Feature

Khidmatnya Ngaji Bakda Subuh di Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo

58
×

Khidmatnya Ngaji Bakda Subuh di Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Suasana halaqah ngaji bakda Subu di Ponpes Al-Fattah Sidoarjo (Tagar.co/Nur Djamilah)

Subuh di Al-Fattah Sidoarjo, santri khusyuk mengaji. Metode Ummi, Tahfiz, dan Sorogan jadi andalan. Santri dari NTT hingga Papua, semua bersatu mendalami Al-Qur’an.

Tagar.co – Suasana pagi di Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo terasa begitu khidmat. Kamis (6/2/2025), selepas salat Subuh, para santri bergegas menuju halaqah-halaqah kecil mereka. Kegiatan ngaji bakda Subuh, yang rutin dilaksanakan setiap Senin hingga Jumat, menjadi bagian penting dalam pembelajaran di pondok ini.

Santri dibagi ke dalam kelompok berdasarkan kemampuan mereka. Tingkat Ummi, Tahsin, dan Maknani memiliki halaqah tersendiri agar pembelajaran lebih efektif. Melalui kerja sama dengan Ummi Foundation Sidoarjo, pondok ini terus meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an para santri, memastikan mereka membaca dengan fasih, indah, dan sesuai standar Ummi.

Halaqah Tahfiz dan Sistem Sorogan

Bagi para santri penghafal Al-Qur’an, halaqah tahfiz juga terbagi dalam kelompok kecil. Setiap pengampu membimbing sekitar 10 santri, dengan target hafalan yang harus dicapai setiap semester.

Sementara itu, halaqah maknani menggunakan metode sorogan, di mana santri mempelajari makna Al-Qur’an per kata menggunakan bahasa Jawa. Uniknya, meskipun berasal dari berbagai daerah, seperti NTT, NTB, Palembang, Kalimantan, Papua, hingga Halmahera, para santri tetap belajar bahasa Jawa untuk memahami kajian ini.

Baca Juga:  Santri Al-Fattah Bagikan 500 Paket Takjil di Alun-Alun Sidoarjo

Baca juga: Petualangan Religi 166 Siswa SD Musa di Pondok Pesantren Al-Fattah

“Kami ingin santri tidak hanya bisa membaca, tetapi juga memahami isi Al-Qur’an dengan baik. Metode sorogan membantu mereka mendalami makna ayat demi ayat,” ujar K.H. Muhtarom, pengasuh pondok yang membimbing langsung halaqah kelas ula atau senior di masjid.

Suasana halaqah ngaji bakda Subu di Ponpes Al-Fattah Sidoarjo (Tagar.co/Nur Djamilah)

Disiplin dan Tantangan dalam Pembelajaran

Santriwan dan santriwati ditempatkan di ruangan terpisah. Santriwati belajar di kelas dan asrama putri, sementara santriwan di kelas-kelas putra. Untuk kelas 6 (Ula/Senior), halaqah maknani berlangsung di masjid, dengan santriwati di saf putri dan santriwan di saf putra.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, banyak santri yang berhasil beradaptasi dan mengikuti metode ngaji sorogan dengan baik.

“Awalnya sulit memahami bahasa Jawa, tetapi lama-lama terbiasa. Sekarang saya bisa lebih memahami arti dari ayat-ayat Al-Qur’an,” ungkap salah satu santri asal Kalimantan.

Kegiatan ngaji bakda Subuh ini berlangsung selama 60 menit, menjadi rutinitas yang membentuk karakter santri dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an. Dengan sistem yang terus berkembang, Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo berharap dapat mencetak generasi Qurani yang tidak hanya fasih membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan. (#)

Baca Juga:  Juara Hafiz Indonesia 2021 Aqeelah Elfadh, Menginspirasi Santri Al-Fattah Buduran

Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni