Feature

Belajar Pakaian Adat dari 27 Provinsi di Sanggar Busana Ceria

33
×

Belajar Pakaian Adat dari 27 Provinsi di Sanggar Busana Ceria

Sebarkan artikel ini
Siswa-siswi foto bersama Bapak Sholeh (pemilik sanggar) di depan Sanggar (Tagar.co/Rabya Auliani)
Siswa-siswi foto bersama Bapak Sholeh (pemilik sanggar) di depan Sanggar (Tagar.co/Rabya Auliani)

Siswa Kelas 6 Faqih Usman SD Muhammadiyah Melirang, Bungah, Gresik, mengunjungi Sanggar Busana Ceria. Kegiatan ini merupakan rangkaian Pembelajaran P5 dengan tema Bhinneka Tunggal Ika.

Tagar.co – Siswa-siswi kelas 6 Faqih Usman SD Muhammadiyah Melirang, Bungah, Gresik, Jawa Timur melaksanakan kegiatan kunjungan edukatif ke Sanggar Busana Ceria, Kamis (20/2/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Tema yang diusung adalah Bhinneka Tunggal Ika dengan topik Merajut Keberagaman melalui Pakaian Adat.

Projek ini bertujuan untuk memahami keunikan pakaian adat Indonesia sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. Selain itu untuk mengembangkan keterampilan dalam penelitian, kolaborasi, dan penyajian karya. Diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika seperti toleransi, persatuan, dan rasa bangga terhadap budaya Indonesia.

Sebagai bagian dari tahap kontekstual, Ustadzah Rabya Auliani, S.Pd., mengajak peserta didiknya berkunjung ke sanggar busana yang berlokasi di Desa Melirang RT 01 RW 01. Sanggar busana Ceria yang dimiliki oleh Sholeh. Khusus menyewakan dan menyediakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga:  Tekad Baja Murid SD Muhammadiyah Melirang di Semifinal KMNR

Dalam kegiatan tersebut, para siswa secara bergantian melakukan wawancara. Salah satu siswa, Wafi Musabbih, bertanya mengenai jumlah pakaian adat yang tersedia di sanggar tersebut.

Dengan tegas, Bapak Sholeh menjawab bahwa sanggarnya memiliki koleksi pakaian adat dari 27 provinsi di Indonesia. Ia juga mengungkapkan bahwa sanggar ini telah berdiri selama kurang lebih 30 tahun.

Selain mengenal berbagai pakaian adat, para siswa juga diberikan penjelasan mengenai proses pembuatan pakaian adat, mulai dari bahan yang digunakan hingga teknik pembuatannya.

Mereka juga diperlihatkan gambar-gambar pakaian adat nusantara serta berbagai jenis aksesoris yang biasa digunakan dalam pakaian adat.

Salah satu siswa, Destrian Ratu Pelagi, bertanya tentang cara merawat pakaian adat agar tidak cepat rusak. Bapak Sholeh menjelaskan, bahwa pakaian adat tidak boleh dicuci dengan deterjen biasa, melainkan harus menggunakan cairan khusus agar tetap terjaga keindahannya.

Setelah sesi wawancara selesai, Bapak Sholeh kembali memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai detail bahan yang digunakan.

“Umumnya, kain yang dipakai adalah kain satin yang kemudian dihiasi dengan aksesoris seperti renda dan payet,” jelasnya.

Baca Juga:  Parade Tasmik Tumbuhkan Spirit Cinta Al-Quran

Penjelasan yang disampaikan Pak Sholeh ini membuat para siswa semakin tertarik dan antusias dalam memahami keberagaman budaya Indonesia melalui pakaian adat.

Melalui kunjungan ini, para siswa tidak hanya mendapatkan wawasan baru tentang pakaian adat Nusantara. Mereka juga semakin memahami pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Indonesia sebagai wujud nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. (#)

Jurnalis Rabya Auliani Penyunting Nely Izzatul