Feature

FOMO Emas: Kilau Investasi atau Jebakan Psikologis?

35
×

FOMO Emas: Kilau Investasi atau Jebakan Psikologis?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Ramai-ramai beli emas, tapi apa karena strategi matang atau sekadar takut ketinggalan? Artikel ini mengulas sisi psikologis FOMO yang mengintai di balik kilau investasi emas.’

Oleh Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur; Akademisi Unitomo Surabaya.

Tagar.co – Beberapa waktu belakangan, antrean di toko emas kembali menjadi pemandangan yang lumrah. Tak hanya di butik Antam, tetapi juga di gerai-gerai konvensional hingga aplikasi digital. Semua berebut membeli emas. Apa sebabnya?

Emas dianggap sebagai penyelamat nilai di tengah ekonomi yang tidak pasti—terutama ketika Rupiah terus melemah dan Dolar AS terus menguat. Tapi, benarkah semua ini murni karena strategi keuangan yang bijak? Atau, jangan-jangan, kita sedang terkena FOMO?

Istilah FOMO (fear of missing out) merujuk pada rasa takut tertinggal tren atau peluang yang sedang ramai dibicarakan. Dalam konteks emas, FOMO ini membuat banyak orang ikut-ikutan membeli hanya karena melihat orang lain melakukannya. Akibatnya, tak sedikit yang masuk di harga tinggi tanpa strategi yang matang.

Emas: Aset Favorit saat Krisis

Tidak bisa dimungkiri, emas memang punya daya tarik tersendiri. Ia kerap disebut sebagai safe haven, karena nilainya cenderung naik saat krisis. Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa harga emas global naik sekitar 15 persen sepanjang 2024.

Baca Juga:  Ketika Remaja Berada di Hutan Belantara Bernama Fomo

Di Indonesia, harga emas batangan Antam melonjak dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,35 juta per gram hanya dalam empat bulan pertama tahun 2025. Tak heran jika banyak orang melihat emas sebagai perlindungan dari inflasi dan depresiasi rupiah.

Baca juga: Emas atau Dinar? Menimbang Investasi Bernilai dan Berkah

Selain itu, emas memiliki keunggulan sebagai aset yang likuid—mudah dijual dan diuangkan. Bisa dimiliki dalam bentuk fisik maupun digital melalui aplikasi. Namun justru di sinilah letak jebakannya. Karena terlalu mudah diakses dan sering dilihat sebagai “investasi pasti untung”, banyak orang tergoda membeli tanpa pertimbangan matang.

Kapan Emas Bisa Merugikan?

Emas memang berkilau, tetapi bukan berarti bebas risiko.
Pertama, harga emas bisa sangat fluktuatif. Ketika harga Dolar menurun atau suku bunga The Fed naik, harga emas bisa terkoreksi tajam. Bila Anda membeli di harga tinggi lalu harga turun, siap-siap menelan kekecewaan.

Kedua, emas tidak menghasilkan pendapatan pasif. Ia hanya disimpan, tak seperti saham yang membagikan dividen atau properti yang bisa disewakan.

Baca Juga:  Idulfitri di Hari Jumat: Antara Kewajiban, Keringanan, dan Kedewasaan Beragama

Ketiga, ada biaya tambahan yang sering kali luput dari perhitungan: biaya cetak sertifikat, penyimpanan di brankas, pajak, hingga biaya administrasi platform digital—semua bisa menggerus keuntungan.

Terakhir, jangan lupakan risiko penipuan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lebih dari 100 kasus penipuan emas digital sepanjang 2024. Membeli emas bukan hanya soal murah atau mahal, tetapi juga soal kepercayaan dan keamanan.

Jangan Asal Ikut-Ikutan

Dalam dunia investasi, prinsip utama yang harus dipegang adalah: pahami dulu, baru beli. Jangan membeli hanya karena takut ketinggalan. Jangan pula menaruh seluruh dana di satu jenis aset. Investasi yang ideal adalah yang sesuai dengan tujuan, profil risiko, dan jangka waktu keuangan Anda.

Kalau tetap ingin berinvestasi emas, lakukan dengan strategi. Salah satunya adalah metode dollar cost averaging—membeli secara bertahap dalam jumlah kecil agar tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga. Alternatif lainnya, kombinasikan emas dengan instrumen lain seperti reksa dana, saham, atau properti.

Bijak Pilih, Bijak Bertindak

Fenomena FOMO emas ini menyiratkan masih adanya celah dalam literasi keuangan masyarakat. Banyak yang belum menyadari bahwa investasi harus direncanakan, bukan sekadar ditiru. Banyak pula yang belum mengenal instrumen selain emas.

Baca Juga:  Meluruskan Hadis Tiga Fase Ramadan: Antara Semangat dan Ketelitian Ilmiah

Padahal, dunia investasi itu luas. Bagi yang berani mengambil risiko, saham bisa menjadi pilihan menarik. Yang ingin lebih aman bisa mencoba reksa dana pasar uang atau obligasi. Properti dapat menjadi sumber penghasilan pasif. Bahkan kripto pun bisa dilirik, asal siap menghadapi risiko ekstremnya.

Intinya, jangan hanya tergoda oleh kilau emas. Lihat juga logika di baliknya.

Penutup

Emas tetap menjadi instrumen investasi yang kuat, terutama dalam situasi global yang serba tidak pasti. Namun, bukan berarti harus buru-buru membeli hanya karena ramai dibicarakan. Kilau emas memang menggoda, tetapi logika tetap harus menjadi panglima. FOMO bisa mendorong kita ikut-ikutan, tetapi jangan sampai keputusan finansial membawa kita ke jebakan harga.

Bijaklah memilih. Dan ingat, tujuan investasi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan meraih ketenangan dan kesejahteraan di masa depan.