
Shahih Bukhari, warisan tak ternilai. Imam Bukhari, pelita ilmu, suluh ketakwaan, jejaknya abadi.
Cahaya Ilmu di Bukhara: Kisah Imam Bukhari Oleh Kholis Ernawati; Dosen Universitas YARSI, Jakarta.
Tagar.co – Di sebuah rumah sederhana di kota Bukhara, seorang ibu duduk dengan penuh harap di samping putranya, Muhammad bin Ismail. Anak itu, yang baru berusia empat tahun, mengalami kebutaan. Matanya yang dahulu berbinar kini tak lagi melihat. Takdir telah mengambil penglihatannya, tetapi tidak dengan semangat dan tekadnya.
Sang ibu, seorang wanita salehah yang memiliki ketakwaan tinggi, tak pernah lelah berdoa kepada Allah agar putranya kembali mendapatkan penglihatannya. Setiap malam, dalam sujud dan air mata, ia memohon, “Ya Allah, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kembalikanlah penglihatan anakku jika itu adalah kebaikan baginya.”
Baca juga: Rahasia Keberkahan: Mulailah Hari dengan Niat!
Waktu berlalu, dan pada suatu malam, sang ibu bermimpi bertemu Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai ibu, sungguh Allah telah mengembalikan kedua mata putramu karena engkau sering berdoa kepada-Nya.” Saat fajar tiba, keajaiban pun terjadi. Muhammad kecil membuka matanya dan melihat dunia kembali.
Seolah memahami bahwa penglihatannya adalah anugerah besar, Muhammad bin Ismail semakin tekun dalam menuntut ilmu. Pada usia 10 tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an, dan di usia 11 tahun, ia mulai menghafal ribuan hadis beserta sanadnya (silsilah periwayat hadis). Bahkan, ia mampu mengoreksi perawi hadis yang keliru dalam menyebutkan sanad.
Ketika berusia 16 tahun, ia telah menghafal seluruh hadis dalam Musnad Abdullah bin Mubarak dan kitab karya Waqi’. Ia pun mulai melakukan perjalanan ke berbagai negeri, termasuk Makkah dan Madinah, untuk belajar dari para ulama. Di usia 18 tahun, ia mulai menulis kitab At-Tarikh di dekat makam Rasulullah ﷺ.
Keilmuan Imam Bukhari semakin diakui setelah beliau melakukan perjalanan ke Baghdad, Bashrah, Kufah, Syam, dan Mesir, berguru kepada lebih dari seribu ulama. Ketika ia tiba di Baghdad, para ulama berkumpul untuk mengujinya. Mereka menyiapkan 100 hadis yang telah diacak sanadnya dan membacakan satu per satu kepadanya. Dengan ketenangan luar biasa, Imam Bukhari hanya menjawab, “Saya tidak tahu.”
Beberapa hadirin mulai meragukannya. Namun, setelah semua hadis selesai dibacakan, Imam Bukhari dengan lancar menyebutkan satu per satu hadis itu dengan sanad yang benar. Keheningan pun menyelimuti ruangan. Para ulama yang sebelumnya ragu kini terdiam dalam kekaguman.
Sebagai bentuk baktinya pada ilmu, Imam Bukhari menyusun karya monumentalnya, Shahih Al-Bukhari, kitab hadis yang paling terpercaya setelah Al-Qur’an. Dari lebih dari 600.000 hadis yang beliau hafal, beliau memilih sekitar 7.275 hadis dengan metode seleksi yang sangat ketat. Para ulama pun mengakui keunggulan kitab ini, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khuzaimah, “Tidak ada manusia di bawah langit ini yang lebih mengetahui hadis daripada Al-Bukhari.”
Keilmuannya tidak menjadikannya terlena oleh dunia. Imam Bukhari dikenal sebagai sosok yang zuhud (menjauhi kemewahan duniawi) dan wara’ (berhati-hati dalam bertindak). Beliau menolak tawaran penguasa untuk mengajar hanya bagi kalangan istana, karena baginya ilmu adalah cahaya yang harus menerangi semua umat, bukan hanya segelintir orang.
Penolakannya menyebabkan beliau difitnah dan diusir dari Bukhara. Dalam perjalanan hijrah ke Samarqand, kesehatannya semakin menurun. Di malam Idulfitri tahun 256 H, dalam usia 62 tahun, Imam Bukhari wafat. Kaum muslimin berbondong-bondong mengantarkan jenazahnya dengan air mata.
Kepergian Imam Bukhori bukanlah akhir. Ilmu yang beliau wariskan terus menyinari dunia Islam. Shahih Al-Bukhari masih menjadi pegangan utama umat Islam, membuktikan bahwa ketekunan, ketakwaan, dan cinta ilmu akan mengabadikan seseorang meski jasadnya telah tiada. “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim)
Referensi: Farid, Syaikh Ahmad. 60 Biografi Ulama Aalaf. Pustaka Al-Kautsar, 2006.
Penyunting Mohammad Nurfatoni












