
Salat Tahajud di sepertiga malam terakhir jadi amalan kunci membangun takwa. Dari pengajian Ahad Pagi di Menganti, pesan istikamah disuarakan sebagai bekal spiritual pascaramadan.
Tagar.co – Menjaga istikamah dalam beribadah pascaramadan menjadi pesan utama Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, Badrus Sholeh, S.E., dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti. Kegiatan ini berlangsung di halaman Masjid Al-Islah, Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad (13/4/2025).
Suasana kajian kali ini terasa berbeda. Setelah sebulan libur selama Ramadan, kegiatan rutin Pengajian Ahad Pagi kembali digelar. Uniknya, momen ini juga dirangkai dengan halalbihalal, mempertemukan para warga Muhammadiyah setempat dalam nuansa kekeluargaan dan spiritualitas yang mendalam.
Baca juga: Menjaga Api Iman di Bulan-Bulan Sunyi
Di hadapan jemaah, Badrus Sholeh mengangkat tema “Membangun Potensi Takwa Pasca-Ramadan.” Ia mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan memiliki kecenderungan untuk mudah lelah, malas, dan bosan—dan di situlah ujian keistikamahan hadir.
“Kadang alasan kita macam-macam, hanya karena ibadah itu sunah. Maka bismillah kita lawan. Mau ada hajatan, undangan, sibuk apapun, kalau kita niat puasa ya puasa saja,” ujarnya menyemangati.
Menurutnya, bulan Syawal memang dipenuhi hajatan. Namun, itu bukan alasan untuk meninggalkan puasa sunah enam hari yang sangat dianjurkan. Semangat mempertahankan ritme ibadah menjadi tolok ukur keimanan di sebelas bulan setelah Ramadan.
Tahajud dan Keutamaan Malam
Badrus juga menyinggung pentingnya menjaga salat malam. Jika selama Ramadan terbiasa salat tarawih dan kiyamulail, maka di luar Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkannya dengan salat tahajud.
Ia mengutip Surah Al-Isra 79:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Menurutnya, orang yang menghidupkan malam dengan tahajud, meski hanya satu jam sebelum Subuh, akan dimuliakan oleh Allah dan diberi kedudukan terpuji—maqaman mahmuda.
“Yang penting istikamahnya. Kalau sudah terbiasa bangun malam, tanpa alarm pun tubuh akan terbangun dengan sendirinya. Allah yang akan mendesainnya,” ungkapnya meyakinkan.

Ucapan Terbaik Pascaramadan
Dalam tausiahnya, Badrus juga menyoroti makna ucapan yang paling baik setelah Ramadan. Bukan “mohon maaf lahir batin” yang utama, melainkan “taqabalallahuminnawaminkum”—semoga Allah menerima amal ibadah kita.
“Rasulullah mencontohkan ucapan itu karena tidak ada jaminan amal kita diterima. Kita bisa saja capek berpuasa, kiyamulail, iktikaf semalam suntuk, tapi amalnya ditolak. Naudzubillah,” katanya.
Namun demikian, ucapan maaf tetap menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antarsesama, karena silaturahim adalah jembatan persaudaraan dan ampunan.
Tiga Karakter Orang Bertakwa
Di akhir ceramahnya, Badrus mengulas tiga karakter orang bertakwa berdasarkan Surah Ali Imran ayat 134:
-
Suka bersedekah di kala lapang maupun sempit.
Sedekah bukan hanya soal uang, tapi juga waktu, tenaga, bahkan memfasilitasi taklim. -
Mampu menahan amarah.
Rasulullah Saw. menjadi teladan dalam hal ini: marah hanya ketika agama dihina, bukan saat dirinya disakiti. -
Memaafkan kesalahan orang lain.
Menurutnya, memaafkan lebih berat daripada meminta maaf. Ketulusan memaafkan terlihat dari kemampuan untuk tidak lagi mengungkit kesalahan.
“Kalau masih sering cerita tentang kesalahan orang lain, itu tandanya belum ikhlas memaafkan,” ujarnya menutup tausiyah.
Kajian yang hangat dan penuh hikmah ini menjadi pengingat penting bagi para hadirin: bahwa Ramadan boleh berlalu, tapi semangat dan nilai-nilai yang dibangun di dalamnya harus tetap hidup dalam istikamah sepanjang tahun. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












