Opini

Ketika Bumi Bergetar: Refleksi atas Gempa Myanmar dan Thailand

30
×

Ketika Bumi Bergetar: Refleksi atas Gempa Myanmar dan Thailand

Sebarkan artikel ini
Gempa besar mengguncang Myanmar dan Thailand, menorehkan duka dan peringatan. Tulisan ini mengulas sisi ilmiah, kemanusiaan, dan spiritual dari musibah yang terasa seperti kiamat kecil.
Seorang biksu Buddha berjalan melewati Istana Mandalay yang rusak saat matahari terbenam di Mandalay pada 31 Maret 2025, tiga hari setelah gempa dahsyat yang melanda Myanmar. (Foto Sebastien Berberar/AFP via Getty Images, via npr.org)

Gempa besar mengguncang Myanmar dan Thailand, menorehkan duka dan peringatan. Tulisan ini mengulas sisi ilmiah, kemanusiaan, dan spiritual dari musibah yang terasa seperti kiamat kecil.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Pada 30 Maret 2025 pukul 12.15 siang, bumi berguncang hebat. Sebuah gempa dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang kawasan Asia Tenggara. Getarannya tak hanya dirasakan di Myanmar dan Bangkok, tetapi juga menjalar ke sebagian wilayah Tiongkok dan India.

Baca juga: Misteri Kematian Mendadak: Sudden Death dalam Dunia Medis

Di Myanmar, banyak gedung dan rumah ambruk. Kondisi di Bangkok pun tak jauh berbeda. Korban jiwa di Myanmar dilaporkan mencapai 2.700 orang meninggal dunia, 3.400 luka-luka, dan 300 orang dinyatakan hilang. Di Bangkok, jumlah korban meninggal mencapai 17 jiwa.

Teori Gempa

Gempa bumi bukanlah peristiwa yang terjadi begitu saja. Ada penjelasan ilmiah di baliknya. Teori Gempa Bumi (Earthquake Theory) menjelaskan proses terjadinya gempa, mulai dari pergerakan bumi hingga pelepasan energi yang dirasakan sebagai guncangan.

Baca Juga:  Bantuan Darurat Mengalir ke Pacitan, DPR Dorong Mitigasi Jadi Budaya

Penyebab Gempa Bumi

  1. Pergerakan lempeng tektonik
    Bumi kita tersusun dari lempeng-lempeng besar yang saling bertemu dan bergesekan. Pergerakan lambat tapi terus-menerus dari lempeng ini dapat menimbulkan tekanan besar.

  2. Gesekan dan patahan
    Saat gesekan antarlempeng terlalu kuat, terbentuklah patahan. Inilah momen pelepasan energi besar yang memicu gempa.

  3. Energi seismik
    Energi yang dilepaskan menjalar dalam bentuk gelombang seismik ke seluruh penjuru bumi. Getaran itulah yang kita rasakan sebagai gempa bumi.

Jenis Gempa Bumi

Gempa bumi diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya:

  • Gempa bumi tektonik: Terjadi akibat pergerakan lapisan batuan di bawah permukaan bumi.

  • Gempa bumi vulkanik: Dipicu oleh pergerakan magma di dalam gunung berapi.

  • Gempa bumi runtuhan: Disebabkan oleh tanah longsor, runtuhnya gua, dan kejadian serupa lainnya.

Faktor yang Mempengaruhi Dampak Gempa

  1. Lokasi
    Daerah dengan aktivitas tektonik tinggi lebih rawan gempa.

  2. Kedalaman
    Gempa dangkal cenderung lebih merusak dibanding gempa yang terjadi di kedalaman lebih dalam.

  3. Magnitudo
    Semakin besar magnitudo, semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan.

Baca Juga:  Silaturahmi 670 Kilometer: Menyusuri Kalimantan dari Banjarmasin ke IKN hingga Tenggarong

“Kiamat Kecil”

Bagi warga yang mengalami langsung, gempa bisa terasa seperti “kiamat kecil”. Gedung-gedung tinggi roboh, jalan-jalan retak, jembatan patah, dan manusia berhamburan menyelamatkan diri.

Fenomena ini bahkan digambarkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Dalam surah Al-Infithar, Al-Qiyamah, Az-Zalzalah, Al-Qari’ah, An-Naba, Al-Waqi’ah, Al-Haqqah, Al-Hajj, dan Qaf, digambarkan betapa dahsyatnya hari ketika bumi berguncang. Manusia seperti laron yang beterbangan, masing-masing sibuk menyelamatkan diri.

Gawat Darurat Bencana

Musibah tak pernah datang dengan pemberitahuan. Kadang ada tanda, namun sering kali datang begitu saja, tiba-tiba, dan sekejap. Tapi dampaknya bisa bertahan lama dan luas.

Dalam kondisi seperti ini, tim bantuan segera bergerak. Didorong rasa kemanusiaan, mereka tak membedakan ras, agama, atau status sosial. Karena bencana adalah urusan bersama.

Tim Multidisiplin

Di tengah reruntuhan, nyawa harus diselamatkan dengan cepat. Salah satu kondisi darurat yang sering muncul adalah asphyxia (asfiksia), yakni kesulitan bernapas akibat tertimpa bangunan atau menghirup debu tebal.

Asfiksia adalah kondisi kritis yang harus ditangani segera. Jalan napas perlu dibuka, tekanan di dada harus dikurangi agar paru-paru bisa kembali mengembang.

Baca Juga:  Mengelola Kekuasaan: Antara Amanah dan Godaan

Selain itu, trauma kepala, dada, dan anggota gerak juga kerap terjadi. Masa pascagempa dengan banyak pengungsi sering kali memicu penyakit menular seperti ISPA dan diare. Di sinilah peran tim lintas sektoral menjadi krusial.

Di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, telah dirintis sebuah program studi yang secara khusus mendalami penanganan bencana. Program ini dipelopori oleh Dr. dr. Cristiyogo, Sp.An. Mahasiswanya belajar tentang manajemen dan teknik medis dalam situasi krisis.

Penutup

Ada beberapa hal penting yang harus kita siapkan dalam menghadapi bencana:

  • Persiapkan mental untuk menghadapi musibah kapan pun bisa datang.

  • Bangunan antigempa perlu menjadi perhatian dalam desain infrastruktur.

  • Tawakal, tetap tenang dan berserah diri bila bencana datang tiba-tiba.

  • Doa dan usaha harus terus diiringkan demi keselamatan bersama.

Banjarmasin, 5 April 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…