
Jajanan Lebaran bukan sekadar suguhan, tapi simbol cinta, warisan budaya, dan perekat ukhuwah. Mari rayakan Idulfitri dengan camilan khas yang menyatukan rasa dan cerita.
Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.
Tagar.co – Lebaran selalu membawa aroma khas yang sulit dilupakan. Selain suasana kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, Hari Raya Idulfitri juga menjadi momen emas untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat ukhuwah. Namun, ada satu elemen lain yang diam-diam menjadi bintang di setiap kunjungan rumah ke rumah: jajanan Lebaran.
Ya, kue-kue dan camilan tradisional yang tersaji di meja ruang tamu bukan sekadar suguhan—mereka adalah jembatan rasa, simbol cinta, dan warisan budaya yang terus hidup. Dalam setiap toples nastar, sagon, hingga rengginang, tersimpan cerita, kerja keras, dan semangat kebersamaan.
Lebaran dan Aroma Kenangan
Setiap kali saya bersilaturahmi ke rumah tetangga, teman, atau saudara, ritual mencicipi jajanan Lebaran menjadi agenda wajib. Apalagi jika si tuan rumah bercerita bahwa camilan itu buatan sendiri—rasanya jadi lebih istimewa.
Baca juga: Kupatan: Tradisi Lebaran yang Sarat Makna
Ada sagon renyah buatan ibu, madu mongso hasil resep turun-temurun, jenang yang lengket di lidah tapi hangat di hati, sampai buah-buahan kebun yang dipetik sendiri. Favorit saya? Pisang matang dari pohon belakang rumah—manisnya tak tergantikan.
Menikmati jajanan Lebaran adalah bagian dari kenikmatan Idulfitri yang tak kalah penting dari ibadah mahdah seperti zakat fitrah atau salat Id. Ia menghadirkan kehangatan, keakraban, dan tentu saja rasa syukur.
Lebih dari Sekadar Camilan
Jajanan Lebaran menyimpan nilai-nilai historis, sosiologis, budaya, ekonomi, hingga religius. Ketupat dan opor bukan sekadar makanan khas—ia adalah simbol kesucian, keberkahan, dan kebersamaan. Nastar dan kastengel pun membawa jejak sejarah kolonial yang telah menyatu dalam cita rasa Nusantara.
Misalnya, ketupat yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga bukan hanya makanan, tapi alat dakwah. Anyaman janurnya melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isian berasnya melambangkan hati yang kembali suci setelah berpuasa.
Sementara itu, nastar (dari ananas tart) dan kastengel (kaasstengel, stik keju) adalah hasil akulturasi dengan budaya Belanda yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia.
Mempererat Sosial, Menguatkan Identitas
Di balik tampilan mungil dan manisnya, jajanan Lebaran memainkan peran besar dalam merawat hubungan sosial. Tradisi mudik dan kunjungan ke rumah keluarga atau tetangga selalu disertai suguhan camilan khas daerah masing-masing. Di Sumatra ada lemang dan rendang, di Jawa ada kue lapis dan kue mangkok, sementara di Sulawesi ada barongko dan kue cucur.
Jajanan yang disuguhkan pun sering kali mencerminkan identitas budaya keluarga. Dalam beberapa kasus, jenis dan jumlah kue yang tersaji bahkan bisa mencerminkan status sosial atau tingkat keterbukaan si pemilik rumah terhadap tamu-tamu yang datang.
Ekonomi Kerakyatan yang Tumbuh Bersama
Menjelang Lebaran, permintaan terhadap kue kering dan jajanan tradisional melonjak tajam. Inilah momen panen bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak ibu rumah tangga mendadak menjadi produsen kue lebaran, lengkap dengan inovasi rasa dan kemasan yang menarik.
Tren seperti nastar keju, sagu pandan, atau kue kering low sugar menjadi bukti bahwa industri kuliner tradisional mampu beradaptasi dengan selera zaman. Tak hanya itu, sektor bahan baku, kemasan, hingga logistik pun ikut terdongkrak. Singkatnya, industri jajanan Lebaran menjadi roda penggerak ekonomi lokal yang menjanjikan.
Nilai Religius dalam Setiap Gigitan
Dalam Islam, makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tapi juga dari proses dan niat di baliknya. Jajanan Lebaran umumnya dibuat dari bahan yang halal, disiapkan dengan niat berbagi dan membahagiakan tamu. Tradisi tukar kue antar tetangga mencerminkan semangat berbagi dan bersedekah yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.
Menyuguhkan makanan lezat di Hari Raya adalah bentuk syukur atas nikmat Allah, sekaligus wujud penghormatan terhadap tamu dan sesama Muslim.
Menjaga Tradisi, Merawat Warisan
Di tengah gempuran makanan instan dan budaya global yang kian mengikis tradisi, jajanan Lebaran hadir sebagai penanda identitas bangsa. Ia bukan hanya pengisi meja tamu, tapi juga pengikat kenangan, penjaga nilai, dan pemersatu rasa. Dalam sepotong kue putri salju atau sepiring lempeng ketan, tersimpan pesan: bahwa kita punya budaya yang kaya, dan layak untuk terus dirawat.
Melestarikan jajanan Lebaran berarti menjaga lebih dari sekadar resep—kita menjaga cerita, merawat kebersamaan, menguatkan ekonomi kerakyatan, dan merayakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.












