Telaah

Kesombongan: Ujian Halus yang Mengintai Hati

56
×

Kesombongan: Ujian Halus yang Mengintai Hati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Kesombongan sering menyamar sebagai rasa lebih saleh atau paling paham agama. Padahal, ia bisa menjadi penghalang surga. Waspadai bentuknya yang halus dan sering tak terasa.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Tanpa sadar, kita kerap merasa lebih baik daripada orang lain. Hanya dengan melihat sekilas kehidupannya—dari unggahan media sosial, cara bicara, pilihan pakaian, atau jenis pekerjaannya—hati kita mulai meninggi. Kita merasa lebih saleh, lebih dekat dengan Allah, lebih banyak amal ibadah. Padahal, siapa yang tahu? Bisa jadi, di hadapan Allah, dialah yang jauh lebih mulia.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sebuah hadis:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ

“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam bentuk manusia. Mereka akan dilingkupi kehinaan dari segala arah.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan al-Baihaqi)

Baca juga: Harga Diri Sejati di Hadapan Allah

Baca Juga:  Ramadan dan Kehati-hatian Mengutip Hadis

Balasan bagi orang yang menyombongkan diri amat mengerikan. Kita kerap lupa, dunia ini hanyalah ladang ujian, dan segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Tidak ada alasan untuk merasa lebih tinggi dari sesama.

Jangan Meremehkan Orang Lain

Jika tangan kita belum bisa meringankan beban orang lain, setidaknya jangan sampai lisan ini menambah luka. Jangan mudah menilai dari tampilan luar. Bisa jadi, seseorang yang tampak biasa-biasa saja memiliki amalan tersembunyi yang luar biasa. Mungkin dia lebih khusyuk dalam doanya, lebih lama sujudnya, lebih ikhlas sedekahnya, lebih tulus tobatnya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka lebih baik dari mereka…” (Al-Hujurat: 11)

Pesan ini tegas: jangan remehkan siapa pun. Kita tidak tahu bagaimana Allah menilai seseorang. Bisa jadi, orang yang kita hina adalah kekasih Allah.

Baca Juga:  Dusta yang Menghimpit, Tobat yang Membebaskan

Kesombongan yang Tersembunyi

Yang paling berbahaya, kesombongan sering kali hadir dalam bentuk yang halus dan tersembunyi. Ia menyusup saat kita merasa paling paham agama, paling benar pendapatnya, paling lurus jalannya. Ia tumbuh diam-diam di balik jubah amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِّنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (H.R. Muslim)

Kesombongan adalah penyakit Iblis. Ia bukan makhluk yang tidak mengenal Allah. Ia beribadah ribuan tahun, tetapi kesombongan membuatnya menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Akhirnya, ia terlaknat dan menjadi musuh utama manusia.

Perbanyak Istighfar dan Muhasabah

Mari kita perbanyak istigfar. Tundukkan hati. Sering-seringlah bermuhasabah. Jangan sampai kita merasa sudah baik, padahal tanpa sadar sedang terjatuh dalam lubang kesombongan.

“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan. Jauhkanlah lisan kami dari menyakiti saudara kami. Jadikanlah kami hamba-Mu yang rendah hati, baik di hadapan-Mu maupun di hadapan sesama manusia.”

Baca Juga:  Sedekah Subuh, Amalan Kecil dengan Dampak Besar dalam Kehidupan

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari penyakit hati, terutama kesombongan yang halus dan tak terasa. Semoga kita dijadikan hamba yang rendah hati, penuh kasih, dan saling menguatkan. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni