Feature

Pesan Subuh dari Ambarawa: Lima Hal yang Wajib Dilakukan sebelum Terlambat

30
×

Pesan Subuh dari Ambarawa: Lima Hal yang Wajib Dilakukan sebelum Terlambat

Sebarkan artikel ini
Setiap manusia diberi waktu yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda. Tausiah Subuh di Masjid Baitul Hasanah Ambarawa Residence mengingatkan lima hal penting agar hidup lebih bermakna sebelum semuanya terlambat.
Ustaz Subahri saat memberikan kultum bakda Subuh di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 4 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Setiap manusia diberi waktu yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda. Tausiah Subuh di Masjid Baitul Hasanah Ambarawa Residence mengingatkan lima hal penting agar hidup lebih bermakna sebelum semuanya terlambat.

Tagar.co – Dingin masih menyelimuti pagi di Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (4/3/25). Namun, kehangatan justru muncul dari langkah-langkah kaki warga yang berbondong-bondong menuju Masjid Baitul Hasanah.

Bukan sekadar rutinitas, mereka tengah mengukir awal hari dengan ibadah Subuh berjemaah, memanfaatkan setiap detik di bulan Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Empat Golongan Manusia Menurut Rasulullah, Kita Termasuk yang Mana?

Di hari keempat Ramadan ini, Ustaz Subahri bertindak sebagai imam dan penceramah. Dalam tausiahnya, ia mengingatkan jemaah bahwa Allah Swt. memberikan waktu yang sama kepada setiap manusia—satu hari satu malam terdiri dari 24 jam, baik bagi yang muda maupun yang tua, yang sehat maupun yang sakit. Namun, hasil yang dicapai oleh setiap individu bisa berbeda.

Baca Juga:  Start Tertata, Finis Mulia: Strategi Menjemput Takwa di Bulan Ramadan

“Tetapi dalam waktu yang sama, mereka membawa hasil yang berbeda-beda,” ujarnya.

Manfaatkan Lima Hal

Ia kemudian mengajak jemaah untuk merenungkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi: “Ightanim khamsan qabla khamsin” (Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima hal lainnya). Lima hal tersebut menjadi pengingat bagi manusia untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

1. Gunakan Masa Mudamu sebelum Datang Masa Tuamu

Ustaz Subahri menekankan pentingnya memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya. Ia memberi contoh, seseorang yang di masa mudanya enggan belajar mengaji, di usia tua akan menyesali kesempatan yang telah terlewatkan.

“Nek wes tuwo isone mung gelo tur gelo. Arep belajar ngaji wes angel. Nanging senajan angel kudu tetep usaha,” tuturnya dalam bahasa Jawa, yang berarti bahwa jika sudah tua hanya bisa menyesal. Mau belajar mengaji pun sudah sulit, meskipun demikian harus tetap berusaha.

Kesehatan adalah nikmat besar yang seringkali disadari ketika sudah tiada. Ustaz Subahri mengajak jemaah untuk mensyukuri kesehatan yang masih mereka miliki, karena banyak orang yang sedang terbaring sakit dan tidak dapat menjalankan ibadah sebagaimana mestinya.

Baca Juga:  Menyambut Tamu Agung dengan Cinta

“Banyak orang yang sakit di rumah sakit hanya bisa berbaring saja, maka bersyukurlah masih diberikan Allah nikmat sehat,” ujarnya.

Suasana kultum bakda Subuh di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 4 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

3. Gunakan Masa Kayamu sebelum Datang Masa Miskinmu

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, Ustaz Subahri mengingatkan pentingnya berbagi rezeki di jalan Allah. Ia mengajak para jemaah untuk memperbanyak infak dan sedekah, terutama di bulan Ramadan.

“Saat kotak infak beredar dalam salat tarawih, masukkanlah meskipun hanya dua ribu rupiah, lalu berdoalah agar Allah memberikan rezeki yang banyak dan berkah,” pesannya.

Selain itu, berbagi takjil atau makanan berbuka puasa juga merupakan cara sederhana untuk menyalurkan rezeki yang dimiliki. “Maringi dedaharan nalikaneng buka puasa takjil” (memberikan makanan untuk berbuka puasa atau takjil) adalah amalan yang besar pahalanya.

4. Gunakan Waktu Longgarmu sebelum Datang Waktu Sempitmu

Kesibukan sering kali menjadi alasan seseorang menunda ibadah. Namun, menurut Ustaz Subahri, sesibuk apa pun, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk beribadah jika mampu mengatur waktu dengan baik.

Baca Juga:  Ramadan Ceria di KB-TK IT Handayani: Latihan Salat Idulfitri hingga Aksi Berbagi

“Nek nuruti repot yo kabeh menungso repot” (kalau menuruti kesibukan, semua manusia pasti sibuk), katanya. Oleh karena itu, dalam sela-sela kesibukan, manusia harus tetap meluangkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

5. Gunakan Masa Hidupmu sebelum Datang Kematianmu

Terakhir, Ustaz Subahri mengingatkan bahwa kesempatan untuk beribadah hanya ada selama seseorang masih hidup. Oleh karena itu, selama hayat masih dikandung badan, hendaknya setiap individu memperbanyak amal kebaikan.

“Bersyukur kita masih diberikan nikmat usia dan kesempatan menikmati Ramadan, maka manfaatkanlah untuk beribadah sebaik-baiknya,” tutupnya.

Tausiyah ini menjadi pengingat bagi jemaah bahwa setiap manusia diberikan waktu yang sama dalam hidupnya. Namun, bagaimana seseorang menggunakannya akan menentukan hasil yang diperoleh. Ramadan pun menjadi momen refleksi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. (#)

Jurnalis Penyunting Mohammad Nurfatoni