
Perebutan kekuasaan di Spanyol menjadikan situasi politik terpecah. Kekuatan politik melemah. Salah satu kubu meminta bantuan kepada penguasa muslim di Maroko. Inilah pintu menguasai Andalusia.
Tagar.co – Suasana Kerajaan Spanyol memanas di tahun 709. Raja Spanyol, Witiza, mencurigai beberapa gubernurnya tak setia lagi.
Salah satu yang dicurigai Theodofredo Balthes, Duke of Cordova. Menurut laporan intelijen dia berencana memberontak. Maka diundangnya penguasa Kordoba itu ke istana di ibukota Toledo.
Dalam pertemuan itu Balthes ditangkap. Kedua matanya dibutakan dengan besi panas. Kemudian dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah.
Pangeran Rodrigo, putra Balthes, tidak terima pengkhianatan raja terhadap bapaknya. Dia ingin membalas dendam dan membeaskan bapaknya.
Dia siapkan perang dengan membentuk pasukan untuk menyerang ibukota. Serangan balas dendam ini memorak-porandakan istana. Menangkap Raja Witiza dan membunuhnya. Rodrigo lantas mengumumkan dirinya sebagai Raja Spanyol baru.
Keluarga Witiza yang masih hidup menjadi pelarian menuju ke wilayah selatan. Kemudian naik kapal menyeberang ke pesisir Afrika Utara. Mendarat ke kota Ceuta atau Sabtah.
Kota di ujung Afrika Utara itu dikuasai bangsa Goth dari Spanyol, walaupun tanah di sekelilingnya sudah ditaklukkan pasukan muslim pimpinan Musa bin Nushair dari Kekalifahan Umayah.
Penguasa kota Ceuta adalah Pangeran Julian, kerabat Raja Witiza. Setahun setelah kudeta raja itu yakni tahun 710 M, Pangeran Julian bersama keluarga Witiza mendatangi istana Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nushair, di kota Kairwan.
Kedatangan bangsawan Goth ini meminta bantuan penguasa Islam agar menyerang Spanyol untuk menurunkan Rodrigo dan menobatkan kembali keturunan Raja Witiza.
Gibraltar
Di ujung tahun, Kalifah Walid I di Damaskus menyetujui permintaan keluarga Witiza dan memerintahkan Musa bin Nushair memimpin pasukan. Maka berangkatlah pasukan besar terdiri dari prajurit Arab dan Barbar (Maroko) menuju Ceuta, kota yang berada di selat sempit berseberangan dengan Spanyol.
Puluhan kapal telah disiapkan untuk menyeberang ke wilayah Andalusia. Pimpinan pasukan armada laut ini diserahkan kepada prajurit Barbar, Thariq bin Ziyad. Pangeran Julian dan pasukannya turut serta sebagai penunjuk jalan.
Awal tahun 711, armada laut ini mendarat di pantai berbukit batu di semenanjung Iberia, daerah Andalusia. Setelah pasukan muslim menguasai pantai maka bukit batu di situ kemudian disebut sebagai Jabal Thariq. Bukit Thariq. Orang Barat melafalkan dengan Gibraltar. Sebutan itu sebagai tanda sejarah. Di tanah itulah titik pertama pasukan muslim mendarat di benua Eropa.
Ketika semua pasukan telah mendarat dan persiapan perang dimulai tanpa diduga Panglima Thariq memerintahkan membakar semua kapal.
Saat kapal-kapal hangus terbakar, Thariq berkata lantang kepada pasukannya,”Musuh ada di depanmu, laut di belakangmu. Silakan pilih mana yang kamu suka.”
Khutbah singkat itu menggelorakan semangat jihad pasukan muslim. Mereka pun memilih maju menantang musuh untuk menaklukan tanah dan bangsa asing ini.
Rupanya pendaratan pasukan muslim dari Afrika Utara ini sudah tersiar di ibukota Toledo. Raja Rodrigo langsung menggalang pasukan besar untuk menghadapi perang di wilayah selatan.
Bertemulah dua pasukan ini di Guadalete di dekat sungai Rio Barbete. Pertempuran berkecamuk seru. Bunuh membunuh. Militansi pasukan muslim yang jumlahnya kecil mampu mengatasi prajurit Spanyol hingga kocar-kacir.
Sisa prajuritnya lari menyelamatkan diri bersama Raja Rodrigo dengan menyeberangi Rio Barbete. Namun nahas, raja yang baru berkuasa dua tahun itu malah tenggelam dan mati.
Titik Penentu
Kemenangan ini menjadi titik penentu sejarah. Pasukan muslim terus bergerak ke utara menaklukkan kota-kota lainnya. Tak lama sesudah itu dikuasainya kota Ecija, Kordoba, dan ibukota Toledo.
Jatuhnya istana raja Spanyol di ibukota menjadikan pasukan Thariq bin Ziyad sangat gampang menguasai kota-kota berikutnya seperti Alcala de Henares, Guadalajara, Saragosa, hingga wilayah Navarre di kaki pengunungan Pyrene.
Setelah itu pasukan menuju barat memasuki daerah Leon merebut kota Astorga, dekat Teluk Biscaye.
Serangan pasukan muslim ini menunjukkan kekuasaan yang dibangun Raja Rodrigo hasil kudeta itu masih rapuh. Prajurit tidak sepenuh hati mendukungnya sehingga semangat tempurnya kurang. Rakyat juga apatis dengan perang ini karena beban pajak yang dikutip sangat besar untuk mengisi kas negara.
Pengusaha dan intelektual Yahudi sebagai kelas menengah di Spanyol lebih suka dengan kedatangan pasukan Islam karena ingin bebas dari diskriminasi dan penindasan rezim penguasa yang sejak Konsili Toledo memaksa warganya menganut Kristen.
Di sisi lain, di antara penduduk Spanyol masih ada penganut Kristen Unitarian yang mengesakan Allah dan menganggap Yesus adalah manusia biasa yang menjadi nabi.
Kelompok ini juga ditindas penguasa yang beraliran Trinitas. Maka mereka pun menyambut pasukan muslim yang agamanya senafas dengan keyakinan mereka.
Berita kemenangan pasukan Thariq ini membuat Gubernur Musa bin Nushair bersemangat. Dia memimpin sendiri pasukan bantuan menyeberang ke tanah Iberia pada tahun 712 M.
Pasukannya menguasai wilayah barat seperti Carmona, Sevila, Merida, Aragon dan merebut kembali kota Guadalajara dan Saragosa.
Anak Gubernur Musa, Abdul Aziz, yang ditempatkan di Sevila, memimpin pasukan menguasai daerah barat seperti Nieblo, Beja, Evora, Lisboa, Santarem, Coimbro.
Hingga tahun 714 semua kota besar sudah ditaklukan seperti Malaga, Granada, Murcia, Orihuela, Valencia, kepulauan Balearik, pulau Mayorca, dan Minorca
Inilah era awal Eropa dimuslimkan dengan Abdul Aziz bin Musa dinobatkan sebagai penguasa mewakili Khalifah Walid I.
Kawasan muslim ini kelak dikenal dengan sebutan Andalusia, merujuk kepada suku Vandal, penduduk awal tanah itu. Vandaluzia berarti tanah orang Vandal lantas populer dengan sebutan Andalusia. Di tanah inilah sinar Islam pernah menerangi Eropa. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto







