
Implementasi Program Inklusi di kelas sangat berhubungan dengan hati. Kalau melihat anak berkebutuhan khusus saja sudah tidak suka, maka bagaimana bisa mendidiknya?
Tagar.co — Forum Silaturrahmi Kepala Sekolah Muhammadiyah (Foskam) SMP/MTs Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo menggelar Workshop Implementasi Program Inklusi dan Pendekatan Deep Learning di Kelas. Lokasinya di Hotel Halogen-Juanda, Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (26/2/2025).
Kepala SMP Negeri 4 Sidoarjo Lilik Sulistyowati, S.Pd., M.Pd. sebagai pemateri pada workshop ini berpandangan pendidikan inklusi sangat berhubungan dengan hati.
“Kalau melihat anak berkebutuhan khusus saja sudah tidak suka, maka bagaimana kita bisa mendidiknya. Semua yang kita lakukan harus dari hati, harus dengan keikhlasan,” terang Lilik.
Lilik menanyakan cita-cita kepada peserta workshop dan meminta menuliskan di dalam kertas catatan. Beberapa peserta mengungkapkan keinginan mereka mempunyai anak yang salih, yang sempurna.
Lalu lilik meminta kertas yang telah mereka tulisi harapan mereka terhadap anaknya itu mereka sobek. Tetapi peserta banyak yang tidak berkenan menyobek karena berisi harapan mereka pada ana-anak mereka.
“Semua orang tua andaikata diberikan anak pasti berharapnya mendapat anak yang sempurna, tapi jika Allah berkehendak lain. Bagaimana cita-cita tidak sesuai harapan? Tentunya kecewa,” tuturnya.
“Pasti semua orang tua peserta didik berkebutuhan khusus awal lahirnya merasa hancur. Siapa yang mau anaknya lahir dengan kekurangan? Tentunya tidak ada yang mau,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menekankan, pendidikan inklusi mengintegrasikan semua peserta didik. Termasuk yang berkebutuhan khusus (ABK) ke dalam kelas reguler. “Ada rasa menghargai, menerima apa pun keberagaman yang ada, hingga akhirnya tumbuh rasa empati. Kalau ada anak berkebutuhan khusus disendirikan, itu menyakitkan,” ungkapnya.
Kemudian dia menjelaskan tentang tujuan pendidikan, alur perencanaan, langkah pengelolaan, implementasi pembelajaran, cara menyusun modul ajar penyesuaian, dan bentuk pelayanan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Pengelolaan Pendidikan Inklusi
Tujuan pendidikan inklusi, kata Lilik, memberikan kesempatan pendidikan yang sama bagi peserta didik, mengembangkan potensi peserta didik sesuai kemampuan masing-masing, membentuk masyarakat yang inklusif, toleran, dan menghargai keberagaman.
Adapun alur perencanaan pendidikan inklusi, membentuk tim pendidikan inklusi, perencanaan program, sosialisasi program kepada GTK dan orang tua, pelaksanaan program, evaluasi monitoring, dan merencanakan tindak lanjut.
Berikutnya ia membahas langkah pengelolaan pendidikan inklusi. Meliputi identifikasi asesmen, asesmen siswa, wawancara orang tua, wawancara shadow teacher/terapis.
Setelah ada hasil, sambungnya, buat planing matrix untuk mengetahui kebutuhan masing-masing siswa. Kemudian buat profil siswa dan program pembelajaran individu (PPI).
Paparan berikutnya tentang implementasi pembelajaran inklusif. Ada kelas inklusif dan ruang sumber.
“Kelas inklusif yang perlu kita siapkan yakni modul ajar modifikasi berdasarkan planning matrix. Asesmen oleh guru mapel sesuai dengan kemampuan PDBK, lalu membuat rapor akademik,” tutur Lilik.
Untuk ruang sumber, kata Lilik perlu pendampingan Guru Pembimbing Khusus (GPK). Di sinilah perlu melakukan kegiatan pull out dengan bimbingan oleh GPK.
Asesmen berdasarkan kemampuan saat kegiatan pull out dan membuat buku laporan perkembangan. Saat di ruang sumber, pada kegiatan pull out ada program calistung, bina diri, vokasional, outdoor learning, dan TIK.
Selain itu, dia menjelaskan cara Menyusun modul ajar modifikasi, “Tujuan pembelajarannya disederhanakan, materi disederhanakan, kegiatan inti dan asesmen juga disederhanakan, maka perlu penguatan kompetensi guru,” ujarnya.
Bentuk Pelayanan
Bentuk pelayanan PDBK di kelas terbagi menjadi beberapa kelompok. “Untuk disabilitas sensori PDBK duduk di depan menghadap guru, guru tidak memakai masker dan membelakangi PDBK, dan menggunakan komunikasi total, sebaiknya lebih banyak sentuhan daripada sekadar panggilan, tetap harus mendapat perhatian,” terangnya.
Untuk peserta didik dengan Disabilitas Intelektual, guru menggunakan bahasa sederhana saat menjelaskan kembali kepada siswa. Guru juga perlu memberikan penambahan waktu serta penyederhanaan materi.
Untuk peserta didik dengan Disabilitas Fisik, PDBK sebaiknya belajar di lantai 1, mendapat ruang gerak di dalam kelas. Guru memberikan penambahan waktu saat mengerjakan tugas motorik atau menyederhanakan atau mengganti tugas motorik dengan kemampuan yang anak miliki.
Sebaiknya juga tidak menempatkan PD Autisme dengan ADHD dalam satu kelas, menggantikan bahasa yang lugas dan intonasi yang tegas, dan menggunakan kata positif. Lilik juga memperkenalkan mars inklusi sekaligus mengajak peserta bernyanyi bersama.
Mars Inklusi
Inilah lirik Mars Inklusi.
Gerlap Permata Sejuta Warna
Itulah Panorama Khatulistiwa
Dalam Bhineka Kita Bersama
Sejiwa Dalam Ikatan Keluarga
Kesempatan Belajar Bagi Kita
Taruna Muda Harapan Bangsa
Janganlah ada yang tertinggal
Menuntut ilmu tekun Belajar
Dari NAD Hingga Papua
Dari NTT Ke Sulawesi Utara
Keragaman adalah dinamika
Dalam Jalinan kasih sayang
Silih asih, asah dan asuh
Berbagi rasa berbagi gembira
Bentuk Empati dan toleransi
Tunaikan kewajiban dan Hak Asasi
Kucinta Negeriku
Berparas Inklusi
Selaras Serasi
Menghias Pertiwi. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Sayyidah Nuriyah












