
Bulan suci Ramadan telah berlalu, namun perjuangan belum selesai. Inilah saatnya membuktikan bahwa ibadah bukan musiman. Sebelas bulan ke depan adalah ladang ujian bagi orang-orang bertakwa.
Tagar.co – Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Badrus Sholeh, S.E. menungkapkan tantangan di sebelas bulan pascaramadan pada kegiatan Pengajian Ahad Pagi sekaligus halalbihalal yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad (13/4/25).
Suasana pagi yang cerah, membuat para warga Muhammadiyah Kecamatan Menganti begitu antusias melangkahkan kaki menuju halaman masjid Al-Islah Sidowungu, Menganti Gresik tempat diselenggarakannya kegiatan.
Acara yang digelar pukul 06.00 WIB ini mengusung tema Membangun Potensi Takwa Pasca-Ramadan. “Alhamdulillah, Allah memberi kita umur panjang sehingga kita dipertemukan dengan bulan ramadan sampai selesai, sungguh nikmat yang luar biasa,” tuturnya di awal memberikan tausiyah.
Dia mengatakan bahwa sangat banyak saudara kita, keluarga kita yang mungkin sangat ingin bertemu dengan bulan ramadan tetapi Allah menakdirkan lain, Allah memanggil mereka sebelum ramadan tiba dan itu merupakan sebuah kehilangan kesempatan yang luar biasa.
“Maka kita yang bertemu dengan bulan Ramadan ini adalah orang terpilih untuk menikmati bulan yang mulia,” ujarnya.
Ramadan betul-betul bulan yang mulia, sebagaimana surah Al-Baqarah ayat 183: Ya ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumus-siamu kama kutiba ‘alallażina min qablikum la’allakum tattaqun (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).
“Allah mewajibkan kita puasa karena mempunyai target, punya gool yang jelas,” ungkapnya. Allah memerintahkan puasa di bulan Ramadan bukan hanya rutinitas tahunan yang penting puasa, tetapi Allah hendak menjadikan Ramadan sarana kita naik kelas dari orang yang mukmin menjadi mutakin.
“Ini kesempatan yang luar biasa bagi kita kalau ramadan kemarin betul-betul dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” katanya. Semestinya kualitas keimanan kita menjadi lebih baik karena tidak ada jaminan lepas dari Ramadan kita akan berubah dari mukmin menjadi muttaqin, karena semua tergantung bagaimana kita mengisi sebulan itu, tambahnya.

Badrus Sholeh menerangkan bahwa Allah mendesain Ramadan itu dengan amaliah dari pagi sampai pagi lagi, hampir-hampir kita itu seolah-olah diminta agar menjadikan ramadan sebagai sarana untuk memperbaiki diri kita.
Mulai dari sahur, kemudian start puasa dari subuh hingga Maghrib meninggalkan hal-hal yang halal. Makan dan minum itu halal, tapi kita tinggalkan sepanjang hari sampai maghrib, kita berusaha untuk menjaga kualitas keimanan kita.
Kemudian di malam hari kita hidupkan dengan kualitas yang lebih mulia lagi dengan kiyamulail. Jika dibulan lain kita melaksanakan kiyamulail di sepertiga malam terakhir, di bulan Ramadan kita lakukan lebih awal melalui tarawih.
Selain itu, kita juga menghidupkan dengan tilawah dan dengan sedekah. Semua rangkaian ibadah itu adalah sarana untuk meraih ketakwaan.
“Meraih ketakwaan itu memang tidak mudah, tidak hanya sekedar puasa disiang hari, tetapi bagaimana kita menghidupkan sepanjang bulan ramadan dengan semua amalan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw,” kata Badrus Sholeh.
Bahkan di sepuluh malam terakhir Rasulullah itu sepenuhnya berada didalam masjid untuk melakukan iktikaf, dan istrinya yang mengantarkan keperluan nabi selama berada didalam masjid. Maka tugas kita adalah bagaimana kita itibak terhadap Rasulullah.
Dalam tausiyahnya, Badrus Sholeh mengungkapkan kepada para jemaah yang hadir bahwa tugas utama kita setelah Ramadan berlalu adalah bagaimana memastikan agar nilai-nilai ramadan yang sudah kita tanam bisa terjaga di sebelas bulan pasca ramadan.
Hal ini dia sampaikan karena justru kualitas ibadah seorang muslim itu akan dilihat di sebelas bulan pasca ramadan.
“Apakah kita bisa istikamah menjaga kualitas ibadah kita di sebelas bulan itu?” tanya Badrus Sholeh.
Memang berat, jangan di sebelas bulan pasca ramadan, Di awal pasca ramadan saja ujian kita sangat berat. Biasanya setiap malam kita bisa tilawah, bisa tahajud, begitu malam satu Syawal atau menjelang salat Idulfitri, jarang ada orang yang tilawah bahkan melaksanakan salat Tahajud karena sudah capek menyiapkan berbagai macam keperluan hari raya. Itu semua adalah tantangan kita.
“Ini semua adalah PR kita bersama, kalau selama ramadan kita sudah puasa, maka bagaimana kita menjaga puasa-puasa sunnah kita selama pasca ramadan,” terangnya.
Kemudian Badrus Sholeh melanjutkan tausiahnya dengan mengatakan bahwa sepertinya Allah dan Rasulullah tidak mau kehilangan momentum umatnya yang sudah semangat beribadah di bulan ramadan lalu tiba-tiba ramadannya hilang, beliau tidak mau spirit ramadan itu hilang begitu saja.
Oleh karena itu, Allah dan Rasulullah menciptakan suatu amaliah langsung pasca ramadan yang bernama puasa Syawal. Bahkan sunahnya itu langsung tanggal dua Syawal. Hal ini seolah-olah Allah dan Rasulullah tidak ingin semangat kita yang sudah diposisi tinggi tidak drop kebawah, tetapi hal ini memang tidak mudah.
Rasulullah menjelaskan, yang penting puasa di bulan Syawal sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berbunyi: Man sama Ramadan summa atba’ahu sittan min Syawal kaana kashiyaamid dahr (Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian dia menambah dengan berpuasa 6 hari dari bulan Syawal adalah dia seperti berpuasa setahun).
Mengapa demikian? Rasulullah menjelaskan bahwa Allah itu menghadirkan setiap kebaikan 10 kali lipat. Setiap amal kebaikan dibalas 10 kali lipat oleh Allah.
Jika puasa selama 30 hari diberikan ganjaran sebesar 10 kali lipat maka sama dengan 300 hari, kemudian 6 hari diberi ganjaran 10 kali lipat berarti sama dengan 60 hari, maka jumlahnya menjadi 360 hari, seperti jumlah hari dalam setahun.
“Berarti sempura seperti puasa satu tahun penuh, maka rugi sekali kalau kita tinggalkan,” kata Badrus Sholeh.
“Sempatkan niat puasa sunah Syawal karena ganjarannya seperti puasa satu tahun penuh,” pesannya. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












