Opini

Membangun Malang dari Akar: Strategi Inklusif Atasi Kemiskinan

46
×

Membangun Malang dari Akar: Strategi Inklusif Atasi Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Strategi pengurangan kemiskinan tak cukup dari atas. Artikel ini mengupas pendekatan inklusif berbasis lokalitas, data, dan kolaborasi lintas sektor untuk menyejahterakan warga Kabupaten Malang.

Kajian Akademik dan Rekomendasi Kebijakan Penulis: Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur; akademisi Unitomo Surabaya; HP: 0813-3135-0191; Email: dr.ululalbab@gmail.com

Tagar.co – Upaya percepatan pengurangan kemiskinan di Kabupaten Malang perlu diarahkan pada strategi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pro-rakyat miskin, dan berbasis potensi lokal. Artikel ini merupakan kajian akademik berbasis literatur ilmiah yang mengintegrasikan data empiris dan hasil diskusi strategis bersama Bappeda Kabupaten Malang.

Fokus kajian tertuju pada sinergi antara pertumbuhan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, kebijakan afirmatif, serta kolaborasi multipihak dalam rangka mencapai target pengurangan kemiskinan secara berkelanjutan.

Pendahuluan

Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah strategis di Jawa Timur memiliki dinamika sosial-ekonomi yang kompleks. Meskipun angka pertumbuhan ekonomi menunjukkan perbaikan, kemiskinan struktural masih menjadi tantangan serius.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan strategi makro dan mikro, serta menempatkan masyarakat miskin sebagai subjek utama pembangunan.

Baca Juga:  Menjernihkan Isu Halal di Balik Perjanjian Dagang Indonesia–AS

Pertumbuhan Inklusif sebagai Pilar Utama

Menurut Ranis, Stewart, dan Ramirez (2000), pertumbuhan ekonomi yang inklusif adalah pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat miskin, dan memperkuat akses terhadap layanan dasar. Model ini menekankan bahwa pertumbuhan saja tidak cukup—ia harus inklusif secara sosial dan spasial.

Baca juga: Grok dan Tantangan Umat Islam di Era Kecerdasan Buatan

Kabupaten Malang perlu mengembangkan sektor-sektor padat karya berbasis potensi lokal seperti pertanian organik, UMKM kreatif, dan pariwisata berbasis masyarakat. Hal ini sejalan dengan temuan dari World Bank (2020) yang menyatakan bahwa pertumbuhan berbasis lokal dan komunitas memiliki efek langsung terhadap pengurangan kemiskinan di wilayah rural.

Strategi Peningkatan Kapabilitas dan Human Capital

Amartya Sen (1999) dalam teorinya tentang Development as Freedom menekankan pentingnya pembangunan kapabilitas masyarakat. Pengurangan kemiskinan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan orang untuk mengakses pendidikan, kesehatan, dan partisipasi ekonomi.

Data dari Bappeda menunjukkan bahwa kantong-kantong kemiskinan di Malang didominasi oleh rumah tangga dengan tingkat pendidikan rendah. Oleh karena itu, intervensi pendidikan vokasional, pelatihan kerja, dan pendidikan kewirausahaan menjadi sangat penting (Tilak, 2002; Unesco, 2021).

Baca Juga:  Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Perluasan Jaminan Sosial dan Perlindungan Sosial Adaptif

Sistem perlindungan sosial yang kuat sangat penting untuk menjaga daya tahan masyarakat miskin terhadap guncangan ekonomi, seperti pandemi dan bencana alam. Menurut Barrientos & Hulme (2008), jaminan sosial yang bersifat adaptif mampu memutus siklus kemiskinan antargenerasi.

Kabupaten Malang perlu memperkuat integrasi program perlindungan sosial seperti PKH, BPNT, dan subsidi pendidikan dengan program pemberdayaan berbasis komunitas, agar tidak hanya karitatif tapi juga transformatif.

Inovasi Kebijakan Berbasis Data dan Kolaborasi Multipihak

Pengambilan keputusan berbasis data sangat penting. Teknologi big data dan dashboard monitoring dapat digunakan untuk memetakan wilayah miskin hingga level RT/RW. Sebagaimana diuraikan oleh Kharas & Rogerson (2012), penggunaan data real-time mampu meningkatkan respons kebijakan dan efisiensi anggaran.

Selain itu, strategi penanggulangan kemiskinan harus melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas sipil, dan media. Ini dikenal sebagai pendekatan “pentahelix” yang efektif dalam memobilisasi sumber daya dan memperluas dampak (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000).

Rekomendasi Strategis untuk Kabupaten Malang

Berdasarkan kajian ini, penulis merekomendasikan:

  • Revitalisasi sektor ekonomi rakyat: terutama sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM berbasis digital dan kreatif.

  • Pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis lokalitas: program penguatan SDM di daerah tertinggal dengan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal.

  • Penguatan kelembagaan dan data kemiskinan: memastikan basis data kemiskinan yang akurat dan dinamis untuk perencanaan program yang lebih tepat sasaran.

  • Kolaborasi multipihak melalui forum kemiskinan daerah: wadah koordinasi lintas sektor dan stakeholder.

  • Pemanfaatan teknologi digital: untuk layanan publik, edukasi, dan pemantauan dampak program kemiskinan.

Baca Juga:  Kasus Guru Honorer Probolinggo: Antara Hukum Formal dan Keadilan Sosial

Penutup

Kabupaten Malang memiliki potensi besar untuk menjadi model nasional dalam pengentasan kemiskinan berbasis pertumbuhan inklusif dan kebijakan terintegrasi. Namun untuk itu dibutuhkan political will yang kuat, inovasi kebijakan yang adaptif, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni