Feature

Sukses Mendidik Gen Z ala Saijan

60
×

Sukses Mendidik Gen Z ala Saijan

Sebarkan artikel ini
Sukses mendidik Gen Z ala Kepala SD Muhammadiyah Nitikan Yogyakarta Saijan, S.Ag., M.Si. terungkap pada kajian di halaman MIM Bangun, Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, Trenggalek.
Kepala SD Muhammadiyah Nitikan Yogyakarta Saijan, S.Ag., M.Si. terungkap pada Pengajian Ahad Pagi di halaman MIM Bangun, Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, Trenggalek. (Tagar.co/Istimewa)

Sukses mendidik Gen Z ala Kepala SD Muhammadiyah Nitikan Yogyakarta Saijan, S.Ag., M.Si. terungkap pada kajian di halaman MIM Bangun, Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, Trenggalek.

Tagar.co – Kepala SD Muhammadiyah Nitikan Yogyakarta, Saijan, S.Ag., M.Si. memberikan tips mendidik Gen Z, Ahad (25/2/2025). Warga persyarikatan Muhammadiyah Trenggalek menyimaknya pada Pengajian Ahad Pagi di halaman MIM Bangun, Desa Bangun, Kecamatan Munjungan, Trenggalek.

Saijan mengungkap, salah satu kebahagiaan orang tua adalah memiliki putra. “Meskipun sang ibu merasakan mual saat mengandung, tapi kebahagiaan mendapatkan anak mengalahkan semua kesedihan,” ungkapnya.

Orang tua, lanjutnya, tentu akan bersedih kalau belum memiliki putra. Karena itu mereka berusaha sekuat tenaga memiliki putra. Saijan pun teringat pada seseorang yang menangis karena bertahun-tahun belum memiliki putra.

“Saya kebetulan pengurus haji dan umrah maka saya doakan di depan Ka’bah. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian dia mengandung. Setelah anaknya lahir mengandung lagi,” kenangnya.

“Alhamdulillah, saat anak kita lahir, mereka langsung menangis. Tangis yang membuat bahagia. Apabila anak kita lahir tidak menangis, kita malah bersedih,” imbuhnya. Ia lalu teringat saat pulang ke rumah dan mendapat sambutan anak dengan ceria. Saijan menyadari, mewujudkan anak yang saleh-salehah tidak mudah. “Didik anak-anakmu karena anakmu lahir di masa yang berbeda dengan masa kita,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tekad Baja Murid SD Muhammadiyah Melirang di Semifinal KMNR

Ia menegaskan keadaannya berbeda. “Dulu kita mudah mencari anak kita. Mungkin di pos ronda, di musala. Kalau tidak ada semakin mengkhawatirkan. Apalagi perempuan, jangan-jangan hamil,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian, katanya, 80% narapidana di LP Wirogunan adalah orang orang tua narapidana pelecehan seksual. Anak sekarang serba karbitan dan mutungan, semua ingin serba cepat dan mudah. “Bahkan sekarang sampai ada yang memutilasi. Ada apa?  Apa yang harus dilakukan agar anak kita kuat menghadapi keadaan?” tanyanya mengajak jamaah berpikir.

Iman Kuat

Menjawab pertanyaan itu, ia mengungkap tips pertama. Iman harus betul-betul ditanamkan sekuat-kuatnya. Agar anak tidak menjadi gampang mutungan, gampang marah.

“Ada anak tidak diterima di UGM langsung gantung diri. Padahal di Jogja banyak perguruan perguruan tinggi,” contohnya.

Menurut Saijan, hal ini terjadi karena kurangnya iman mereka. Semua hasil baik berawal dari proses yang panjang. Anak-anak yang membaca Al-Qur’an dengan baik tentu mulainya dengan pelatihan dulu.

“Mungkin suatu saat gagal. Tidak apa-apa. Seperti anakku yang tidak lolos masuk RS PKU Muhammadiyah. Allah menyiapkan tempat yang terbaik. Itulah yang pertama, anak kita harus memiliki keyakinan, iman yang kuat,” tuturnya.

Baca Juga:  Dua Kunci Sukses Siswa Spemdalas Juara II Gress of Champions Vol. 2

Beribadah Sesuai Tuntunan

Kedua, harus menanamkan cara beribadah sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Jangan sampai anak sukses tapi meninggalkan kewajiban.

“Jangan sampai kita menjadi imam tapi membacanya lama. Agar anak-anak kita betah salat di masjid. Betapa senangnya kita bila memiliki anak-anak yang segera ke masjid ketika azan didengungkan. Apalagi bila mereka adzan,” jelasnya.

Ketiga, didik anak unggah-ungguh (tata krama). Anak harus dipaksakan dengan kebiasaan bertata krama. “Apabila mau berangkat, sungkem kepada orang tua. Ketemu orang tua permisi sambil berkata. ‘Assalamualaikum, permisi’,” contohnya.

Saijan menyakini, siapapun orang tua akan merasa bahagia bila memiliki anak yang punya tata krama. “Anak-anak di Jepang memiliki unggah-ungguh yang bisa dicontoh,” tuturnya.

Ajak Komunikasi

Anak zaman sekarang tidak suka diatur-atur. “Karena itu harus diajak ngobrol. Jangan dipaksa. Harus gini harus gitu,” sarannya.

Saijan menceritakan, ketika peristiwa Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ibrahim tidak langsung melaksanakan hal itu. Ketika akan menyembelih Ismail, Ibrahim bertanya dulu kepada Ismail. “Bagaimana menurut pendapat kamu?”

Baca Juga:  Ketika Mars Muhammadiyah dan Mars NU Dibahas di Kajian Ramadan Muhammadiyah Dukun

Saijan mengambil pelajaran, apabila bertanya dulu ke anak untuk suatu urusan, maka anak akan merasa bertanggung jawab.

Terakhir, ia mengajak jamaah sedikit demi sedikit belajar media sosial agar bisa mengontrol anak-anak. “Anak-anak lebih suka melihat hal-hal negatif. Jika terus-menerus semakin lama, semakin membuat anak-anak kita berpikiran kotor. Jangan sampai kita kehilangan keadaan di mana anak-anak kita kehilangan kendali,” tutupnya. (#)

Jurnalis Kamas Tontowi Penyunting Sayyidah Nuriyah