Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya Martadi di Sekolah Plus, Sabtu 4 Januari 2024 (Tagar.co/Istimewa)
Robot tak akan menggantikan peran guru. Pernyataan Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya Martadi itu mengemuka dalam Upgrading dan Sinergi Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD Muhammadiyah 18 Surabaya.
Surabaya – Di tengah gempuran teknologi dan kecerdasan buatan, peran guru sebagai pendidik justru semakin penting. Hal ini disadari betul oleh SD Muhammadiyah 18 Surabaya.
Sekolah yang dikenal dengan sebutan Sekolah Plus ini tak hanya berpuas diri dengan predikat Sekolah Unggul Madya yang baru saja diraihnya. Demi mewujudkan visi Mencetak Generasi Unggul Berkarakter Islami, SD Muhammadiyah 18 Surabaya terus berupaya meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikannya.
Predikat Sekolah Unggul Madya dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Non Formal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bukanlah hal mudah untuk diraih. Penghargaan yang diberikan pada 26 November 2024 ini merupakan buah manis dari konsistensi SD Muhammadiyah 18 Surabaya dalam meraih prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik di tingkat nasional.
Tak berhenti di situ, sekolah yang berlokasi Jalan Mulyorejo Tengah No. 5 Surabaya ini menggelar kegiatan upgrading guru dan tenaga kependidikan pada Jumat-Sabtu 3-4 Januari 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pendidik dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan pendidikan modern.
Pada hari pertama, Imam Syafi’i, S.S., M.Pd., seorang trainer pendidikan Al-Qur’an, memandu para guru untuk meningkatkan penguasaan metode pembelajaran Al-Qur’an.
Hari kedua kegiatan upgrading semakin menarik dengan kehadiran dua narasumber ternama. Dr. Martadi, M.Sn., Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya, menyampaikan materi bertema “Pendidikan ke Depan: Guru Vs Robot”.
Di era digiral yang serba canggih ini, Dr. Martadi menegaskan, peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan inspirator tidak akan tergantikan oleh teknologi. “Dasar pendidikan adalah kasih sayang, dan inilah yang menjadi kekuatan utama guru di zaman modern,” tegasnya.
Narasumber dan peserta berfoto bersama di Sekolah Plus, Sabtu 4 Januari 2024 (Tagar.co/Istimewa)
Sementara itu, Isa Iskandar, Ketua Forum Guru Muhammadiyah Jawa Timur, memfokuskan pembahasannya pada pengelolaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai inti pembelajaran berbasis deep learning, yang menjadi keunggulan khas SD Muhammadiyah 18 Surabaya. Ia mengajak para guru untuk terus berinovasi dan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan metode pembelajaran modern berbasis teknologi.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 18 Surabaya, Ach. Barizi, menyampaikan optimismenya bahwa program upgrading ini akan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. “Dengan semangat inovasi dan komitmen yang tinggi, SD Muhammadiyah 18 Surabaya terus menegaskan posisinya sebagai sekolah unggulan yang adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya. (#)