Feature

113 Tahun Muhammadiyah: Inovasi Digital Jadi Keniscayaan

40
×

113 Tahun Muhammadiyah: Inovasi Digital Jadi Keniscayaan

Sebarkan artikel ini

Memasuki usia 113 tahun, Muhammadiyah menghadapi gelombang digitalisasi dan tantangan baru. Dari pendidikan hingga dakwah, organisasi ini harus merumuskan strategi inovatif agar tetap relevan dan memimpin di era informasi instan.

Oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas; Pemerhati Teknologi

Tagar.co — Memasuki usia ke-113, Muhammadiyah kembali berada di titik krusial. Organisasi yang selama ini dikenal dengan spirit pembaruan kini berhadapan dengan tantangan baru yang jauh lebih kompleks: percepatan teknologi digital, budaya informasi instan, serta perubahan perilaku masyarakat yang bergerak cepat dan tidak selalu rasional.

Momentum milad tahun ini menjadi cermin penting. Muhammadiyah memang telah melangkah lebih dulu dalam pendidikan, kesehatan, dan dakwah. Namun, di tengah gelombang kecerdasan buatan, otomatisasi, dan ekosistem digital yang makin dominan, langkah-langkah tersebut perlu diperbarui dengan strategi yang lebih sistematis.

Baca juga: Kelas Digital: Antara Kemajuan dan Ilusi Modernitas

Di ranah pendidikan, sekolah dan kampus Muhammadiyah sudah mulai menerapkan pembelajaran digital, LMS, hingga media berbasis augmented reality. Tapi, masih ada kesenjangan besar antar-daerah.

Baca Juga:  Dari Balik Kamera, Aini Jadi Bintang di Workshop Menulis Berita

Tidak semua sekolah siap dengan infrastruktur, tidak semua guru memiliki kompetensi literasi digital yang memadai, dan tidak semua kebijakan sekolah selaras dengan kebutuhan era baru. Tanpa standarisasi yang jelas, digitalisasi bisa berhenti sebagai proyek parsial—bukan transformasi menyeluruh.

Sektor dakwah juga memasuki babak baru yang jauh dari mudah. Media sosial membuka akses luas, tetapi juga menjadi ruang yang rawan manipulasi, hoaks agama, dan provokasi.

Tantangannya adalah bagaimana Muhammadiyah memastikan narasi Islam Berkemajuan tetap relevan dan kuat di tengah kultur digital yang sering memprioritaskan emosi ketimbang nalar. Dakwah yang dulu identik dengan pengajian fisik kini harus bersaing dengan algoritma TikTok, kecepatan feed, serta persepsi publik yang dibentuk oleh visual.

Sementara itu, di sektor kesehatan, rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah terus mempercepat digitalisasi layanan. Namun, persoalan keamanan data, integrasi sistem, hingga kesiapan tenaga medis menghadapi teknologi baru masih menjadi pekerjaan rumah. Di era digital, gangguan siber bukan lagi hal yang jauh dari kemungkinan.

Baca Juga:  Anak Sekecil Itu kok Bisa Bunuh Diri?

Tantangan Terbesar

Tantangan terbesar Muhammadiyah justru terletak pada arah strategis menghadapi masa depan, bukan sekadar penggunaan teknologi. Pertanyaan pentingnya: apakah Muhammadiyah hanya menjadi konsumen teknologi, atau mampu menjadi penggerak yang memproduksi konten, sistem, dan inovasi digital sendiri?

Pimpinan pusat menegaskan bahwa teknologi harus dikuasai, bukan ditakuti. Tetapi, penguasaan itu tidak akan terjadi tanpa peta jalan yang jelas: penguatan literasi digital warga persyarikatan, pelatihan masif untuk guru dan kader, hingga integrasi data dan sistem di seluruh amal usaha.

Di usia 113 tahun, Muhammadiyah kembali diuji oleh zaman. Jika dulu pembaruan dilakukan melalui pendidikan dan gerakan sosial, kini pembaruan harus hadir dalam bentuk inovasi digital yang terukur dan berkelanjutan.

Perserikatan memiliki modal besar untuk itu—jaringan luas, SDM kompeten, dan reputasi moral yang kuat. Yang dibutuhkan hanya satu: keberanian merumuskan langkah strategis yang lebih berani daripada tantangannya.

Dengan begitu, Muhammadiyah tidak hanya bertahan di tengah perubahan. Ia akan tetap memimpin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni