
Gempa besar mengguncang Myanmar dan Thailand, menorehkan duka dan peringatan. Tulisan ini mengulas sisi ilmiah, kemanusiaan, dan spiritual dari musibah yang terasa seperti kiamat kecil.
Oleh dr. Mohamad Isa
Tagar.co – Pada 30 Maret 2025 pukul 12.15 siang, bumi berguncang hebat. Sebuah gempa dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang kawasan Asia Tenggara. Getarannya tak hanya dirasakan di Myanmar dan Bangkok, tetapi juga menjalar ke sebagian wilayah Tiongkok dan India.
Baca juga: Misteri Kematian Mendadak: Sudden Death dalam Dunia Medis
Di Myanmar, banyak gedung dan rumah ambruk. Kondisi di Bangkok pun tak jauh berbeda. Korban jiwa di Myanmar dilaporkan mencapai 2.700 orang meninggal dunia, 3.400 luka-luka, dan 300 orang dinyatakan hilang. Di Bangkok, jumlah korban meninggal mencapai 17 jiwa.
Teori Gempa
Gempa bumi bukanlah peristiwa yang terjadi begitu saja. Ada penjelasan ilmiah di baliknya. Teori Gempa Bumi (Earthquake Theory) menjelaskan proses terjadinya gempa, mulai dari pergerakan bumi hingga pelepasan energi yang dirasakan sebagai guncangan.
Penyebab Gempa Bumi
-
Pergerakan lempeng tektonik
Bumi kita tersusun dari lempeng-lempeng besar yang saling bertemu dan bergesekan. Pergerakan lambat tapi terus-menerus dari lempeng ini dapat menimbulkan tekanan besar. -
Gesekan dan patahan
Saat gesekan antarlempeng terlalu kuat, terbentuklah patahan. Inilah momen pelepasan energi besar yang memicu gempa. -
Energi seismik
Energi yang dilepaskan menjalar dalam bentuk gelombang seismik ke seluruh penjuru bumi. Getaran itulah yang kita rasakan sebagai gempa bumi.
Jenis Gempa Bumi
Gempa bumi diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya:
-
Gempa bumi tektonik: Terjadi akibat pergerakan lapisan batuan di bawah permukaan bumi.
-
Gempa bumi vulkanik: Dipicu oleh pergerakan magma di dalam gunung berapi.
-
Gempa bumi runtuhan: Disebabkan oleh tanah longsor, runtuhnya gua, dan kejadian serupa lainnya.
Faktor yang Mempengaruhi Dampak Gempa
-
Lokasi
Daerah dengan aktivitas tektonik tinggi lebih rawan gempa. -
Kedalaman
Gempa dangkal cenderung lebih merusak dibanding gempa yang terjadi di kedalaman lebih dalam. -
Magnitudo
Semakin besar magnitudo, semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan.
“Kiamat Kecil”
Bagi warga yang mengalami langsung, gempa bisa terasa seperti “kiamat kecil”. Gedung-gedung tinggi roboh, jalan-jalan retak, jembatan patah, dan manusia berhamburan menyelamatkan diri.
Fenomena ini bahkan digambarkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Dalam surah Al-Infithar, Al-Qiyamah, Az-Zalzalah, Al-Qari’ah, An-Naba, Al-Waqi’ah, Al-Haqqah, Al-Hajj, dan Qaf, digambarkan betapa dahsyatnya hari ketika bumi berguncang. Manusia seperti laron yang beterbangan, masing-masing sibuk menyelamatkan diri.
Gawat Darurat Bencana
Musibah tak pernah datang dengan pemberitahuan. Kadang ada tanda, namun sering kali datang begitu saja, tiba-tiba, dan sekejap. Tapi dampaknya bisa bertahan lama dan luas.
Dalam kondisi seperti ini, tim bantuan segera bergerak. Didorong rasa kemanusiaan, mereka tak membedakan ras, agama, atau status sosial. Karena bencana adalah urusan bersama.
Tim Multidisiplin
Di tengah reruntuhan, nyawa harus diselamatkan dengan cepat. Salah satu kondisi darurat yang sering muncul adalah asphyxia (asfiksia), yakni kesulitan bernapas akibat tertimpa bangunan atau menghirup debu tebal.
Asfiksia adalah kondisi kritis yang harus ditangani segera. Jalan napas perlu dibuka, tekanan di dada harus dikurangi agar paru-paru bisa kembali mengembang.
Selain itu, trauma kepala, dada, dan anggota gerak juga kerap terjadi. Masa pascagempa dengan banyak pengungsi sering kali memicu penyakit menular seperti ISPA dan diare. Di sinilah peran tim lintas sektoral menjadi krusial.
Di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, telah dirintis sebuah program studi yang secara khusus mendalami penanganan bencana. Program ini dipelopori oleh Dr. dr. Cristiyogo, Sp.An. Mahasiswanya belajar tentang manajemen dan teknik medis dalam situasi krisis.
Penutup
Ada beberapa hal penting yang harus kita siapkan dalam menghadapi bencana:
-
Persiapkan mental untuk menghadapi musibah kapan pun bisa datang.
-
Bangunan antigempa perlu menjadi perhatian dalam desain infrastruktur.
-
Tawakal, tetap tenang dan berserah diri bila bencana datang tiba-tiba.
-
Doa dan usaha harus terus diiringkan demi keselamatan bersama.
Banjarmasin, 5 April 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












