
Kemarahan yang tak terkendali dapat membawa kehancuran. Kisah tragis Arya Penangsang menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menahan emosi. Islam mengajarkan kita untuk mengendalikan amarah agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Kultum Ramadan: Marah Membawa Kalah, Hikmah dari Kisah Arya Penangsang (Seri 4); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.
Tagar.co – Marah Membawa Kalah, Hikmah dari Kisah Arya Penangsang adalah materi kultum yang sangat tepat disampaikan dalam bulan Ramadan. Berikut naskah lengkapnya:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan menikmati bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan rahmat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau.
Baca juga: Kultum Ramadan: Keikhlasan Niat, Kunci Utama dalam setiap Ibadah
Perkenankan saya memulai kultum ini dengan menceritakan kisah epik perpolitikan Kerajaan Demak.
Setelah wafatnya Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak pada tahun 1546, terjadi kekosongan kekuasaan dan perebutan takhta. Arya Penangsang, Adipati Jipang (sekarang sekitar Blora, Jawa Tengah), cucu dari Raden Patah (pendiri Kesultanan Demak), mengklaim hak atas takhta Demak.
Sementara itu, lawannya adalah Hadiwijaya, juga dikenal sebagai Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggana dan penguasa Pajang (sekarang sekitar Surakarta). Dengan dukungan para bupati, ulama, serta tokoh penting seperti Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi, Hadiwijaya berhasil mengumpulkan kekuatan untuk melawan Arya Penangsang.
Konflik antara keduanya mencapai puncaknya dalam pertempuran besar. Arya Penangsang dikenal sebagai prajurit tangguh, namun sombong dan mudah marah. Akibatnya, ia dikalahkan oleh strategi dan taktik Hadiwijaya serta pengikutnya.
Sebelum perang, Hadiwijaya mengetahui bahwa Arya Penangsang memiliki kuda jantan kuat bernama Gagak Rimang. Ki Pemanahan kemudian menyarankan Hadiwijaya untuk menunggangi kuda betina yang genit. Arya Penangsang terpancing oleh tantangan Hadiwijaya, dan kudanya menjadi sulit dikendalikan karena tertarik pada kuda betina.
Saat Arya Penangsang maju, kudanya terperosok karena fokus pada kuda betina. Hadiwijaya segera menombak perut Arya Penangsang hingga terburai. Namun, Arya Penangsang dengan gagah berani melilitkan ususnya pada keris di pinggangnya, turun mengambil tombak, dan menendang Hadiwijaya hingga terkapar.
Saat hendak menghabisinya, Hadiwijaya meminta Arya Penangsang untuk membunuhnya dengan keris pemberian Sunan Kudus. Arya Penangsang, yang sudah dikuasai amarah dan ambisi membunuh, langsung menghunus kerisnya tanpa menyadari bahwa ususnya yang terburai masih melilit di sana. Saat ia menarik keris, ususnya pun putus, dan ia tewas dengan tragis.
Kekalahan Arya Penangsang bukan karena ia tidak sakti mandraguna, tetapi karena ia dikalahkan oleh sifat pemarahnya. Marah adalah emosi manusia yang wajar, tetapi Islam mengajarkan umatnya untuk mengendalikannya agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW memberikan panduan tentang bagaimana menghadapi dan mengelola amarah.
Ayat Al-Qur’an tentang Mengendalikan Marah
- Ali Imran (3:134)
“Orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” - Asy-Syura (42:37)
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.” - Al-A’raf (7:199)
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Hadis Nabi tentang Mengendalikan Marah
- Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” - Hadis Riwayat Abu Daud
“Jika salah seorang dari kalian marah, maka diamlah.” - Hadis Riwayat Bukhari
“Jangan marah, maka bagimu surga.”
Trik Islam dalam Mengendalikan Marah
✅ Menahan amarah: Jangan bertindak gegabah saat emosi memuncak.
✅ Memaafkan: Sifat mulia yang dicintai Allah.
✅ Mengendalikan diri: Kekuatan sejati bukan pada fisik, tetapi pada kendali emosi.
✅ Solusi praktis: Berwudu, diam, atau mengubah posisi (duduk jika berdiri) dapat meredakan amarah.
Dengan mengikuti ajaran Al-Qur’an dan hadis, umat Islam diajarkan untuk menjadi pribadi yang sabar, pemaaf, dan mampu mengendalikan emosi, terutama amarah. Kemarahan yang tak terkendali hanya akan membuat kita kalah dalam kehidupan. Ketika seseorang marah, ia kehilangan kendali atas dirinya, pikirannya menjadi gelap, dan tidak dapat menalar dengan baik.
Kisah kekalahan Arya Penangsang tidak hanya tentang perebutan kekuasaan, tetapi juga memberikan pelajaran moral tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan akibat dari ambisi yang tidak terkendali.
Arya Penangsang sering digambarkan sebagai tokoh tragis yang gagal karena sifatnya yang keras dan kurang bijaksana, sementara Hadiwijaya dianggap sebagai pemimpin yang tenang, lembut, dan adil. Kesabarannya membuatnya menang atas orang yang secara fisik lebih kuat darinya. Kamu marah, kamu kalah.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Nasruminallahwafathunqarib. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









