Feature

Menelusuri Makna ‘Marhaban ya Ramadan’

56
×

Menelusuri Makna ‘Marhaban ya Ramadan’

Sebarkan artikel ini
Ustaz Rofiudin menyampaikan kultum tarawih di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Ahad, 2 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Marhaban ya Ramadan ternyata bukan sekadar ucapan, tetapi ajakan untuk menyambut bulan suci dengan hati lapang. Temukan makna mendalamnya dan persiapkan diri untuk Ramadan yang lebih bermakna!

Tagar.co – Bulan suci Ramadan selalu disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Ungkapan “Marhaban ya Ramadan” sering kita dengar menjelang datangnya bulan penuh berkah ini. Tapi, apa sebenarnya makna di balik kalimat tersebut?

Ustaz Rofiudin mengupasnya dalam kultum Tarawih di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Ahad (2/3/25).

Baca juga: Belajar Sabar dari Kisah Wanita Penghuni Surga

Ia menjelaskan bahwa perintah ibadah puasa Ramadan kali pertama turun pada bulan Syakban tahun kedua setelah Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah.

Perintah tersebut tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Persiapan Menyambut Ramadan

Mengapa perintah puasa diturunkan di bulan Syakban? Menurut Ustaz Rofiudin, hal ini karena Rasulullah Saw perlu mempersiapkan umatnya agar siap menyambut bulan Ramadan dengan hati yang lapang. Sebagaimana kita yang saat ini bersiap diri, sejak bulan Sya’ban seharusnya kita sudah mulai membangun kesiapan mental dan spiritual agar menjalankan ibadah puasa dengan ringan, tenang, dan penuh keikhlasan.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Persiapan ini tidak hanya soal fisik, tetapi juga melibatkan kesiapan hati dan jiwa. Dengan kesiapan itu, ibadah di bulan Ramadan, baik puasa (siam) maupun salat malam (kiam), bisa dijalankan dengan lebih khusyuk dan penuh makna. Inilah esensi dari istilah marhaban.

Suasana pembagian paket snack khusus untuk jemaah anak-anak dan antrian siswa-siswi yang meminta tanda tangan buku kegiatan Ramadan oleh imam dan khatib di Masjid Baitul Hasanah, Perumahan Ambarawa Residence, Pojoksari, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Ahad, 2 Maret 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Makna Marhaban dalam Perspektif Islam

Mengutip Prof. Muhammad Quraish Shihab, dia menjelaskan bahwa kata marhaban berasal dari akar kata rahba, yang berarti tempat yang luas atau lapang. Artinya, seorang Muslim dianjurkan untuk melapangkan hati dalam menyambut Ramadan, seperti seorang kakek atau nenek yang dengan gembira mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut cucunya yang akan datang berkunjung.

Seorang Mukmin yang benar-benar memahami esensi Ramadan akan menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Ia akan menyiapkan dirinya untuk memenuhi segala “keinginan” Ramadan, seperti memperbanyak amalan kebaikan, mulai dari salat wajib dan sunah, sedekah, tadarus Al-Qur’an, hingga memperbanyak zikir. Dengan hati yang terbuka dan siap, Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan.

Makna kedua dari marhaban berasal dari kata marhab, yang berarti tempat pemberhentian. Dalam perjalanan jauh, pemberhentian menjadi momen penting untuk mengisi bahan bakar, mengecek kendaraan, atau beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Begitu pula Ramadan, yang menjadi “tempat perhentian” bagi umat Islam untuk mengecas kembali keimanan dan memperbaiki diri sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat.

Baca Juga:  Separuh Ramadan Tersisa

“Ramadan adalah waktu bagi kita untuk memperbaiki diri, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Kita masih punya kesempatan untuk bertobat, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kualitas keimanan. Di dunia, kita masih bisa memperbaiki kesalahan, tapi di alam barzakh, tidak ada lagi kesempatan,” pesan Ustaz Rofiudin.

Mengisi Ramadan dengan Amalan Kebaikan

Maka, ungkapan “Marhaban ya Ramadan” bukan sekadar ucapan selamat datang, tetapi juga ajakan untuk menyambut Ramadan dengan persiapan yang matang. Ada empat amalan utama yang bisa dilakukan agar Ramadan lebih bermakna, yaitu:

  1. Salat – Meningkatkan kualitas dan kuantitas salat, baik wajib maupun sunnah.
  2. Puasa – Menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.
  3. Tadarus Al-Qur’an – Membaca dan memahami isi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
  4. Zikir – Mengingat Allah dalam setiap kesempatan agar hati tetap tenang dan tentram.

Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang makna Marhaban Ya Ramadan, semoga kita semua dapat menyambut Ramadan dengan hati yang lapang, penuh kegembiraan, dan kesiapan untuk meningkatkan ibadah. Ramadan bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga waktu terbaik untuk memperbaiki diri dan mempertebal ketakwaan. (#)

Baca Juga:  Masjid Muhammadiyah di Magetan Serentak Salat Tarawih Tadi Malam

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni