Feature

Di Hizbul Wathan Hormat untuk Manusia dan Jenazah

67
×

Di Hizbul Wathan Hormat untuk Manusia dan Jenazah

Sebarkan artikel ini
Ramanda Aminullah Fatkhur Roziqi, Wakil Sekretaris Kwarwil HW Jatim, saat memberikan contoh bagaimana cara hormat yang benar pada kegiatan Orientasi Pandu Tunas Athfal Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal Kabupaten Gresik di SMP Muhammadiyah 12 GKB, Gresik, Jawa Timur, Sabtu, 22 Februari 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Sebuah pemahaman unik dalam Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan terungkap. “Hormat kita hanya ditujukan kepada sesama manusia dan untuk menghormati jenazah,” kata Ramanda Aminullah Fatkhur Roziqi di hadapan ratusan guru TK Aisyiyah di Gresik.

Tagar.co – Sorot mata 189 guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Gresik tertuju pada satu sosok. Aminullah Fatkhur Roziqi, Wakil Sekretaris Kwarwil HW Jawa Timur, yang berdiri tegak di hadapan mereka.

Orientasi Pandu Tunas Athfal di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Sabtu (22/2/2025), menjadi panggung disampaikannya prinsip dasar kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang mungkin tak lazim terdengar.

Baca juga: Rezeki Guru Swasta Lebih Banyak daripada Guru Negeri, Kata Dinas Pendidikan Gresik

“Di kepanduan Hizbul Wathan, kita tidak mengenal hormat kepada bendera,” ujar Ramanda Amin, sapaan akrabnya. Suasana hening sejenak, menyisakan tanda tanya di benak para peserta. “Hormat kita hanya ditujukan kepada sesama manusia dan untuk menghormati jenazah.” Tapi dalam upacara bendera di luar kegiatan HW hrmat bendera tepap dilakukan.

Baca Juga:  Amplop Kosong di Hari Lebaran

Lelaki asal Babat, Lamongan ini, lalu mengurai makna di balik pernyataannya. Hormat kepada jenazah, misalnya, diwujudkan dengan salam dan gestur khusus.

“Tumit dirapatkan, ujung kaki membentuk sudut 45 derajat, dada dibusungkan, pandangan lurus ke depan,” jelasnya sambil memperagakan sikap sempurna ala TNI. “Lengan kanan membentuk sudut 90 derajat, ditekuk 45 derajat, jari-jari rapat di pelipis mata kanan, menghadap ke bawah.” Bahkan saat duduk pun, sikap sempurna tetap dijaga.

Ramanda Aminullah Fatkhur Roziqi saat memberikan materi pada kegiatan Orientasi Pandu Tunas Athfal Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal Kabupaten Gresik di SMP Muhammadiyah 12 GKB, Gresik, Jawa Timur, Sabtu, 22 Februari 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Esensi Kemandirian

Ramanda Amin tak berhenti pada penjelasan teknis. Ia mengajak para guru untuk merenungkan esensi kemandirian dalam kepanduan. “Perlukah anak-anak diajak berkemah, Bunda?” tanyanya retoris. Jawaban serempak, “Perlu!”, menggema di ruangan.

Namun, Ramanda Amin memberikan perspektif baru. Berkemah tak harus identik dengan hutan atau tempat wisata. Halaman sekolah pun bisa menjadi arena petualangan yang bermakna. “Cukup dengan tenda sederhana,” ujarnya. “Yang penting, anak-anak diberi peran: menghias, membersihkan, menata perlengkapan. Ini cara melatih mereka merawat rumah.”

Baca juga: Mengukir Karakter Anak: Peran Guru PAUD yang Tak Terlupakan

Baca Juga:  Eks Kepsek TK Penggerak Manfaatkan Halalbihalal untuk Perkuat Sinergi

Lebih dari sekadar berkemah, Ramanda Amin menekankan pentingnya keterlibatan orang tua. “Untuk permulaan, biarkan ayah atau bunda mendampingi. Ini kesempatan emas untuk membangun kebersamaan dalam mengelola rumah tangga,” katanya. Bahkan, saat anak-anak berlatih baris-berbaris, orang tua bisa mengikuti sesi parenting dengan narasumber yang inspiratif.

Karena rentang usia Pandu HW Athfal adalah 4-6 tahun, Ramanda Amin mengingatkan agar kegiatan disesuaikan. Latihan tali-temali sederhana, seperti mengikat tali sepatu, sudah cukup untuk melatih motorik halus mereka. “Menali sepatu, atau menali hasduk, itu saja sudah cukup sulit bagi anak-anak usia dini,” tegasnya.

Sebagai penutup, Ramanda Amin menekankan durasi berkemah yang ideal. “Cukup sampai Zuhur, atau paling lama Asar. Tidak perlu menginap. Tujuan utamanya adalah mengenalkan kemandirian,” ujarnya. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni