Feature

Jangan Patah Semangat dalam Menggapai Kekhusyukan Salat

30
×

Jangan Patah Semangat dalam Menggapai Kekhusyukan Salat

Sebarkan artikel ini
Harimurti  saat memberikan kultum bakda Subuh di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Senin, 3 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Salat sering kali diganggu pikiran melayang, tapi Allah selalu menyambut hamba-Nya yang berusaha kembali. Tetaplah teguh, karena setiap langkah menuju kekhusyukan adalah perjuangan bernilai ibadah. Itulah intisari Kultum di Masjid Baitul Hasanah Ambarawa Residence.

Tagar.co – Di tengah hawa dingin yang menggigit, semangat warga Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, tetap menyala untuk menunaikan salat Subuh berjemaah di Masjid Baitul Hasanah, Senin (3/3/25). Momen ini menjadi bukti bahwa dinginnya pagi bukanlah penghalang bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Baca juga: Menelusuri Makna ‘Marhaban ya Ramadan’

Terletak di kawasan yang dikelilingi pegunungan, Ambarawa dikenal dengan udara sejuknya. Namun, suasana dingin justru semakin menambah kekhusyukan salat Subuh berjemaah. Pada hari ketiga Ramadan ini, giliran Harimurti menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum). Meski belum terbiasa berdakwah, ia tetap berusaha menyampaikan tausiahnya dengan penuh ketulusan.

“Yang ringan-ringan saja, nggeh,” katanya dengan senyum hangat sebelum memulai ceramahnya.

Dalam tausiahnya, Harimurti mengangkat fenomena yang kerap dialami banyak orang: pikiran yang melayang saat salat. Ia mengisahkan bagaimana di zaman Rasulullah Saw., seorang sahabat pun pernah mengalami hal serupa. Dengan penuh kegelisahan, sahabat itu bertanya kepada Rasulullah, khawatir bahwa salatnya tidak diterima karena pikirannya kerap mengembara ke urusan dunia.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

Rasulullah menanggapi kegelisahan sahabat itu dengan senyuman penuh kasih. Beliau menjelaskan bahwa meninggalkan salat hanya karena takut tidak khusyuk adalah kemenangan bagi setan. Sebaliknya, setiap usaha untuk kembali fokus dalam salat merupakan langkah yang disambut Allah dengan penuh kasih sayang.

Rasulullah menganalogikannya dengan seorang ibu yang melihat anaknya belajar berjalan. Meski sang anak sering jatuh, sang ibu tidak akan marah, melainkan justru berlari menghampiri dan menuntunnya. Demikian pula Allah yang selalu menerima hamba-Nya yang terus berusaha dalam ibadah.

Jemaah wanita berbelanja didepan masjid selepas salat subuh berjemaah di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Senin, 3 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Dalam kesempatan itu, Harimurti juga mengisahkan bagaimana seorang sahabat Nabi tetap teguh mendirikan salat meski dalam kondisi terluka parah akibat terkena panah. Salat yang khusyuk membuatnya seolah melupakan rasa sakit yang luar biasa. Kisah ini menjadi pengingat bahwa salat bukan sekadar kewajiban, melainkan juga sumber kekuatan dan ketenangan.

Lebih lanjut, Harimurti menyitir firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 162: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” Ia menegaskan bahwa meskipun setan terus menggoda manusia, sebagaimana disebut dalam surah Al-Baqarah ayat 34, kita harus tetap berjuang untuk menjaga salat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Baca Juga:  Jejak Manis di Balik Es Krim

“Maka dari itu, bapak ibu semuanya, jangan patah semangat untuk selalu menegakkan salat,” tutupnya dengan penuh semangat.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap teguh dalam mendirikan salat, apa pun rintangannya. Karena sejatinya, Allah selalu menerima dan menyambut hamba-Nya yang berusaha mendekat kepada-Nya. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni