
Aisyiyah Sidoarjo melatih para ibu memahami gizi seimbang, PHBS, dan cara membuat media edukasi kesehatan agar menjadi pelopor keluarga sehat dan agen perubahan di tengah masyarakat.
Tagar.co – Sabtu pagi, 12 April 2025, lantai 3 gedung PDM Sidoarjo ramai oleh kehadiran para ibu dari berbagai ranting dan cabang. Mereka datang bukan sekadar menghadiri undangan, melainkan untuk menyambut panggilan mulia: menjadi agen perubahan gaya hidup sehat di tengah keluarga dan masyarakat.
Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo menggelar Pelatihan Kader Gizi Seimbang bertema Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PDA Dra. Nurlaila dan perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (P3AKB) Kabupaten Sidoarjo, Heri Jatmiko, S.Sos., M.M.
Dalam sambutannya, Heri berharap agar ilmu yang diperoleh tak hanya menjadi pengetahuan, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Karena peran ibu dalam mewujudkan keluarga sehat adalah fondasi masyarakat yang kuat,” ujarnya.
Gizi Seimbang dan “Isi Piringku”
Materi pertama disampaikan oleh Selvie Indah Mawarni, S.Gz., ahli gizi RSU Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan. Dengan penuh semangat, ia menjabarkan empat pilar Pedoman Gizi Seimbang yang tertuang dalam Permenkes No. 41 Tahun 2014.
Menurutnya, gizi seimbang adalah tentang keberagaman dalam setiap menu yang dikonsumsi sehari-hari—karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, hingga serat, semua punya peran masing-masing.
“Bayangkan piring makan kita seperti panggung pertunjukan, di mana setiap aktor—nasi, sayur, buah, dan lauk—punya peran penting untuk menjaga tubuh tetap bugar,” jelas Selvie sambil memperkenalkan konsep Isi Piringku.
Peserta pun diajak menghitung porsi ideal: sepertiga lauk dan dua pertiga karbohidrat untuk separuh piring, serta sepertiga buah dan dua pertiga sayur untuk setengah lainnya.

PHBS dan Berat Badan Ideal
Namun gizi seimbang saja tidak cukup tanpa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selvie mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tubuh juga berkaitan erat dengan kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, tidak merokok, menutup makanan, hingga memberantas jentik nyamuk.
Sesi ini menjadi semakin hidup ketika para peserta diajak menimbang berat badan masing-masing. Suasana berubah riuh penuh gelak tawa saat hasil timbangan menunjukkan angka yang “berlebih”. “Ternyata isi piring kita masih harus dikoreksi,” celetuk salah satu peserta sambil tertawa.
Media Promosi Kesehatan yang Efektif dan Sederhana
Materi kedua tak kalah menarik. Umi Khoirun Nisak, SKM., M.Epid., membimbing peserta membuat media promosi kesehatan yang efektif dan mudah dijangkau. Baik secara manual maupun digital, media kesehatan perlu dibuat menyenangkan namun tetap bermakna agar bisa mengubah perilaku masyarakat secara bertahap.
Peserta kemudian diajak praktik langsung membuat media sederhana: dari poster edukatif hingga ide konten digital. “Kunci utama adalah pesan harus singkat, menarik, dan tepat sasaran,” jelas Umi.
Mencetak Kader yang Menerangi Sekitar
Pelatihan ini bukan sekadar agenda formalitas. Ini adalah langkah konkret PDA Sidoarjo untuk mencetak para kader yang mampu menyinari lingkungan sekitarnya—mulai dari rumah tangga sendiri hingga masyarakat yang lebih luas. Ilmu tentang gizi, kebersihan, dan media promosi bukan hanya teori di ruangan, tapi bekal untuk menjadikan Aisyiyah sebagai pelopor keluarga sehat.
“Setiap rumah adalah pos kesehatan jika dimulai dari ibu yang sadar gizi,” tutup Selvie dalam kalimat pamungkasnya. (#)
Jurnalis Dian Rahayu Agustina Penyunting Mohammad Nurfatoni






