar berbicara dari podium.

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur; Akademisi Unitomo

Tagar.co – Sebagai kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang topik “cendekiawan”, izinkan saya kembali mengajak kita semua—khususnya para cendekiawan muslim—untuk menghadirkan ilmu yang bukan hanya bertengger di atas podium, tetapi hadir membumi, menebar kemanfaatan dan kemaslahatan sesuai bidang keilmuan dan keahlian kita masing-masing. Karena ilmu sejatinya bukan hanya untuk kemajuan pribadi, tetapi juga untuk penguatan umat dan kemaslahatan bangsa.

Kata “cendekiawan” hari ini terdengar megah tapi terasa jauh. Kata itu sering kali terasosiasi dengan seminar internasional, jurnal bereputasi, dan menara gading akademik. Terhadap kata itu, masyarakat merasa kehilangan. Pertanyaan kerinduan mereka adalah: di mana peran cendekiawan saat etika publik runtuh, korupsi merajalela, remaja kehilangan arah hingga terjadi tragedi kekerasan dalam keluarga, dan rumah tangga banyak yang gamang secara ekonomi maupun moral?

Baca juga: Saatnya para Cendekiawan Turun Gunung

Tidak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa kini saatnya kita para cendekiawan melakukan rebranding, menata ulang citra dan peran cendekiawan. Bukan untuk turun derajat, tetapi untuk turun tangan. Bukan meninggalkan keilmiahan, tetapi memperluas kemanfaatannya. Karena dalam Islam, ilmu bukan sekadar indikator prestasi, tetapi penunjuk jalan.

Baca Juga:  Perang Iran-Israel Berdampak ke Dapur Rakyat

Cendekiawan sebagai Penuntun Nilai

Islam tidak mengenal dikotomi antara keilmuan dan keteladanan. Nabi Muhammad Saw. adalah sosok pendidik, pemimpin, suami, pebisnis, dan negarawan. Dalam satu pribadi tergabung ilmu dan akhlak. Sempurna.

Ilmuwan muslim sejati harus menjadi murabbi ruhani di tengah umat: menuntun remaja dengan pemahaman, membina rumah tangga dengan hikmah, menyuarakan etika publik dengan keberanian, dan menyemai nilai-nilai Islam dengan cinta.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari dada manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin bodoh yang memberi fatwa tanpa ilmu.” (H.R. Bukhari No. 100; Muslim, No. 2673)

Dari Konferensi ke Komunitas

Menjadi cendekia bukan berarti harus selalu berada di ruang elitis. Justru di era digital ini, ruang dakwah intelektual hadir di sekitar kita: grup WhatsApp keluarga, video edukatif di TikTok, majelis RT, bahkan ruang tamu warga.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep engaged scholarship dalam teori pendidikan kritis (Boyte, 2008), yang mendorong akademisi untuk tidak hanya menciptakan pengetahuan, tetapi juga hadir secara aktif dalam menyelesaikan problem nyata masyarakat.

Baca Juga:  Anak Kita Vs Algoritma

Membina, Bukan Menggurui

Cendekiawan masa kini perlu mengubah pendekatan, dari narasi “mengajar” ke semangat “membersamai”. Tidak lagi berbicara dari menara, tetapi mendengarkan dari dekat.

Ilmu tak boleh hanya menjadi milik “kampus”, tetapi menjadi denyut kehidupan umat. Inilah makna hikmah, sebagaimana firman Allah: “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (Q.S. Al-Baqarah: 269)

Turun Gunung secara Terhormat

Rebranding cendekiawan bukan berarti turun kasta, tapi meninggikan derajat pengabdian. Seperti Nabi Musa As. yang turun dari Thur Sina membawa wahyu, cendekiawan pun mesti “turun” dari podium ke masyarakat, membawa solusi dan harapan.

Jika kita terlalu sibuk mengejar indeks sitasi lalu lupa berbicara kepada umat, maka panggung masyarakat akan kosong, dan celah itu akan diisi oleh opini tanpa dasar, bahkan oleh kebodohan yang bersuara lantang.

Penutup

Ilmu yang tak digunakan untuk membimbing hanya akan menjadi angka. Tapi ilmu yang digunakan untuk membina, menginspirasi, dan menyinari, akan menjadi amal jariyah yang tak terputus.

Baca Juga:  Ibnu Muljam dan Pelajaran Nuzululquran: Saat Al-Qur'an Dibaca tanpa Hikmah

Sebagai sebuah gagasan, tulisan ini tentu terbuka bagi kritik, diskusi, dan pengayaan. Saya mengundang para pembaca, akademisi, serta sahabat-sahabat cendekia untuk bersama menyempurnakannya—karena rebranding peran cendekiawan bukan kerja satu orang, tapi kerja kolaboratif umat.

Secara khusus, tulisan ini saya persembahkan sebagai hadiah untuk sahabat saya, sesama pengurus ICMI Jawa Timur, yang hari ini dikukuhkan sebagai Guru Besar di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Di momen bersejarah dan penuh berkah ini, saya mengajak beliau untuk sungguh-sungguh menjadi cendekiawan yang bukan hanya guru besar secara gelar, tetapi juga guru besarnya bangsa, guru besarnya umat, guru besarnya rakyat. Cendekiawan yang tidak hanya bersinar di kancah akademik dan dinamika keilmuan internasional, tetapi juga mencerahkan kehidupan umat dan membangun kemaslahatan bersama.

Beliau adalah: Prof. Dr. H. Achmad Zuhdi, D.H., M.Fil.I, Guru Besar ke-103 UINSA dalam bidang Ilmu Sejarah Intelektual Islam Klasik.

Melalui tulisan ini, atas nama pribadi dan Ketua ICMI Jawa Timur, saya mengucapkan: Selamat dan sukses! Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan berkah ilmu dan keberkahan hidup kepada beliau, dan juga kepada seluruh keluarga besar UINSA. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni